<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Uqi`s Life Note &#187; Diary</title>
	<atom:link href="http://ismailfaruqi.jepang.info/category/diary/id/feed/id/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ismailfaruqi.jepang.info</link>
	<description></description>
	<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 01:47:54 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
	<language>id</language>
			<item>
		<title>Ramadhan di Osaka</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/10/21/ramadhan-di-osaka/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/10/21/ramadhan-di-osaka/id/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Oct 2008 16:45:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.jepang.info/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[Tahun ini cukup unik, karena menjadi pengalaman pertama saya melewati Ramadhan di negeri Sakura. Alhamdulillah, Osaka yang merupakan tempat tinggal saya, merupakan komunitas yang hangat dan bersemangat dalam menyambut Ramadhan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun ini cukup unik, karena menjadi pengalaman pertama saya melewati Ramadhan di negeri Sakura. Alhamdulillah, Osaka yang merupakan tempat tinggal saya, merupakan komunitas yang hangat dan bersemangat dalam menyambut Ramadhan.</p>
<h3>Buka Puasa Bersama</h3>
<p>Ramadhan tentu saja wajib diisi dengan buka puasa bersama. Tidak terkecuali di Osaka. Bagi para pelajar, buka puasa bersama diinisiasi oleh organisasi Muslim Osaka. Acara ini ini diadakan seminggu sekali, sehingga selama Ramadhan dilakukan total sebanyak empat kali. Acara ini selalu saja ramai (apalagi kalau menjelang maghrib). Peserta yang datang juga selalu berjubel, berkisar 30-40 orang.</p>
<p>Makanan yang dihidangkan pun bervariasi. Ueda-san misalnya, selalu membawa sekotak onigiri udang. Bu Herman dan Uni, biasanya menghidangkan masakan dan minuman ala Padang, seperti Jus Timun, Rendang, dll.</p>
<p>Acara dilakukan di tempat bernama Taiyou no Ie. Sesudah buka puasa diikuti dengan makan malam. Lalu, ada seorang peserta yang ditunjuk untuk mengisi kultum. Setelah kultum berakhir dilanjutkan dengan shalat isya dan tarawih. Terakhir, setelah tarawih ditutup dengan hidangan &#8216;pencuci mulut&#8217;. Bila ada ustadz yang hadir ke Osaka, maka sebelum berbuka puasa diisi oleh materi yang disampaikan Ustadz tersebut.</p>
<p>Yang namanya acara tentu saja tidak sempurna. Kebetulan, setiap melakukan buka puasa bersama, ada juga yang melakukan latihan karate. Mereka komplain karena 2 hal, yang pertama karena keributan anak-anak, yang kedua karena air yang berceceran di wastafel sesudah mengambil wudhu. Sementara itu, komplain dari tetangga disebabkan oleh &#8220;bau yang menusuk&#8221;. Mungkin dikarenakan oleh sebakul rendang yang menunggu disantap saat makan malam.</p>
<h3>Iedul Fitri</h3>
<p>Iedul Fitri dilakukan di Kobe. Konsulat Jenderal Indonesia di Osaka menyewa sebuah hall untuk menampung jamaah shalat Iedul Fitri sebanyak 900 orang. Penataan hall untuk shalat Ied dilakukan sehari sebelumnya. Yang bertugas menjadi khatib adalah Dr. Khairul Anwar, sementara yang menjadi imam adalah Dr. Bagus.</p>
<p>Setelah shalat Ied, ada pembagian bento. Sambil menyantap bento yang disediakan, diadakan pembagian buku gratis untuk para kenshuusei (pekerja) dan untuk anak-anak. Sementara itu, total infaq dari kencleng yang diedarkan berjumlah sekitar 30 juta rupiah.</p>
<p>Di luar, ada stand yang mempromosikan kartu telepon Indonesia. Hadiahnya lumayan, telepon gratis 15 menit ke Indonesia dan sebuah kompas. Pengunjung bisa memilih hadiah lain, seperti kaos, misalnya.</p>
<p>Setelah itu, para pengunjung pulang untuk kembali bekerja, atau merayakan Iedul Fitri bersama teman-temannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/10/21/ramadhan-di-osaka/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tahfidz??? Hhh&#8230;</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/09/16/tahfidz/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/09/16/tahfidz/id/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Sep 2008 01:49:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.jepang.info/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, saya disampaikan juga oleh Allah kepada bulan Ramadhan tahun ini. Well, tahun ini puasanya agak beda, karena dilakukan di Jepang. Apa aja yang beda? Yang pertama, beda waktunya karena waktu puasa berubah begitu cepat. Contohnya, tanggal 1 Ramadhan azan shubuhnya jam 03:55, dan maghribnya jam 18:19. Berlanjut ke tanggal 30 Ramadhan, dimana azan shubuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, saya disampaikan juga oleh Allah kepada bulan Ramadhan tahun ini. Well, tahun ini puasanya agak beda, karena dilakukan di Jepang. Apa aja yang beda? Yang pertama, beda waktunya karena waktu puasa berubah begitu cepat. Contohnya, tanggal 1 Ramadhan azan shubuhnya jam 03:55, dan maghribnya jam 18:19. Berlanjut ke tanggal 30 Ramadhan, dimana azan shubuh jam 4:21, dan maghribnya jam 17:37. Cepat kan? Nah, yang kedua beda menunya, karena nggak ada ngantri es shanghai Fadhilah, kolak pisang, atau es kelapa kayak di Bandung. Boleh aja sih jualan kolak di pinggir jalan, tapi mungkin besoknya dipulangkan ke Indonesia (secara paksa, tentunya). Dan yang ketiga, beda tarawihnya, karena jumlah makmumnya sedikit, tidak seperti di Indonesia yang <em>masif</em> (apalagi kalau minggu-minggu pertama).</p>
<p>Ngomong-ngomong tarawih, di daerah saya, Toyonaka, tarawihnya dilakukan di <em>Ryuugakusei Kaikan</em> (Asrama Mahasiswa Luar Negeri). Lokasinya di dalam kampus Osaka University. Di sini, tarawih biasanya dimulai jam 20:00 dan selesai jam 21:30. Lho kok lama sekali? Apa pasal? Ternyata satu kali tarawih imamnya baca setengah juz. Dengan kata lain, satu rakaat satu halaman. Lumayan juga kalau nggak terbiasa, ada perasaan <em>gempor</em>, he he&#8230; Kalau di Bandung di mana ya yang seperti itu&#8230;? Di masjid Salman bukan?</p>
<p>Nah, entah kenapa sewaktu hari pertama ikut tarawih di sini, saya jadi terkenang pada bulan Ramadhan saat saya masih SMA, tepatnya kelas 2 dan 3 SMA. Kedua bulan Ramadhan tersebut benar-benar spesial buat saya. Mengapa? Yang waktu kelas 2 SMA, adalah bulan Ramadhan dimana pertama kalinya saya mengikuti itikaf. Sedangkan yang waktu kelas 3 SMA, adalah bulan Ramadhan dimana pertama kalinya saya mencoba menghafal al-Quran &#8212; dimulai dari juz 1.</p>
<p>Kenangan tentang menghafal juz 1 berlanjut. Waktu pertama kali menghafalkan juz ini, wah&#8230; susaaa&#8230;.ah sekali!!! Bayangkan, satu bulan penuh cuma dapat 10 halaman. Mungkin selain karena menghafal di tengah sibuknya sekolah dan les, juga karena belum terbiasa. Nah, lebih parah lagi sewaktu sudah masuk di 10 hari terakhir. Bayangkan, sekolah belum juga libur &#8212; Masih ada sejibun kegiatan DKM yang bernama Takbir (Tadabbur Akbar Bulan Suci Ramadhan), padahal sudah mendekati lebaran! <em>Isogashii</em> (sibuk) <em>datta yo naa&#8230;</em></p>
<p>Untung pas itikaf, jadwal saya menjadi agak longgar. Sehingga, saya bisa menghafal pagi, siang, dan juga malam hari. Tapi ya namanya <em>newbie</em>&#8230; kemampuan menghafalnya ya <em>cupu</em> lah. Paginya ingat, siangnya lupa. Siangnya ingat, eh malamnya lupa. Hal ini diperburuk dengan bacaan saya yang belepotan bin bleleran (eh ternyata benar lho, sebelum menghafal harus sempurnakan tajwid dulu). Saking belepotannya, saya teringat omelan seorang kakak kelas waktu saya menyetor hafalan padanya di suatu malam: &#8220;Ente becus nda sih baca Quran! salah, ini!&#8230; salah! Kurang panjang&#8230;! Kurang ditahan&#8230;!&#8221;</p>
<p>Hueeekkk!!! Huaaaa&#8230; <em>hidoi </em>(kejam)&#8230;</p>
<p>Meskipun demikian, jenak-jenak pertama kali menghafal Quran tersebut sungguh menjadi pengalaman berharga bagi saya. Ibaratnya, saya seperti sebuah roket yang berusaha meluncur ke luar angkasa. Ada tarikan gravitasi yang teramat kuat, yang memaksa untuk berhenti, kembali, ke awal lagi&#8230; Nah&#8230; masalahnya apakah saya berhasil lolos dari &#8220;tarikan&#8221; gravitasi yang teramat kuat itu?</p>
<p>Ternyata tidak! Saya tidak berhasil keluar dari medan gravitasi itu, he2&#8230; <em>as a proof</em>, sesudah Ramadhan masih tahfidznya masih sedikit dilanjutkan, tapi karena susah&#8230; hanya sampai juz 1 halaman ke-15 saja. Hehe, dasar penghafal <em>lebay</em>&#8230;</p>
<p>Nah&#8230; cerita di atas waktu kelas 3 SMA. Sedangkan ketika masuk S1 tingkat 1 (Informatika ITB, <em>je</em>!), saya nyoba nerusin lagi hafalan saya, menyelesaikan juz 1. Saya teringat&#8230; waktu itu diberikan walkman AIWA murah oleh Bapak, yang suaranya <em>mono</em> dan <em>stereo jack</em>-nya rusak. Dibandingkan walkman Sony si Jackun yang suaranya <em>cespleng</em>, walkman saya itu benar-benar berbeda kasta. Namun apalah artinya merk. <em>Cuek beibeh</em>, coba-coba membeli sebuah kaset <em>murratal</em> Syekh Suraim &amp; Sudais, <em>made in </em>Saudi Arabia (dan terbajak di Indonesia).</p>
<p>Eh&#8230; setelah mendengarkan Pak Suraim dan Sudais mengaji, benar juga kata si kakak kelas yg omelin saya itu&#8230; ternyata bacaan saya belepotan di sana-sini. Ya sudah, saya coba saja ikuti bacaan si Bapak (Pak Suraim, bukan bapak saya) secara <em>an-sich</em>. Eh-ala&#8230; ternyata susah sekali mengikuti bacaan beliau. Apa pasal? Suraim dan Sudais itu suaranya tinggi, melengking, dan <em>high speed</em>. Mengikutinya, suara saya sering habis dan serak. Oh ya, satu lagi yang menyebalkan adalah waktu kasetnya mentok, harus me-<em>rewind</em> kaset! Bayangkan saya harus <em>rewind </em>sekitar 10 kali setiap menghafal. Buaaahhh..! Menghabiskan waktu!!! Tapi akhirnya&#8230;! Setelah perjuangan berdarah-darah, selesai juga juz 1 <em>itu</em>. Saya ingat sekali, waktu itu saya mentraktir diri saya sendiri dengan sepiring nasi goreng (idih <em>autis</em> banget nggak sih?)&#8230;</p>
<p>Setelah itu, hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun selalu berlalu dengan menghafal Quran. Kalau mau jujur, menghafal Quran buat saya banyak dukanya. Nih bayangkan&#8230;</p>
<ol>
<li>bagaimana <em>bosaaaann</em>-nya mengulang-ulang sebuah halaman&#8230;</li>
<li>bagaimana bingung dan terbalik-baliknya hafalan, kalau ayatnya sudah berhubungan dengan hukum waris (karena ada kata-kata seperenam, sepertiga, setengah, dua pertiga yang susah dihafal) atau nikah dan talaq (huhu&#8230; apa saya payah tentang ini yah??)&#8230;</li>
<li>bagaimana pusingnya mengatur &#8220;kapan menghafal yang baru, kapan mengulang yang lama&#8221;&#8230;.</li>
<li>betapa sakitnya hati, kalau berbuat dosa / maksiat, melanggar apa yang sudah dihafal&#8230;</li>
<li>atau ketika bingung kenapa hafalan ujug-ujug menguap, sampai menyadari bahwa tadi di tengah jalan melihat ada yang <strong>ting-ting</strong>&#8230;</li>
</ol>
<p>Ah&#8230; kalau saja Quran bisa berbicara tentang saya (dan ia akan bicara di hari pembalasan), apa yang akan ia katakan ya? Memperlakukannya berulang kali seperti itu&#8230; habislah saya&#8230;</p>
<p>Tapi saya yakin&#8230;!</p>
<p>Bahwa menghafal itu hanya sebuah permulaan&#8230; masih ada puluhan tahun ke depan untuk terus menyelesaikan hafalan, menyempurnakannya sampai tidak ada yang lupa, dan yang paling penting&#8230; mengamalkannya ajaran di dalamnya&#8230;. sampai ajal menjemput</p>
<p>Kalaupun saya banyak khilaf karena tidak sesuai dengan Quran, saya harus berdoa, terus dan terus bertaubat&#8230; saya teringat kata-kata Bapak (kali ini Bapak saya, bukan Pak Sudais), &#8220;Uqi, kalau Uqi jatuh,Â  ingat bahwa itu hanya sebuah titik nadir kehidupan&#8230; Ada masa depan yang panjang untuk memperbaiki kesalahan dan menjadi lebih baik&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8230; terus berusaha, supaya menjadi seorang sahabat al-Quran.</p>
<p>&#8230;</p>
<p>&#8230;</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Ah&#8230; Seandainya saja orang mengetahui bahwa Nabi bersabda&#8230;</p>
<ul>
<li>Bahwa barangsiapa yang menghafal al-Quran, nanti di hari akhir akan diminta membaca ulang satu per satu, dan setiap ayat menaikkan derajatnya&#8230;</li>
<li>Bahwa Quran nanti akan memberikan syafaat&#8230;</li>
<li>Bahwa Allah akan bertanya MENGAPA (???) seseorang melupakan hafalannya, padahal itu adalah harta karun yang tak ternilai harganya&#8230;</li>
<li>Bahwa menjadi manusia Qurani benar-benar seperti mendaki gunung terjal&#8230;</li>
</ul>
<p>&#8230;pasti orang-orang juga akan berlomba-lomba menghafal al-Quran.</p>
<p><em>Soredewa, ganbatte kudasai&#8230; ganbatte-ganbatte-ganbatte!<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/09/16/tahfidz/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Teman Dari Berbagai Negara</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/04/03/teman-teman-dari-berbagai-negara/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/04/03/teman-teman-dari-berbagai-negara/id/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Apr 2008 11:00:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini, saya akan melakukan registrasi ke &#8220;kantor kecamatan&#8221;. Nama &#8220;kelurahan&#8221; tempat saya tinggal adalah Onohara, nama &#8220;kecamatan&#8221;-nya adalah Minoo. Sementara nama &#8220;kota&#8221;-nya adalah Osaka.
Saya bertemu dengan orang-orang asing seasrama yang juga baru tiba kemarin. Kami semua dibimbing oleh Kouta-san, seorang sukarelawan dari Osaka University, akan melakukan registrasi bersama-sama. Teman-teman saya tersebut adalah:

Bennet David Mark [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini, saya akan melakukan registrasi ke &#8220;kantor kecamatan&#8221;. Nama &#8220;kelurahan&#8221; tempat saya tinggal adalah Onohara, nama &#8220;kecamatan&#8221;-nya adalah Minoo. Sementara nama &#8220;kota&#8221;-nya adalah Osaka.</p>
<p>Saya bertemu dengan orang-orang asing seasrama yang juga baru tiba kemarin. Kami semua dibimbing oleh Kouta-san, seorang sukarelawan dari Osaka University, akan melakukan registrasi bersama-sama. Teman-teman saya tersebut adalah:</p>
<ol>
<li><span>Bennet David Mark Gilfedder (Australia) Farmasi</span></li>
<li><span>Good, Jean-marc (Swiss) Kedokteran</span></li>
<li><span>Ahmad Mohammad Haredy (Mesir) Engineering</span></li>
<li><span>Ehab Salah Eshak (Mesir) Kedokteran</span></li>
<li><span>Karuppuchamy Thangraj (India) Kedokteran</span></li>
<li><span>Chaterjee Amar Nath (India) Kedokteran</span></li>
<li><span>Gerardo Rodriguez Araujo (Mexico)</span></li>
<li><span>Edgar Eduardo Hernandez Cuellar (Mexico)</span></li>
<li><span>Thang Manh Nguyen (Vietnam)</span></li>
<li><span>Napadon Wantanamee (Thailand) Teknik Mesin</span></li>
<li><span>Mahdi Behran Rad (Iran) Teknik Elektro</span></li>
<li><span>Herardo (Brazil) Kedokteran</span></li>
</ol>
<p>Mudah-mudahan saya bisa berteman baik dengan mereka <img src='http://ismailfaruqi.jepang.info/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/04/03/teman-teman-dari-berbagai-negara/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Barang Bekas</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/04/02/barang-bekas/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/04/02/barang-bekas/id/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Apr 2008 23:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<category><![CDATA[barang]]></category>

		<category><![CDATA[bekas]]></category>

		<category><![CDATA[jepang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[Tinggallah saya sendirian di kamar, kebingungan mau apa di tengah suhu yang semakin menurun. Untuk sekedar menggerakkan badan, akhirnya saya memutuskan untuk jalan-jalan, sambil mencari lokasi toko-toko terdekat dan telepon umum internasional. Saya berhasil menemukan 3 lokasi toko dan 2 lokasi telepon umum. Tidak lupa, saya janjian dengan Euis-san supaya bertemu di dorm saya.

Sepulang dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span>Tinggallah saya sendirian di kamar, kebingungan mau apa di tengah suhu yang semakin menurun. Untuk sekedar menggerakkan badan, akhirnya saya memutuskan untuk jalan-jalan, sambil mencari lokasi toko-toko terdekat dan telepon umum internasional. Saya berhasil menemukan 3 lokasi toko dan 2 lokasi telepon umum. Tidak lupa, saya janjian dengan Euis-san supaya bertemu di dorm saya.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sepulang dari sana, saya melihat Euis-san dan seorang temannya sudah berada di dorm saya, Onohara Haitsu. Saya segera berkenalan dengan temannya Euis-san, yang bernama mas Abdi. Tentu saja, mereka adalah teman Indonesia pertama saya di Jepang. Tujuan mereka datang adalah untuk menentukan barang apa saja yang saya perlukan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Untuk itu, kami bertiga ke kamar saya. Setelah melihat kamar saya yang kosong melompong, mereka berdua sepertinya mengerti barang-barang yang saya butuhkan. Barang-barang tersebut ada di rumah Euis-san dan temannya, Mbak Dian. Karena Mbak Dian belum pulang dari lab, kami pergi ke rumah Euis-san terlebih dahulu. Di sini, saya diberi satu lapis futon dan rice-cooker. Kemudian dari tetangga sebelah Euis san, pak Herman, saya diberikan gorden, pemanas ruangan, dan penghangat kasur. Baru setelah itu kami ke rumah mbak Dian. Dari beliau, saya menerima hanger baju, peralatan masak, water heater, microwave, bantal, 2 lapis futon, dan selimut. Meski semuanya bekas… tapi tidak apa-apa, yang penting saya bisa survive untuk malam ini. Maka sepulang dari rumah teman-teman baru itu, saya segera set-up kamar saya dan… tidur nyenyak, he2…</span></p>
<h3>Barang Bekas</h3>
<p class="MsoNormal"><span>Mengapa di Jepang banyak barang bekas (yang masih bagus) dibuang? Jepang adalah negara dengan peringkat konsumerisme terbesar di dunia. Karena inovasi berjalan tiada henti, maka barang-barang dengan teknologi baru (terutama elektronik dan mobil) cepat keluar. Masyarakat Jepang tidak terbiasa untuk memakai barang lama. Mereka terbiasa untuk mengikuti teknologi terbaru. Akibatnya, meski umur barang-barang baru 3 tahun, tidak jarang sudah dibuang. Selain itu, masyarakat Jepang punya kepercayaan bahwa menggunakan barang bekas orang lain akan membawa sial. Dan faktor terakhir adalah masalah space (ruangan). Rumah di Jepang sempit-sempit, contohnya tidak jarang kamar mandi hanya berukuran 1,5 m x 1,5 m. Oleh karena itu, barang yang bekas sering dibuang.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/04/02/barang-bekas/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Onohara Haitsu</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/04/02/onohara-haitsu/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/04/02/onohara-haitsu/id/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Apr 2008 18:00:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>

		<category><![CDATA[onohara haitsu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[Dormitory (kos-kosan) saya bernama Onohara Haitsu. Lokasinya dekat dengan kampus, kalau naik sepeda mungkin hanya 5 menit. Letaknya juga strategis, berada tepat di atas sebuah supermarket, yang bernama Kansai Suupaa.

Onohara Haitsu memiliki 4 lantai, dimana lantai 1 dan 2 adalah parkir mobil, dan lantai 3 serta 4 adalah kamar yang disewakan. Saya sendiri tinggal di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span><em>Dormitory</em> (kos-kosan) saya bernama Onohara Haitsu. Lokasinya dekat dengan kampus, kalau naik sepeda mungkin hanya 5 menit. Letaknya juga strategis, berada tepat di atas sebuah supermarket, yang bernama Kansai Suupaa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><a href="http://ismailfaruqi.jepang.info/wp-content/uploads/2008/04/b-p1000007.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-105 aligncenter" src="http://ismailfaruqi.jepang.info/wp-content/uploads/2008/04/b-p1000007.jpg?w=300" alt="Kamar Saya di Onohara Haitsu, lingkaran merah" width="300" height="168" /></a></p>
<p class="MsoNormal"><span>Onohara Haitsu memiliki 4 lantai, dimana lantai 1 dan 2 adalah parkir mobil, dan lantai 3 serta 4 adalah kamar yang disewakan. Saya sendiri tinggal di lantai 4. Sayangnya, meski memiliki 4 lantai, tak ada lift di dormitory ini. Bahwa saya berhasil menyeret-memikul tas bagasi saya seberat 27 kilo ke lantai 4, membuktikan bahwa Onohara Haitsu merupakan tempat yang cukup baik untuk berlatih mengangkat beban.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><a href="http://ismailfaruqi.jepang.info/wp-content/uploads/2008/04/b-p1000019.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-106 aligncenter" src="http://ismailfaruqi.jepang.info/wp-content/uploads/2008/04/b-p1000019.jpg?w=300" alt="Pemandangan dari lantai 4" width="300" height="225" /></a></p>
<h3><a href="http://ismailfaruqi.jepang.info/wp-content/uploads/2008/04/b-p1000030.jpg"><br />
</a></h3>
<h3><span>Kecewa</span></h3>
<p class="MsoNormal"><span>Sesampainya di lantai 4 (tentu saja dengan beban 27 kg tersebut), saya segera membuka kunci kamar saya. Yang pertama kali saya rasakan adalah kekecewaan. Kekecewaan pertama dikarenakan kamar saya kosong melompong. Tidak ada perabot sama sekali. Sementara suhu di sini hanya sekitar 10 derajat C. “Bagaimana saya bisa tidur?”, pikir saya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kekecewaan kedua adalah bahwa untuk setiap 24 kamar, hanya tersedia 2 toilet dan 1 bathroom. Toilet di sini hanya jamban + tisu rol saja. Maaf buat orang Indonesia, tidak ada air untuk membersihkan kotoran. Gunakan tisu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kekecewaan ketiga adalah jeleknya benda-benda yang ada di kamar saya. Lemari baju (oshire) tidak memiliki penutup. Tidak ada pula besi untuk menggantung baju. Penghangat yang ada kotor dan rusak, berbunyi seperti genset diesel jika dinyalakan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kekecewaan terakhir adalah karena saya telah membayar 100,000 yen untuk ini, sementara teman saya yang hanya membayar 50,000 yen untuk bulan ini mendapatkan fasilitas kamar seperti hotel, lengkap dengan perabot, elektronik, dan kamar mandi pribadi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Saya hanya bisa menghela nafas. Apa boleh buat. Tiba-tiba Ino-sensei berkata,<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Uki-san, sekarang dilist aja barang yang harus dibeli. Setelah ini kita akan langsung belanja bersama”, kata Ino-sensei.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Saya pun segera me-list barang-barang yang akan saya beli. Tadinya saya akan membeli banyak, tapi saya teringat bahwa <span> </span>teman-teman Indonesia yang tinggal dekat sini akan memberikan barang-barang yang tidak terpakai. Sehingga akhirnya, saya hanya membeli jam dan nasi. Setelah belanja dari sana, Ino-sensei, Munekawa-san, dan Okuyama-san kembali ke lab, sehingga saya tinggal sendirian kamar.</span></p>
<h3 style="text-align:center;"><a href="http://ismailfaruqi.jepang.info/wp-content/uploads/2008/04/b-p1000030.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-107 aligncenter" src="http://ismailfaruqi.jepang.info/wp-content/uploads/2008/04/b-p1000030.jpg?w=300" alt="Pemandangan lain dari lantai 4" width="300" height="168" /></a></h3>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/04/02/onohara-haitsu/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tiba di Jepang</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/04/02/tiba-di-jepang/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/04/02/tiba-di-jepang/id/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Apr 2008 17:01:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>

		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>

		<category><![CDATA[jepang monbusho bandara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[Impresi pertama seorang Uqi ketika mendarat di Jepang. Udik... dingin... dan terkagum-kagum.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span>Sesampainya di bandara Narita di Tokyo, kami bergegas untuk menjalani prosedur imigrasi, seperti pemeriksaan paspor dan registrasi. Eh, memang dunia sempit, setelah itu saya bertemu dengan Sandy IF01. Saya diberiknya <em>onigiri</em>. <em>Onigiri</em> itu nasi kepal yang dibungkus dengan suatu daun berwarna hijau - serupa lemper. Ketika sedang makan, saya melihat Dewi-sensei sedang memakan daun hijau tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>`Lah Dewi-sensei, ngapain daun pisangnya dimakan??!` kata saya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>`Dasar,` katanya. `Ini bukan daun pisang, tapi rumput laut…`</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>`…`</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Maka setelah menyadari bahwa di-Jepang-<span style="text-decoration: underline;">tak-ada</span>-daun-pisang, kami membeli tiket bus Airport Limousine yang diperlukan untuk berpindah ke bandara Haneda (yang berada di Tokyo juga). Sambil di sana, ternyata saya juga tidak sengaja bertemu Rasyid Aqmar, alumni SMU 1 Bogor angkatan 2000. Memang benar istilah `<strong>Smunsa Bogor Everywhere</strong>`, nggak di Bandung, di Jogja, atau di Tokyo… adaa aja.. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sesudah menunggu semua anggota rombongan selesai membeli tiket, kami pamit dengan anggota Monbusho lain yang akan belajar di Tokyo. Setelah itu, kami keluar gedung untuk menuju halte bus Airport Limousine. Begitu keluar dari gedung, brrr… dingin sekali. Saya melihat thermometer, ternyata 12 derajat Celcius. Ternyata di dalam bandara lebih hangat…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Rencananya, dari Haneda kami akan naik pesawat menuju bandara Itami, Osaka. Pohon-pohon sakura terlihat begitu merekah sepanjang perjalanan kami. Bagi yang pertama kali datang ke Jepang, mereka akan terkagum-kagum melihat betapa bersihnya jalan dan lingkungan sekitarnya. Bus memasuki jalan tol. Terlihat Tokyo Bay, dan juga Tokyo Disneyland. Saya berharap mudah-mudahan bisa datang ke sana waktu liburan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Setelah sekitar 40 menit, akhirnya bus tiba di bandara Haneda. Bandara ini merupakan bandara yang lebih kecil daripada bandara Internasional Narita, karena hanya melayani penerbangan lokal se-Jepang. Setibanya di sana, kami segera turun dari bus. Oh ya, meskipun jarak tempuh bus hanya sejauh Cengkareng-Halim Perdanakusumah, harga tiketnya mahal: 3000 yen (Rp 270.000). Benar-benar memecahkan rekor tiket bus termahal yang pernah saya beli, hehehe…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kami segera menelepon beberapa anggota keluarga untuk lapor bahwa kami tiba. Setelah itu, kami sedikit jalan-jalan, dan shopping, dan lalu menaiki pesawat terakhir. Pesawat yang ini lebih padat daripada yang dari Jakarta. Di setiap kursi ada LCD yang menginformasikan lokasi pesawat di atas peta, ketinggian, serta kecepatan pesawat. Saya sendiri mendapat kursi yang berada di samping jendela.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Semakin tinggi pesawat mengudara, semakin kecil pemandangan di darat terlihat. Kereta dan mobil-mobil yang sedang berjalan jadi terlihat seperti mainan. Kapal tanker yang berada di laut menjadi sekecil semut. Dari atas, saya bisa melihat betapa padatnya kota-kota di Jepang, namun juga begitu lowongnya daerah pegunungan di Jepang.</span></p>
<h3><span id="more-106"></span><strong><span>Bertemu Teman Satu Lab</span></strong></h3>
<p class="MsoNormal"><span>Setelah terbang sekitar 1 jam, akhirnya pesawat mendarat juga. Sesampainya di bandara, teman-teman Indonesia dari PPI Osaka-Nara yang datang menjemput sudah menunggu di pintu keluar. Saya juga melihat sahabat saya, Euis-san, melambaikan tangan sambil memanggil nama saya. Ketika sedang menuju ke sana, eh tiba-tiba ada orang Jepang yang memegang karton bertuliskan `Mr. Uqi, from Hagihara Lab`. Wah, itu orang dari lab yang akan saya tempati! Saya segera beralih arah ke mereka, dan berkata `watashi wa Uqi desu! (saya Uqi)!`. Eh tiba-tiba saya tas saya langsung diambil mereka, dan langsung keluar dari bandara. Wah, saya belum ketemu sama teman-teman PPI! Ya sudah, saya cuma berikan sinyal bahwa saya tidak ikut rombongan PPI.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Di luar tidak sedingin di Tokyo (tapi tetap saja dingin). Saya segera berkenalan dengan rekan saya se-lab tersebut. Mereka adalah: Ino-sensei (associate professor), Okuyama-san (program Master tahun pertama, selanjutnya disingkat M1), dan Munekawa-san yang juga M1. Setelah berkenalan, saya, Okuyama-san, dan Munekawa-san menunggu Ino-sensei yang pergi mengambil mobil (iya saya dijemput pake mobil). Sambil menunggu, Munekawa-san memulai pembicaraan, `nihon wa dou desu ka? Samui desu ka? (gimana Jepang? Dingin?)` saya menjawab `sou nee,,, eakon o yukkuri chiisaku dekitekurenai no? (iya nih, ac-nya bisa dikecilin dikit ga?) lalu mereka berdua ketawa kecil. Garing kali yah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Setelah beberapa saat, Ino-sensei akhirnya kembali. Wohoo, mobilnya Alfa Romeo bo. Barang bawaan saya segera ditaruh ke bagasi. Setelah itu, kami berangkat. Sepanjang jalan saya masih terkagum-kagum. Entah kenapa, bunga-bunga yang mekar berwarna-warni di musim semi begitu rapi menyatu dengan tiang-tiang rel monorail raksasa yang menjulang, suasana berkendara yang tertib, serta bersihnya kota ini. `Orang muslim itu kalah sama Jepang dalam soal kebersihan`, begitu yang sering dikatakan di Indonesia.</span></p>
<h3><strong><span>Welcome to Osaka University</span></strong></h3>
<p class="MsoNormal"><span>Setelah kurang lebih 40 menit di jalan, kami memasuki gerbang Osaka University, kampus Suita. Osaka University memiliki 3 kampus yang berada di kecamatan berbeda, yakni kampus Suita, Toyonaka, dan Minoo. Kampusnya lengang, yang kemudian saya baru tahu bahwa ini sedang liburan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kami segera mencari gedung yang bernama IC Hall. Setelah ketemu, Ino-sensei segera melaporkan kedatangan saya ke sana. Berikutnya, kami ke tempat bernama Co-Op. Di sana, saya menandatangani kontrak dormitory (sambil menyerahkan 100,000 yen, huhuhu…). Setelah itu, saya menerima kupon sepeda bekas gratis. Dan terakhir, <span> </span>kami kembali ke mobil, untuk mencari Onohara Haitsu, dormitory saya.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/04/02/tiba-di-jepang/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Agustus 2007</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/09/07/agustus-2007/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/09/07/agustus-2007/id/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Sep 2007 11:59:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/2007/09/07/agustus-2007/</guid>
		<description><![CDATA[Kadang-kadang memang ada waktunya untuk merenungi yang telah terjadi, terutama jika hal itu spesial. Berhubung Agustus lalu cukup &#8217;spesial&#8217;, maka saya renungi saja di blog ini. Ya, berhubung banyak kejadian di bulan Agustus, maka bulan itu jadi spesial buat saya. Spesialnya dimana sih?
Bulan Agustus saya awali dengan menumpahkan air ke atas laptop Triaji Nugroho (sial [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kadang-kadang memang ada waktunya untuk merenungi yang telah terjadi, terutama jika hal itu spesial. Berhubung Agustus lalu cukup &#8217;spesial&#8217;, maka saya renungi saja di blog ini. Ya, berhubung banyak kejadian di bulan Agustus, maka bulan itu jadi spesial buat saya. Spesialnya dimana sih?</p>
<p><span id="more-97"></span>Bulan Agustus saya awali dengan menumpahkan air ke atas laptop Triaji Nugroho (<em>sial ketahuan</em>). Kontan saja mobilitas aktivis no.1 PPSDMS (dan mungkin ITB?) ini sedikit terguncang. Bagaimana tidak, hari demi hari keyboardnya menjadi penyakitan. Stadium pertama sinyalnya tertukar. Pijit karakter &#8216;a&#8217; yang keluar malah &#8216;;&#8217; contohnya. Lalu stadium kedua, tutsnya not responding satu demi satu. Terakhir stadium ketiga, tanpa dipijit apa-apa dia mengeluarkan karakter:</p>
<p>bbbbbbbbb&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..bbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbb</p>
<p>sendiri. Tadinya saya mau menghibur Aji, &#8220;Udahlah Ji, laptop tu emang gitu. Minum air dikit aja mabok.&#8221; Tapi melihat situasi sudah tidak terkontrol, maka kami putuskan saja melarikan laptop itu ke bengkel. Setelah tawar sana-sini, ongkos repair paling murah 950 rb. Saya tidak punya uang sebanyak itu. Akhirnya saya bilang ke Aji, &#8220;Maaf yah Ji lagi nggak ada uang&#8230; tapi saya usahakan bulan ini deh. Peace <img src='http://ismailfaruqi.jepang.info/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> !&#8221;</p>
<p>Belum seminggu berakhir, terjadi beberapa insiden pada motor saya. Seolah-olah saya dapat &#8216;karma&#8217; mengguyur laptop orang soleh macam Aji. Pertama, plat motor saya jatuh entah di mana. Hal itu menyebabkan saya harus bermain kucing-kucingan dengan polisi. Lalu saya sadar kalau belum memperpanjang STNK yang jatuh tempo bulan Juli (setelah diingatkan ibu saya). Akhirnya terbayar juga, tentu saja dengan denda orde ratusan ribu rupiah. Dan yang terakhir, setelah STNK baru kembali, kunci motor saya malah hilang. Dengan demikian, tunggangan saya itu berubah status menjadi pengangguran selama hampir tiga minggu.</p>
<p>Belum lagi event-event lain di Bulan Agustus. Contohnya, saya mencoba mengikuti seleksi beasiswa IELSP (studi ke Amerika 2 bulan) dari IIEF. Yang parah, untuk mengambil beasiswa ini harus mengikuti tes TOEFL ITP seharga US$ 25. Belum bolak-balik ke Jakarta 2 kali, untuk seleksi beasiswa ini total hampir habis 500rb. Mending kalau berhasil. Sayang, saya tidak berhasil mendapatkan beasiswa ini.</p>
<p>Event lain yang tidak kalah serunya adalah prasidang Tugas Akhir. Di tengah penantian deadline prasidang yang mistis, entah kenapa saya ada gosip dari Dewi kalau batas prasidang adalah 20 Agustus. Kabar baiknya, saya termakan gosip tersebut. Saya baru mengetahui gosip tersebut tanggal 15-nya. Waktu lagi ke Jakarta. Maka dengan <em>ultra-deadliner mode, </em>saya mempertaruhkan tidur saya untuk merampungkan software TA. Dan berhasil -<em>barely</em>. Eh, ketika masih celeng mau prasidang, barulah <em>official deadline </em>muncul: 27 Agustus! Ya elah&#8230; Tapi gpp. Sayang, karena satu dan lain hal kesalahan saya, prasidang saya diundur jadi tanggal 23 Agustus. Untuk pembimbing dan penguji saya tidak marah (meski saya rasa mereka pantas untuk itu)&#8230; Prasidang saya sendiri berlangsung <em>buggy </em>dan hambar.</p>
<p>Ngomong-ngomong laptop Aji yang saya tumpahi, akhirnya saya dapat rejeki. Meminjam sana-sini, akhirnya terkumpul dana 800 rb. Sisanya ditanggung yang kena musibah. Ada uang ada obat, akhirnya dokter laptop memperbaiki pasiennya. Ajaib, keyboard yang penyakitan menjadi nampak (dan berfungsi) seperti baru! Namun sayang seribu sayang&#8230;</p>
<p>Esoknya laptop itu hilang dicuri di Salman. Hiks&#8230;</p>
<p>Meski yang dicuri itu laptop Aji, saya keki juga. Masa memperbaiki barang untuk diembat maling esoknya&#8230;</p>
<p>Yah, namanya juga hidup&#8230; kadang di atas kadang di bawah seperti roda. Saya sendiri masih bersyukur bisa melewati kejadian-kejadian tersebut. Masih untung laptopnya <em>terguyur</em>, bukan <em>terendam</em>. Masih untung saya bolak balik Jakarta-Bandung, daripada peserta lain yang bela-belain terbang dari Lampung ke Jakarta (udah gitu KTP dia ketinggalan, lagi). Masih untung saya udah prasidang, daripada belum proposal-proposal acan (ups&#8230; peace). Masih untung saya informatikawan, boleh pakai doping macem kopi + M150, coba saya atlet lari. Masih untung <em>kunci</em> motor yang hilang, bukan <em>motor</em>-nya. Masih untung saya nggak harus pinjem duit ke lintah darat. Dan masih untung saya nggak jelek-jelek amat (halah)&#8230;</p>
<p>Oleh karena itu, saya ucapkan terima kasih banyak kepada orang tua saya yang memberikan support, kepada orang-orang yang meminjamkan uang tanpa bunga, kepada warung Fiqih yang bisa dibayar di akhir (bulan), dan semua pihak yang telah membantu saya. Oh ya, karena kejadian di atas maka ada janji yang tidak bisa saya penuhi ke beberapa orang. Buat yang merasa, mohon maaf ya&#8230;</p>
<p>Lalu bulan ini, Alhamdulillah saya masih diberikan kesempatan untuk bertemu Ramadhan. Semoga saya diberi kesempatan untuk mengakhirinya dengan baik pula. Maka di ambang pintu Ramadhan ini, saya mohon support teman-teman supaya saya dapat memenuhi target-target bulan ini. Terakhir, mohon maaf atas kesalahan yang telah saya perbuat pada teman-teman semua. Maapin ya kakak&#8230; kita puasa nyookk&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/09/07/agustus-2007/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Lari Pagi Tidak Hanya Lari Pagi</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/06/06/lari-pagi-tidak-hanya-lari-pagi/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/06/06/lari-pagi-tidak-hanya-lari-pagi/id/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jun 2007 02:00:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/2007/06/06/lari-pagi-tidak-hanya-lari-pagi/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Lari pagi ah besok.&#8221;
Setiap hari, kata-kata itu selalu menjadi tekad yang saya tanamkan ketika merenung sebelum tidur. Saya sangat anti dengan kegemukan, dan saya percaya bahwa obat gemuk satu-satunya adalah lari. Kegemukan sangat menghantui saya, terutama setelah melihat beberapa teman yang bobotnya meroket dalam waktu singkat sesudah masuk tingkat 4 atau sesudah menikah.

Namun apa daya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Lari pagi ah besok.&#8221;</em></p>
<p>Setiap hari, kata-kata itu selalu menjadi tekad yang saya tanamkan ketika merenung sebelum tidur. Saya sangat anti dengan kegemukan, dan saya percaya bahwa obat gemuk satu-satunya adalah lari. Kegemukan sangat menghantui saya, terutama setelah melihat beberapa teman yang bobotnya meroket dalam waktu singkat sesudah masuk tingkat 4 atau sesudah menikah.<br />
<span id="more-61"></span><br />
Namun apa daya, biasanya kemalasan mengalahkan logika saat terbangun esok hari. Entah karena kenyang sarapan, atau karena tidur larut, atau dinginnya Bandung pagi hari, pagi hari yang beharga untuk berlari selalu menguap begitu saja. Hasrat &#8220;tidur balas dendam&#8221; begitu kuat, terlebih melihat sang selimut yang begitu tebal dan kenyataan bahwa kuliah saya sudah habis.</p>
<p>Nah. Selasa (5/6), akhirnya dua orang atlet PPSDMS yakni <a href="http://www.friendster.com/12914042" target="_blank">Goris Mustaqim</a> dan <a href="http://triajinugroho.wordpress.com" target="_blank">Tri Aji Nugroho</a> berhasil membangkitkan semangat saya untuk memakai pakaian training. Jadilah kami bertiga dan <a href="http://adisatyadi.blogspot.com/">Adi Satyadi</a> &#8220;Baby Huey&#8221; berangkat lari pagi ke Sabuga. Dua orang pertama ini berjenis kuli, tantang mereka lari 20 lap dan saya jamin mereka masih bisa mengatakan, &#8220;Bring it on!&#8221;</p>
<p>Di tengah jalan kami bertekad untuk lari minimal 2 digit lap. Tentu saja hal ini ambigu, karena bagi anak IF yang namanya 2 digit bisa jadi bukan 10-99 lap, namun 2-3 lap, dengan asumsi bahwa ia adalah binary-freak.</p>
<p>Sesampainya di Sabuga, pemanasan dimulai. Kami yang ikut Taekwondo tentu saja melakukan pemanasan seperti latihan Taekwondo. Tapi Aji yang jebolan Thifan Po Khan Tsufuk masih percaya bahwa aliran-nya lah yang memiliki konsep pemanasan terbaik. Saya mah Waisan saja, toh pemanasan bukan sebuah masalah yang prinsip, selama tidak menyebabkan tulang copot.</p>
<p>Sesudah pemanasan selesai, kami mulai berlari. Kondisi saya yang sudah 1 bulan tidak lari tentu saja berbeda dengan Goris yang melahap track demi track setiap hari. Baru 1 putaran mata saya sudah berkunang-kunang, hilang orientasi antara Barat dan Timur. Tapi Goris dan Aji tetap berlari penuh energi. Bahkan disinilah kelebihan Goris dan Aji. Selain berstamina, mereka begitu positif:</p>
<p>(tap-tap-tap) <strong>&#8220;Ayo Qi! Lari tidak hanya latihan fisik! Tapi juga psikologis dan sosiologis!&#8221;</strong>, kata Goris.</p>
<p>(tap-tap-tap) <strong>&#8220;Break your limit! Kita bukanlah kita yang sekarang!&#8221;</strong>, timpal Aji.</p>
<p>Kontan saja, kata-kata motivasi itu memecut semangat saya untuk berlari lebih keras. Maka berhasillah saya masuk lap 2. Sayangnya, di lap ini kondisi badan saya yang masih kaku menurun. Kemampuan paru-paru saya menarik oksigen semakin mengecil.</p>
<p>(tap-tap-tap) <strong>&#8220;Ayo Qi! Menyatulah dengan udara! Rasakan ringannya badan! Hirup nafas dalam-dalam!&#8221;</strong>, Goris menyemangati saya bak trainer motivasi picisan.</p>
<p>Tak urung, kata-kata itu menarik energi saya kembali. Saya kembali berlari. Nah, di lap 3 saya menyerah. Meski Goris sudah memberi semangat, tapi saya tidak bisa mendengar karena kuping saya sudah <em>pengang</em>. Lap ke-4 saya setengah jalan setengah lari, dan lap ke-5 saya gunakan untuk pendinginan. Sementara Goris dan Aji terus berseliweran di antara orang-orang yang berjalan.</p>
<p>Akhirnya mereka selesai juga. Sebelas lap, <em>impressive</em>. Yang lebih mencengangkan, dalam keadaan basah berkeringat mereka masih saja berceletuk kata-kata motivasi.</p>
<p><strong>&#8220;Lari adalah <em>pride</em>! Malulah kita kalau berjalan bersama orang-orang yang jalan! Iya gak, Ji?&#8221;</strong></p>
<p><strong>&#8220;Nothing is impossible! Impossible is nothing!&#8221;</strong></p>
<p><strong>&#8220;Hancurkan tembok yang membatasi kita! Kita adalah apa yang kita ucapkan!&#8221;</strong></p>
<p><strong>&#8220;Benar kang Goris! Menyerah saat lari pagi sama dengan menyerah sampai hari ini selesai!&#8221;</strong></p>
<p>Wow. Saya salut pada mereka. Bagi mereka berdua, lari pagi tidak hanya lari pagi. Lari pagi adalah motivasi dan latihan determinasi. Bagi mereka, lari pagi adalah tempat terbaik untuk menguji sejauh mana idealisme bertahan.</p>
<p>Maka saya bertekad mencari makna lebih dalam bila lari pagi kembali.</p>
<p>Oh ya, bagaimana kabar Adi &#8220;Baby Huey&#8221;? Saya tidak tahu, karena kami berpisah jalan sejak lap 1. He.. he&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/06/06/lari-pagi-tidak-hanya-lari-pagi/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Salah Kunci</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/05/30/salah-kunci/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/05/30/salah-kunci/id/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 May 2007 01:08:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/2007/05/30/salah-kunci/</guid>
		<description><![CDATA[Jadi inget&#8230; kejadian setahun yang lalu&#8230;
Malam itu jam 7:00, saya pulang dengan perasaan lapang. Saya menuju Lapangan Sipil ITB, tempat dimana saya memarkir motor saya. Waktu itu, tinggal beberapa motor yang masih bertahan. Motor saya Honda Karisma 125D warna hitam, ada cakramnya di depan. Ketika saya meraba cakram untuk melepas kunci cakram yang saya pasang, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jadi inget&#8230; kejadian setahun yang lalu&#8230;</p>
<p>Malam itu jam 7:00, saya pulang dengan perasaan lapang. Saya menuju Lapangan Sipil ITB, tempat dimana saya memarkir motor saya. Waktu itu, tinggal beberapa motor yang masih bertahan. Motor saya Honda Karisma 125D warna hitam, ada cakramnya di depan. Ketika saya meraba cakram untuk melepas kunci cakram yang saya pasang, saya benar-benar kaget. Kunci cakram saya hilang! Padahal saya yakin pagi itu saya mengunci cakram dengan rapi. Kesimpulan saya: &#8220;Wah, ada yang niat nyolong motor saya, cuma mungkin dia baru sempat bobol konci cakram doang&#8230;&#8221;</p>
<p>Ya sudah, saya ikhlaskan saja itu kunci cakram. Saya segera naiki motor saya. Eh, belum sempat saya menyalakan starter, tiba-tiba ada secarik kertas diselipkan di dekat stang saya. Penasaran karena kelihatannya bukan iklan, saya baca saja. Tulisannya,</p>
<p align="center">MAS, LAIN KALI HATI-HATI KALAU MENGUNCI CAKRAM, JANGAN KUNCI MOTOR ORANG. KASIHAN SAYA JADI TIDAK BISA PULANG&#8230;</p>
<p>He? Saya mengunci cakram motor orang? Masa?</p>
<p>Tiba-tiba saya menyadari bahwa tepat di samping motor saya, ada motor yang identik terparkir. Saya lihat cakramnya, eh&#8230; kunci cakram saya nongkrong di situ! OMG, ternyata saya mengunci cakram motor orang. Sejak pagi. Ya elah&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/05/30/salah-kunci/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Rihlah ke Situ Patengan</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/05/20/rihlah-ke-situ-patengan/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/05/20/rihlah-ke-situ-patengan/id/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 May 2007 03:40:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/2007/05/20/rihlah-ke-situ-patengan/</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, anak-anak IF 2003 kemarin sukses mengadakan rihlah ke Situ Patengan, Ciwidey. Arif Romdhoni telah membuat ulasannya, full 3 posting! Kalau mau baca, klik di sini!
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, anak-anak IF 2003 kemarin sukses mengadakan rihlah ke Situ Patengan, Ciwidey. Arif Romdhoni telah membuat ulasannya, full 3 posting! Kalau mau baca, klik di <a href="http://arifromdhoni.wordpress.com/2007/05/18/rihlah-ke-situ-patengan-1/" target="_blank">sini</a>!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/05/20/rihlah-ke-situ-patengan/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

