<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Uqi`s Life Note &#187; Cinta dan Keluarga</title>
	<atom:link href="http://ismailfaruqi.jepang.info/category/cinta-dan-keluarga/id/feed/id/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ismailfaruqi.jepang.info</link>
	<description></description>
	<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 01:47:54 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
	<language>id</language>
			<item>
		<title>Pria, Anda Juga Harus Ikut Mendidik Anak</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/07/02/pria-anda-juga-harus-mendidik-anak/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/07/02/pria-anda-juga-harus-mendidik-anak/id/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jul 2007 15:09:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cinta dan Keluarga]]></category>

		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/2007/07/02/pria-anda-juga-harus-mendidik-anak/</guid>
		<description><![CDATA[Bahkan anda yang menentukan visinya. Kira-kira begitulah yang saya tangkap sesudah membaca artikel tentang Wirianingsih, ibu 3 orang hafidz/hafidzah, dan 8 orang calon hafidz/hafidzah lainnya. Untuk saya, artikel ini cukup heartstabbing. Mengapa? Karena hal ini membuka mata bahwa peran laki-laki tidak hanya mencari nafkah. Justru yang sering dilupakan adalah peran laki-laki dalam mendidik anaknya. Berikut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bahkan <em>anda</em> yang menentukan visinya. Kira-kira begitulah yang saya tangkap sesudah membaca artikel tentang Wirianingsih, ibu 3 orang hafidz/hafidzah, dan 8 orang calon hafidz/hafidzah lainnya. Untuk saya, artikel ini cukup <em>heartstabbing</em>. Mengapa? Karena hal ini membuka mata bahwa peran laki-laki tidak hanya mencari nafkah. Justru yang sering dilupakan adalah peran laki-laki dalam mendidik anaknya. Berikut ini adalah cuplikannya:</p>
<p><span id="more-80"></span><em>[--start of cuplikan--] </em></p>
<p>Wiwi yang hobi membaca ini sudah mulai mendalami nilai-nilai kisah para nabi, orang-orang shalih, dan para ulama besar. Salah satu buku yang dibacanya adalah tentang kisah 30 orang-orang besar di zamannya. Ia mengatakan, &#8220;Saya mencoba meneliti itu, dan saya menemukan benang merah, bahwa keberhasilan pendidikan anak adalah di rumah dan hasil integrasi kedua orang tua, bapak dan ibunya.&#8221;</p>
<p>Saat menyinggung masalah ini, Wiwi mengungkap pula soal keprihatinannya akan paradigma yang keliru dalam pendidikan anak. Sekarang ini, katanya, banyak kaum ibu yang menjadi penanggung jawab utama pendidikan anak-anak. Sementara kaum bapak, banyak beraktifitas di luar rumah. Padahal, tandasnya, keberhasilan pendidikan anak adalah hasil integrasi dari seorang ayah dan ibu dari anak-anak. Bahkan bila dispesifikasi lagi fungsi keduanya, maka <strong>tanggung jawab pendidikan itu ada pada ayahnya, bukan pada ibunya</strong>. Tema ini pula yang menjadi fokus penelitian Wiwi beberapa waktu terakhir dalam proses pendidikan S2-nya. Ia lalu mencontohkan bagaimana Rasulullah saw justru memanggil sang ayah ketika ada seorang anak yang mencuri.</p>
<p>&#8220;Yang dipanggil adalah ayahnya, bukan ibunya. Lalu sang anak pun menyampaikan bagaimana ayanya tidak memberikan ibu yang baik baginya, tidak memberikan pendidikan yang baik untuknya dan tidak memberi nama yang baik kepadanya,&#8221; ujar Wiwi.</p>
<p>Ia juga merinci sedikit bagaimana pandangan Al Quran soal pendidikan selalu mengarah pada sang ayah utamanya, bukan ibu. &#8220;Bahkan kalau kita baca buku <em>Tarbiyatul Aulad</em>-nya Abdullah Nashih Ulwan, kisah-kisah yang disampaikan itu selalu kisah seorang ayah mendidik anaknya. Yang sangat fenomenal justru Luqman, bagaimana ia memanggil anaknya dengan lemah lembut. Ini penting kita lihat, karena seperti inilah Al Qur&#8217;an mengulas peran sang ayah dalam pembentukan anak-anaknya. Kita lihat juga Nabiyullah Ibrahim alaihissalam, bagaimana ia berhasil men-tarbiyah isteri dan anaknya. Jadi kesimpulannya adalah, yang membangun visinya adalah ayah, dan istrinya yang mengisi kerangka itu.</p>
<p>Tentang peran ayah yang melandasi sepak terjang istri dalam keberhasilan mendidik anak juga disampaikannya dari sejarah orang-orang shalih. Wiwi mengatakan,</p>
<p>&#8220;Saya coba buktikan, Imam Syafi&#8217;i memang ditinggal wafat ayahnya ketika ia berusia enam tahun. Tapi isi kepala ayahny itu sudah dipindahkan kepada sang ibu, jadi ibunya lah yang meneruskan.. Kita lihat bagaimana si ibu mendidik Imam Syafi&#8217;i itu karena sudah diwarisi oleh nilai suaminya. Lihat pula Imam Ghazali, yang ditinggal wafat ayahnya saat ia berusia enam tahun. Kita lihat juga Imam Hasan al-Banna, bagaimana sentuhan pendidikan yang sangat kuat mewarnainya adalah ayahnya. Baca juga buku <em>Mu&#8217;ayasyah ma&#8217;al Quran</em>-nya Yusuf al-Qaradhawy yang sepuluh tahun hafal al-Quran. Ternyata yang mendidiknya seperti itu juga adalah ayahnya. Ia menuliskan,</p>
<p>&#8220;Dahulu saya tidak tahu mengapa ayah saya begitu mengkondisikan saya untuk hafal Qur&#8217;an di usia sepuluh tahun.&#8221;</p>
<p>Saya lihat semua itu ada benang merah, dan kenyataan yang saya alami juga begitu. Saya tidak mungkin bisa mendidik anak-anak saya sebelas orang, kecuali karena karunia Allah melalui seorang suami yang memahami tentang pendidikan anak.&#8221;</p>
<p><em>[--end of cuplikan--]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/07/02/pria-anda-juga-harus-mendidik-anak/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Anak-anak Belajar dari Kehidupan</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/06/06/anak-anak-belajar-dari-kehidupan/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/06/06/anak-anak-belajar-dari-kehidupan/id/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jun 2007 02:55:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cinta dan Keluarga]]></category>

		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/2007/06/06/anak-anak-belajar-dari-kehidupan/</guid>
		<description><![CDATA[Ada sebuah puisi yang sangat indah tentang anak-anak. Saat ini, puisi tersebut saya jadikan &#8220;kode etik&#8221; saat mengajar anak ideologis saya (murid-murid TPA). Semoga puisi ini tetap menjadi kode etik jika sudah saatnya mendidik anak biologis saya.
Mudah-mudahan puisi ini tidak lekang dimakan waktu.

&#160;
 Anak-anak Belajar dari Kehidupan
Jika anak hidup dengan kritikan, ia akan belajar untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada sebuah puisi yang sangat indah tentang anak-anak. Saat ini, puisi tersebut saya jadikan &#8220;kode etik&#8221; saat mengajar anak ideologis saya (murid-murid TPA). Semoga puisi ini tetap menjadi kode etik jika sudah saatnya mendidik anak biologis saya.</p>
<p>Mudah-mudahan puisi ini tidak lekang dimakan waktu.<br />
<span id="more-62"></span></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><strong> Anak-anak Belajar dari Kehidupan</strong></p>
<p align="center"><em>Jika anak hidup dengan kritikan, ia akan belajar untuk mengutuk</em></p>
<p align="center"><em>Jika anak hidup dengan kekerasan, ia akan belajar untuk melawan</em></p>
<p align="center"><em>Jika anak hidup dengan ejekan, ia akan belajar untuk menjadi pemalu</em></p>
<p align="center"><em>Jika anak hidup dengan dipermalukan, ia akan belajar merasa bersalah</em></p>
<p align="center"><em>Jika anak hidup dengan toleransi, ia akan belajar bersabar</em></p>
<p align="center"><em>Jika anak hidup dengan dorongan, ia akan belajar percaya diri</em></p>
<p align="center"><em>Jika anak hidup dengan pujian, ia akan belajar menghargai</em></p>
<p align="center"><em>Jika anak hidup dengan tindakan jujur, ia akan belajar tentang keadilan</em></p>
<p align="center"><em>Jika anak hidup dengan rasa aman, ia akan belajar mempercayai</em></p>
<p align="center"><em>Jika anak hidup dengan persetujuan, ia akan belajar untuk menghargai dirinya</em></p>
<p align="center"><em>Jika anak hidup dengan cinta dan persahabatan,</em></p>
<p align="center"><em>ia akan belajar untuk menemukan cinta di muka bumi ini.</em></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="right"><strong>(taken from &#8220;Emotional Quality Management&#8221;) </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/06/06/anak-anak-belajar-dari-kehidupan/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Lukman, Model Ayah Panutan</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/05/19/lukman-model-ayah-panutan/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/05/19/lukman-model-ayah-panutan/id/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 May 2007 07:11:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cinta dan Keluarga]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/2007/05/19/lukman-model-ayah-panutan/</guid>
		<description><![CDATA[Lukman, nama yang telah kita kenal dalam al-Quran, merupakan teladan yang baik dalam mendidik anak. Ini adalah sedikit renungan tentang untaian ayat-ayat yang menceritakan keagungan beliau.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Lukman. Orang yang ingin saya bicarakan kali ini bukan Lukman Hakim teman saya, melainkan Lukman al-Hakim yang namanya tertera di dalam al-Quran. Biasanya, orang yang namanya diabadikan dalam al-Quran memiliki <em>outstanding achievement</em>, sehingga Allah SWT ingin agar segenap manusia sampai akhir zaman mengambil pelajaran darinya. Pelajaran itu bisa saja diambil orang yang melakukan banyak kebaikan, seperti Adam, Sulaiman, Isa, Khaidir, dan Muhammad, atau melakukan kejahatan seperti Qarun, Abu Lahab, atau Firaun. Nama “Lukman” sendiri diabadikan sebagai judul surat ke-31 dalam Al-Quran. Dalam surat itu, Allah SWT menyediakan 1 halaman penuh pelajaran tentangnya untuk kita ambil. Pelajaran apakah itu? Apakah pelajaran seorang nabi tentang bagaimana menjadi nabi? Ternyata bukan, melainkan… pelajaran seorang ayah tentang bagaimana menjadi ayah (ceila).</p>
<p><span id="more-38"></span></p>
<p class="MsoNormal"><strong>AJARAN LUKMAN</strong></p>
<p class="MsoNormal">Ayah adalah seorang pendidik keluarganya. Ajarannya adalah perisai yang melindungi anggota keluarganya dari api neraka. Begitu pula sosok seorang Lukman. Maka ajaran pertama yang ia berikan kepadanya adalah <em>Tauhid</em>.</p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: #0000ff;">“Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”</span> <strong>(QS Lukman:13)</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Tauhid</strong>. Ajaran pertama ini menerangkan bagaimana menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya <em>ilah</em>, dan menolak tuhan-tuhan lain selain-Nya. Bagaimana mengikhlaskan segalanya untuk Allah semata. Tauhid-lah yang membedakan kesudahan setiap manusia. Maka sudah seharusnya seorang ayah mengajarkan tauhid sebagai awal bagi keluarganya. Apa pelajaran kedua?</p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: #0000ff;">“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun&#8230;”</span> <strong>(QS Lukman: 14)</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Berbakti kepada orang tua</strong>. Inilah pelajaran kedua. Tanpa mereka berdua kita tidak dapat merasakan nikmatnya hidup. Tapi mengapa <em>ibu</em> yang yang ditekankan? Karena ibu jelas lebih menyayangi kita. Ia adalah wanita, yang diciptakan memiliki <span style="text-decoration: underline;">perasaan </span>lebih dibandingkan laki-laki. Coba jika anaknya sakit, apa kata ibu?</p>
<p class="MsoNormal"><em>“Ya Allah, pindahkan rasa sakit anakku kepadaku agar ia tidak menderita…”</em></p>
<p class="MsoNormal">Apa kata ayah? Ia lebih memiliki logika, mungkin ia akan mengatakan,</p>
<p class="MsoNormal"><em>“Wah, kalau sakitnya dipindahkan padaku, bagaimana aku bisa mencari nafkah untuk menghidupi keluargaku?”</em></p>
<p class="MsoNormal">Nah lho. Lagipula, yang menanggung rasa sakit selama 9 bulan bukan ayah, tapi ibu. Yang berjuang melawan kematian saat melahirkan bukan ayah, tapi ibu. Yang memberi ASI –yang kandungan gizinya tak tergantikan oleh susu lain- selama dua tahun bukan ayah, tapi ibu. Jadi wajar dong… kalau ibu harus lebih dicintai. Wajar dong… kalau surga ada di bawah telapak kaki ibu.</p>
<p class="MsoNormal">Bagaimana jika ibu dan ayah menyuruh kita kepada sesuatu yang bertentangan dengan perintah Allah SWT? Mana yang harus kita dahulukan, Allah-kah atau ibu dan ayah-kah?</p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: #0000ff;">“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak mempunyai ilmu tentangnya, maka janganlah engkau menaati keduanya. <span style="text-decoration: underline;">Dan pergauilah keduanya dengan baik</span>, dan ikutilah jalan orang yang kembali ke jalan-Ku”</span> <strong>(QS Lukman: 15)</strong></p>
<p class="MsoNormal">Jika hal seperti itu terjadi, Allah-lah yang harus kita dahulukan. Tapi ingat, kewajiban seorang anak untuk berbakti kepada orang tuanya tetap ada. Ia harus tetap menyayangi orang tuanya walaupun mereka berbeda iman. Sungguh indah Islam dalam menghargai ibu dan ayah.</p>
<p class="MsoNormal">Berikutnya, apa lagi yang Lukman ajarkan kepada keluarganya?</p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: #0000ff;">“Wahai anakku! Sungguh jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu, atau di langit, atau dibumi… niscaya Allah akan memberinya <span style="text-decoration: underline;">balasan</span>. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Teliti.”</span> <strong>(QS Lukman: 16)</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Takut kepada Allah</strong>. Pelajaran ketiga ini adalah <em>inti</em> dari kelakuan seseorang. Lukman mengajarkan anggota keluarganya agar tidak korupsi, tidak membunuh, tidak berbohong karena takut kepada Allah. Sebelum semua hukum, semua sanksi, dan semua sistem untuk mengatur kehidupan manusia dibuat, manusia itu harus takut kepada Allah terlebih dahulu. Buang rasa takutmu pada-Allah, maka engkau bebas melakukan apa saja. Iya kan? Kita sudah melihat buktinya di negeri kita ini…</p>
<p class="MsoNormal">Berikutnya (ayat 17-19), Lukman menyuruh pada kita agar menegakkan shalat, amar ma’ruf nahi munkar, bersabar atas apa yang menimpa kita, melarang sombong dan membanggakan diri dalam berinteraksi dengan sesama manusia, berjalan tanpa rasa angkuh, dan melunakkan suara. Subhanallah, Lukman telah menunjukkan apa yang harus dilakukan sebagai seorang ayah.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>KUNCI SUKSES LUKMAN</strong></p>
<p class="MsoNormal">Mengapa Lukman sukses sebagai seorang ayah? Allah SWT menjelaskan sebabnya bahwa,</p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: #0000ff;">“Dan sungguh telah Kami berikan <span style="text-decoration: underline;">hikmah</span> kepada Lukman…”</span> <strong>(QS Lukman: 12)</strong></p>
<p class="MsoNormal">Kuncinya sukses Lukman adalah hikmah. Apa itu hikmah? Para ulama sepakat bahwa hikmah adalah <span style="text-decoration: underline;">pemahaman tentang agama yang benar, detail, dan komprehensif</span>. Siapa yang memiliki pemahaman agama yang benar, ia telah diberi kebaikan yang banyaaa..ak sekali dari Allah. Bisa nggak kita diberi hikmah seperti Lukman?</p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: #0000ff;">“Dia memberikan hikmah<span style="text-decoration: underline;"> kepada siapa yang Dia kehendaki</span>. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali <span style="text-decoration: underline;">ulul-albaab</span>.”</span> <strong>(QS Al-Baqarah: 269)</strong></p>
<p class="MsoNormal">Ups, ternyata hikmah adalah hak prerogatif Allah! Tidak semua orang diberikan hikmah! Jumlah orang yang memiliki pemahaman agama yang komprehensif itu ternyata <em>sedikit</em>. Makanya jika ada headline berita:</p>
<h3><span style="color: #ff0000;">“5000 ulama berkumpul di Jawa Timur untuk melakukan istighosah…”</span></h3>
<p class="MsoNormal">Itu tandanya di Indonesia tengah terjadi <em>inflasi </em>ulama, he he. Lantas, kalau hikmah adalah hak Allah, bagaimana kita dapat mengambil hikmah? Untungnya, pada ayat di atas Allah menyebutkan bahwa <em>probabilitas tertinggi</em> orang yang diberi hikmah oleh Allah ada pada <em>ulil-albab</em>. Siapa itu? Ulil-albab dijelaskan Allah pada ayat yang kita sering dengar, bahwa mereka adalah,</p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: #0000ff;">“…orang-orang yang mengingat Allah sambil <strong>berdiri, duduk, atau berbaring</strong>, dan mereka memikirkan tentang <strong>penciptaan langit dan bumi,</strong> (seraya berkata,) “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, lindungi kami dari azab neraka.”</span> <strong>(QS Ali-Imran: 191)</strong></p>
<p class="MsoNormal">Jelas kan? Ulil-albab, orang yang memiliki probabilitas tertinggi untuk diberi hikmah adalah orang yang:</p>
<ol>
<li><span></span>Selalu mengingat Allah dalam seluruh aktivitas hidupnya (berdiri, duduk, dan berbaring). Ia memperhatikan ayat qauliyah-Nya,<span><span><span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-family: 'Times New Roman';"> </span></span></span></li>
<li>Selalu memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. Ia memperhatikan ayat kauniyah-Nya, dan<span><span> </span></span></li>
<li>Sebagai hasil tafakkur-nya pada ayat kauliyah dan kauniyah Allah, ia menarik kesimpulan: “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia”.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal">Nah, ulil-albab seperti itulah yang dapat menjadi seorang ayah seperti Lukman, yang senantiasa memberi pelajaran berharga pada keluarganya, serta bersyukur kepada Allah. Itulah kematangan spiritual yang dibutuhkan seorang ayah dari seorang pria saat ia menyerahkan perwalian anak gadisnya kepada pria tersebut (ceila..). <em>Marriage isn’t just about loving and feeding, isn&#8217;t it? It&#8217;s also guiding and teaching&#8230; </em></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">“Btw Qi, cem mana kau ini ngalor-ngidul tentang ayah, mang loe dah siap?”</p>
<p class="MsoNormal">Haha, maaf kk, belum… entah kapan… <img src='http://ismailfaruqi.jepang.info/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/05/19/lukman-model-ayah-panutan/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

