Alhamdulillah, saya disampaikan juga oleh Allah kepada bulan Ramadhan tahun ini. Well, tahun ini puasanya agak beda, karena dilakukan di Jepang. Apa aja yang beda? Yang pertama, beda waktunya karena waktu puasa berubah begitu cepat. Contohnya, tanggal 1 Ramadhan azan shubuhnya jam 03:55, dan maghribnya jam 18:19. Berlanjut ke tanggal 30 Ramadhan, dimana azan shubuh jam 4:21, dan maghribnya jam 17:37. Cepat kan? Nah, yang kedua beda menunya, karena nggak ada ngantri es shanghai Fadhilah, kolak pisang, atau es kelapa kayak di Bandung. Boleh aja sih jualan kolak di pinggir jalan, tapi mungkin besoknya dipulangkan ke Indonesia (secara paksa, tentunya). Dan yang ketiga, beda tarawihnya, karena jumlah makmumnya sedikit, tidak seperti di Indonesia yang masif (apalagi kalau minggu-minggu pertama).
Ngomong-ngomong tarawih, di daerah saya, Toyonaka, tarawihnya dilakukan di Ryuugakusei Kaikan (Asrama Mahasiswa Luar Negeri). Lokasinya di dalam kampus Osaka University. Di sini, tarawih biasanya dimulai jam 20:00 dan selesai jam 21:30. Lho kok lama sekali? Apa pasal? Ternyata satu kali tarawih imamnya baca setengah juz. Dengan kata lain, satu rakaat satu halaman. Lumayan juga kalau nggak terbiasa, ada perasaan gempor, he he… Kalau di Bandung di mana ya yang seperti itu…? Di masjid Salman bukan?
Nah, entah kenapa sewaktu hari pertama ikut tarawih di sini, saya jadi terkenang pada bulan Ramadhan saat saya masih SMA, tepatnya kelas 2 dan 3 SMA. Kedua bulan Ramadhan tersebut benar-benar spesial buat saya. Mengapa? Yang waktu kelas 2 SMA, adalah bulan Ramadhan dimana pertama kalinya saya mengikuti itikaf. Sedangkan yang waktu kelas 3 SMA, adalah bulan Ramadhan dimana pertama kalinya saya mencoba menghafal al-Quran — dimulai dari juz 1.
Kenangan tentang menghafal juz 1 berlanjut. Waktu pertama kali menghafalkan juz ini, wah… susaaa….ah sekali!!! Bayangkan, satu bulan penuh cuma dapat 10 halaman. Mungkin selain karena menghafal di tengah sibuknya sekolah dan les, juga karena belum terbiasa. Nah, lebih parah lagi sewaktu sudah masuk di 10 hari terakhir. Bayangkan, sekolah belum juga libur — Masih ada sejibun kegiatan DKM yang bernama Takbir (Tadabbur Akbar Bulan Suci Ramadhan), padahal sudah mendekati lebaran! Isogashii (sibuk) datta yo naa…
Untung pas itikaf, jadwal saya menjadi agak longgar. Sehingga, saya bisa menghafal pagi, siang, dan juga malam hari. Tapi ya namanya newbie… kemampuan menghafalnya ya cupu lah. Paginya ingat, siangnya lupa. Siangnya ingat, eh malamnya lupa. Hal ini diperburuk dengan bacaan saya yang belepotan bin bleleran (eh ternyata benar lho, sebelum menghafal harus sempurnakan tajwid dulu). Saking belepotannya, saya teringat omelan seorang kakak kelas waktu saya menyetor hafalan padanya di suatu malam: “Ente becus nda sih baca Quran! salah, ini!… salah! Kurang panjang…! Kurang ditahan…!”
Hueeekkk!!! Huaaaa… hidoi (kejam)…
Meskipun demikian, jenak-jenak pertama kali menghafal Quran tersebut sungguh menjadi pengalaman berharga bagi saya. Ibaratnya, saya seperti sebuah roket yang berusaha meluncur ke luar angkasa. Ada tarikan gravitasi yang teramat kuat, yang memaksa untuk berhenti, kembali, ke awal lagi… Nah… masalahnya apakah saya berhasil lolos dari “tarikan” gravitasi yang teramat kuat itu?
Ternyata tidak! Saya tidak berhasil keluar dari medan gravitasi itu, he2… as a proof, sesudah Ramadhan masih tahfidznya masih sedikit dilanjutkan, tapi karena susah… hanya sampai juz 1 halaman ke-15 saja. Hehe, dasar penghafal lebay…
Nah… cerita di atas waktu kelas 3 SMA. Sedangkan ketika masuk S1 tingkat 1 (Informatika ITB, je!), saya nyoba nerusin lagi hafalan saya, menyelesaikan juz 1. Saya teringat… waktu itu diberikan walkman AIWA murah oleh Bapak, yang suaranya mono dan stereo jack-nya rusak. Dibandingkan walkman Sony si Jackun yang suaranya cespleng, walkman saya itu benar-benar berbeda kasta. Namun apalah artinya merk. Cuek beibeh, coba-coba membeli sebuah kaset murratal Syekh Suraim & Sudais, made in Saudi Arabia (dan terbajak di Indonesia).
Eh… setelah mendengarkan Pak Suraim dan Sudais mengaji, benar juga kata si kakak kelas yg omelin saya itu… ternyata bacaan saya belepotan di sana-sini. Ya sudah, saya coba saja ikuti bacaan si Bapak (Pak Suraim, bukan bapak saya) secara an-sich. Eh-ala… ternyata susah sekali mengikuti bacaan beliau. Apa pasal? Suraim dan Sudais itu suaranya tinggi, melengking, dan high speed. Mengikutinya, suara saya sering habis dan serak. Oh ya, satu lagi yang menyebalkan adalah waktu kasetnya mentok, harus me-rewind kaset! Bayangkan saya harus rewind sekitar 10 kali setiap menghafal. Buaaahhh..! Menghabiskan waktu!!! Tapi akhirnya…! Setelah perjuangan berdarah-darah, selesai juga juz 1 itu. Saya ingat sekali, waktu itu saya mentraktir diri saya sendiri dengan sepiring nasi goreng (idih autis banget nggak sih?)…
Setelah itu, hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun selalu berlalu dengan menghafal Quran. Kalau mau jujur, menghafal Quran buat saya banyak dukanya. Nih bayangkan…
Ah… kalau saja Quran bisa berbicara tentang saya (dan ia akan bicara di hari pembalasan), apa yang akan ia katakan ya? Memperlakukannya berulang kali seperti itu… habislah saya…
Tapi saya yakin…!
Bahwa menghafal itu hanya sebuah permulaan… masih ada puluhan tahun ke depan untuk terus menyelesaikan hafalan, menyempurnakannya sampai tidak ada yang lupa, dan yang paling penting… mengamalkannya ajaran di dalamnya…. sampai ajal menjemput
Kalaupun saya banyak khilaf karena tidak sesuai dengan Quran, saya harus berdoa, terus dan terus bertaubat… saya teringat kata-kata Bapak (kali ini Bapak saya, bukan Pak Sudais), “Uqi, kalau Uqi jatuh, ingat bahwa itu hanya sebuah titik nadir kehidupan… Ada masa depan yang panjang untuk memperbaiki kesalahan dan menjadi lebih baik…”
… terus berusaha, supaya menjadi seorang sahabat al-Quran.
…
…
…
Ah… Seandainya saja orang mengetahui bahwa Nabi bersabda…
…pasti orang-orang juga akan berlomba-lomba menghafal al-Quran.
Soredewa, ganbatte kudasai… ganbatte-ganbatte-ganbatte!
Nice post bro! Makasih sudah ngingetin dengan tulisannya. Qi, nulis ttg tips menghafal Qur’an dong.. Ditunggu!
wah…keep fight bro…aku mendukungmu!!btw, pasti dah banyak apalannya ya…ngiri aku..hhehehe
wah tulisan mas ismail bikin aku terharu ru…ru…
aku baru aja coba mhafal juz 30,masih kurang sekitar 12 surat hik…sempat berfikir buat apa menghafal ayat al qur’an dan tak sengaja mendengarkan suatu pengajian di O’channel “untuk menuju kemuliaan”suatu alasan yg sangat indah menurut saya dan hari ini saya mendapat jawaban yg lebih lengkap lagi..
terimakasih skali lagi ya..klo boleh menilai sepertinya anda ini orangnya funky,rada2 slebor tapi qurani ya…jangan gr loh