<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Uqi`s Life Note &#187; Kuliah</title>
	<atom:link href="http://ismailfaruqi.jepang.info/category/kuliah/id/feed/id/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ismailfaruqi.jepang.info</link>
	<description></description>
	<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 01:47:54 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
	<language>id</language>
			<item>
		<title>People Lives</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/06/23/people-lives/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/06/23/people-lives/id/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 04:01:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>

		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[Ketika gempa bumi di Shichuan terjadi, banyak pelajaran yang dapat diambil dari berbagai sudut pandang. Bagaimana seorang engineer mengambil pelajaran darinya?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Duh&#8230; basi lagi&#8230; suka ditaruh di draft kelamaan sih&#8230; <img src='http://ismailfaruqi.jepang.info/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> tapi ya sudahlah&#8230;</p>
<p>Beberapa hari ini, di lingkungan saya sedang heboh karena berita tentang gempa di Shichuan, Cina. Yang menarik, meski bersimpati kepada Cina, orang Jepang sekitar saya seperti sensei maupun teman selalu menambahkan, &#8220;Yah, mau bagaimana lagi&#8230; bangunannya tidak didesain untuk tahan gempa sih&#8230; jadinya runtuh rata begitu&#8230;&#8221;. Memang kalau dilihat, area tersebut runtuh seruntuh-runtuhnya -<em>rata</em>.</p>
<p>&#8220;Uki-san kalau lihat reruntuhan gempa di Kobe, bangunannya memang hancur, tapi tidak <em>rata dengan tanah </em>seperti ini.&#8221;, begitu kata Muraoka-sensei, dosen Writing dan Reading saya.</p>
<p>Orang Jepang mungkin pantas berbicara seperti itu. Dari seluruh gempa yang terjadi di dunia, 20 persennya terjadi di Jepang. Karenanya, mereka peduli dengan gempa (terutama daerah sekitar Tokyo ke atas). Karenanya, desain rumah yang tahan gempa adalah syarat mendirikan bangunan di Jepang. Dengan demikian, korban gempa dapat diminimalisir.</p>
<p>Bandingkan dengan gempa Shichuan. Ada cerita dimana anak-anak yang sedang belajar di sekolah tewas seketika. Ini kan, berarti sekolahnya rubuh seketika. Desain sekolahnya tidak memberikan waktu yang cukup bagi orang di dalamnnya untuk menyelamatkan diri. Ini menjadi pelajaran bagi seorang engineer, tentang betapa pentingnya mendesain sesuatu dengan memberikan perhatian utama bagi keselamatan manusia.</p>
<h3>Engineer: To deal with people lives</h3>
<p>Katanya para <em>leadership trainer</em>, engineer kerap diasosiasikan sebagai stereotipe orang yang terlalu berfokus pada detail, dan memprioritaskan kesempurnaan. Menurut saya itu wajar, karena kode etik engineer yang <em>pertama </em>adalah memprioritaskan hidup manusia. Untuk itu, mereka dituntut bekerja dengan sempurna, presisi, dan teliti.</p>
<p>Betapa banyak yang memerlukan kesempurnaan, ketepatan, dan ketelitian. Sebut saja jembatan, alat transportasi darat-laut-udara, telekomunikasi, termasuk bangunan. Hal-hal tersebut, tentu saja harus dibuat dengan mengutamakan keselamatan manusia terlebih dahulu. Oleh karena itu, sudah sepantasnya seorang engineer bangga atas ke-<em>engineer</em>-annya.</p>
<h3>Dana: Masalah Klasik</h3>
<p>Apa yang terjadi di Cina, mungkin akar permasalahannya klasik: dana. Logikanya sederhana: hal yang kualitasnya lebih baik tentu saja memerlukan dana yang lebih besar. Dalam kasus gempa ini, tentu saja bangunan yang tahan gempa jauh membutuhkan dana yang lebih besar dibandingkan bangunan biasa, yang mungkin cukup dari beton, kayu, bata, dan genteng saja. Pemerintah tidak memiliki uang untuk membuat hal tersebut. Hal ini cukup aneh, mengingat pemerintah bisa menganggarkan dana yang begitu besar bagi urusan lain. Di Indonesia, contohnya gampang: anggaran pemilu dan pilkada yang menghebohkan.</p>
<h3>Tantangan untuk Researcher</h3>
<p>Untuk memecahkan masalah dana,ï¿½ tantangan bagi para engineer tentunya jelas: bagaimana membuat barang yang lebih berkualitas dengan harga yang sama, atau membuat barang berkualitas sama dengan harga yang lebih rendah.</p>
<p>Tapi mungkin yang paling penting bagi engineer Indonesia adalah membuat barang yang berkualitas tinggi dengan harga yang rendah (<em>well maybe it&#8217;s a mythical technology, but&#8230; we have to strife to invent it</em>, <em>don&#8217;t us?</em>). Harga yang rendah mungkin merupakan faktor utama supaya sebuah teknologi bisa diterapkan di Indonesia. Dengan demikian, jumlah kematian, baik karena kecelakaan maupun bencana alam, dapat diminimalisir. Demikianlah seorang engineer menghargai nyawa manusia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/06/23/people-lives/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tiba di Jepang</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/04/02/tiba-di-jepang/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/04/02/tiba-di-jepang/id/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Apr 2008 17:01:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>

		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>

		<category><![CDATA[jepang monbusho bandara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[Impresi pertama seorang Uqi ketika mendarat di Jepang. Udik... dingin... dan terkagum-kagum.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span>Sesampainya di bandara Narita di Tokyo, kami bergegas untuk menjalani prosedur imigrasi, seperti pemeriksaan paspor dan registrasi. Eh, memang dunia sempit, setelah itu saya bertemu dengan Sandy IF01. Saya diberiknya <em>onigiri</em>. <em>Onigiri</em> itu nasi kepal yang dibungkus dengan suatu daun berwarna hijau - serupa lemper. Ketika sedang makan, saya melihat Dewi-sensei sedang memakan daun hijau tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>`Lah Dewi-sensei, ngapain daun pisangnya dimakan??!` kata saya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>`Dasar,` katanya. `Ini bukan daun pisang, tapi rumput laut…`</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>`…`</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Maka setelah menyadari bahwa di-Jepang-<span style="text-decoration: underline;">tak-ada</span>-daun-pisang, kami membeli tiket bus Airport Limousine yang diperlukan untuk berpindah ke bandara Haneda (yang berada di Tokyo juga). Sambil di sana, ternyata saya juga tidak sengaja bertemu Rasyid Aqmar, alumni SMU 1 Bogor angkatan 2000. Memang benar istilah `<strong>Smunsa Bogor Everywhere</strong>`, nggak di Bandung, di Jogja, atau di Tokyo… adaa aja.. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sesudah menunggu semua anggota rombongan selesai membeli tiket, kami pamit dengan anggota Monbusho lain yang akan belajar di Tokyo. Setelah itu, kami keluar gedung untuk menuju halte bus Airport Limousine. Begitu keluar dari gedung, brrr… dingin sekali. Saya melihat thermometer, ternyata 12 derajat Celcius. Ternyata di dalam bandara lebih hangat…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Rencananya, dari Haneda kami akan naik pesawat menuju bandara Itami, Osaka. Pohon-pohon sakura terlihat begitu merekah sepanjang perjalanan kami. Bagi yang pertama kali datang ke Jepang, mereka akan terkagum-kagum melihat betapa bersihnya jalan dan lingkungan sekitarnya. Bus memasuki jalan tol. Terlihat Tokyo Bay, dan juga Tokyo Disneyland. Saya berharap mudah-mudahan bisa datang ke sana waktu liburan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Setelah sekitar 40 menit, akhirnya bus tiba di bandara Haneda. Bandara ini merupakan bandara yang lebih kecil daripada bandara Internasional Narita, karena hanya melayani penerbangan lokal se-Jepang. Setibanya di sana, kami segera turun dari bus. Oh ya, meskipun jarak tempuh bus hanya sejauh Cengkareng-Halim Perdanakusumah, harga tiketnya mahal: 3000 yen (Rp 270.000). Benar-benar memecahkan rekor tiket bus termahal yang pernah saya beli, hehehe…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kami segera menelepon beberapa anggota keluarga untuk lapor bahwa kami tiba. Setelah itu, kami sedikit jalan-jalan, dan shopping, dan lalu menaiki pesawat terakhir. Pesawat yang ini lebih padat daripada yang dari Jakarta. Di setiap kursi ada LCD yang menginformasikan lokasi pesawat di atas peta, ketinggian, serta kecepatan pesawat. Saya sendiri mendapat kursi yang berada di samping jendela.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Semakin tinggi pesawat mengudara, semakin kecil pemandangan di darat terlihat. Kereta dan mobil-mobil yang sedang berjalan jadi terlihat seperti mainan. Kapal tanker yang berada di laut menjadi sekecil semut. Dari atas, saya bisa melihat betapa padatnya kota-kota di Jepang, namun juga begitu lowongnya daerah pegunungan di Jepang.</span></p>
<h3><span id="more-106"></span><strong><span>Bertemu Teman Satu Lab</span></strong></h3>
<p class="MsoNormal"><span>Setelah terbang sekitar 1 jam, akhirnya pesawat mendarat juga. Sesampainya di bandara, teman-teman Indonesia dari PPI Osaka-Nara yang datang menjemput sudah menunggu di pintu keluar. Saya juga melihat sahabat saya, Euis-san, melambaikan tangan sambil memanggil nama saya. Ketika sedang menuju ke sana, eh tiba-tiba ada orang Jepang yang memegang karton bertuliskan `Mr. Uqi, from Hagihara Lab`. Wah, itu orang dari lab yang akan saya tempati! Saya segera beralih arah ke mereka, dan berkata `watashi wa Uqi desu! (saya Uqi)!`. Eh tiba-tiba saya tas saya langsung diambil mereka, dan langsung keluar dari bandara. Wah, saya belum ketemu sama teman-teman PPI! Ya sudah, saya cuma berikan sinyal bahwa saya tidak ikut rombongan PPI.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Di luar tidak sedingin di Tokyo (tapi tetap saja dingin). Saya segera berkenalan dengan rekan saya se-lab tersebut. Mereka adalah: Ino-sensei (associate professor), Okuyama-san (program Master tahun pertama, selanjutnya disingkat M1), dan Munekawa-san yang juga M1. Setelah berkenalan, saya, Okuyama-san, dan Munekawa-san menunggu Ino-sensei yang pergi mengambil mobil (iya saya dijemput pake mobil). Sambil menunggu, Munekawa-san memulai pembicaraan, `nihon wa dou desu ka? Samui desu ka? (gimana Jepang? Dingin?)` saya menjawab `sou nee,,, eakon o yukkuri chiisaku dekitekurenai no? (iya nih, ac-nya bisa dikecilin dikit ga?) lalu mereka berdua ketawa kecil. Garing kali yah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Setelah beberapa saat, Ino-sensei akhirnya kembali. Wohoo, mobilnya Alfa Romeo bo. Barang bawaan saya segera ditaruh ke bagasi. Setelah itu, kami berangkat. Sepanjang jalan saya masih terkagum-kagum. Entah kenapa, bunga-bunga yang mekar berwarna-warni di musim semi begitu rapi menyatu dengan tiang-tiang rel monorail raksasa yang menjulang, suasana berkendara yang tertib, serta bersihnya kota ini. `Orang muslim itu kalah sama Jepang dalam soal kebersihan`, begitu yang sering dikatakan di Indonesia.</span></p>
<h3><strong><span>Welcome to Osaka University</span></strong></h3>
<p class="MsoNormal"><span>Setelah kurang lebih 40 menit di jalan, kami memasuki gerbang Osaka University, kampus Suita. Osaka University memiliki 3 kampus yang berada di kecamatan berbeda, yakni kampus Suita, Toyonaka, dan Minoo. Kampusnya lengang, yang kemudian saya baru tahu bahwa ini sedang liburan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kami segera mencari gedung yang bernama IC Hall. Setelah ketemu, Ino-sensei segera melaporkan kedatangan saya ke sana. Berikutnya, kami ke tempat bernama Co-Op. Di sana, saya menandatangani kontrak dormitory (sambil menyerahkan 100,000 yen, huhuhu…). Setelah itu, saya menerima kupon sepeda bekas gratis. Dan terakhir, <span> </span>kami kembali ke mobil, untuk mencari Onohara Haitsu, dormitory saya.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/04/02/tiba-di-jepang/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pertama Kali Naik Pesawat</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/04/02/pertama-kali-naik-pesawat/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/04/02/pertama-kali-naik-pesawat/id/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Apr 2008 06:31:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>

		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>

		<category><![CDATA[pesawat jal monbukagakusho jepang kuliah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[Bismillahilladzi sakkhara lanaa haadza wa maa kunna lahu muqriniin.
Ketika pertama kali menginjakkan kaki di pesawat, doa di atas adalah hal yang pertama kali saya ucapkan. Diiringi doa segenap keluarga dan teman-teman, akhirnya saya diamanahi untuk belajar di Jepang via beasiswa Monbukagakusho. Bagi saya yang ndeso-dan-relatif-tidak-berprestasi ini, ini adalah kali pertama naik pesawat, sekaligus kali pertama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Bismillahilladzi sakkhara lanaa haadza wa maa kunna lahu muqriniin.</em></p>
<p>Ketika pertama kali menginjakkan kaki di pesawat, doa di atas adalah hal yang pertama kali saya ucapkan. Diiringi doa segenap keluarga dan teman-teman, akhirnya saya diamanahi untuk belajar di Jepang via beasiswa Monbukagakusho. Bagi saya yang ndeso-dan-relatif-tidak-berprestasi ini, ini adalah kali pertama naik pesawat, sekaligus kali pertama ke luar negeri. Bagaimana tidak, dalam 21 tahun hidup saya selalu tinggal di Jawa Barat. Seluruh keluarga di Jawa Barat. Sekolah dari TK sampai S1 di Jawa Barat. Mana tidak pernah lolos lomba sampai taraf internasional (nasional aja enggak).</p>
<p>Pesawat yang saya naiki malam itu adalah JAL, nomor penerbangan 716, kelas Ekonomi. Harga yang tertulis di tiket hampir $2000, jurusan Cengkareng-Narita-Itami. Pertama kali saya lihat, &#8220;wah kelas ekonomi macam apa ini harganya sampai 20 juta?&#8221;. Akan tetapi, ternyata definisi &#8220;pesawat kelas ekonomi&#8221; a la Jepang berbeda dengan &#8220;pesawat kelas ekonomi&#8221; di Indonesia. Kalau pesawat kelas ekonomi-nya Jepang, anda akan mendapatkan *lebih* dari semua yang anda butuhkan. Kalau kelas ekonomi Indonesia, mungkin anda tidak anda tidak akan mendapatkan semua yang anda butuhkan (termasuk keselamatan).</p>
<p>Sesudah sampai di bandara Narita, saya masih deg-degan pada <em>take-off</em> dan <em>landing</em>-nya pesawat. Semua persiapan harus dilakukan sesempurna mungkin. Mulai dari mengencangkan ikat pinggang, mematikan alat elektronis, merapikan meja makan, dan sebagainya. Sesudah hal tersebut disiapkan, pesawat akan bergoyang-goyang, menderu-deru kencang, menekan badan, bahkan terkadang membuat mual. Hal tersebut mengingatkan saya pada kuliah.</p>
<h3>Kuliah = Penerbangan</h3>
<p>Kuliah, seperti halnya sebuah penerbangan, memiliki saat &#8220;<em>take off</em>&#8221; dan &#8220;<em>landing</em>&#8220;-nya sendiri. Saat <em>take-off</em> kuliah adalah saat dimana kita mulai masuk sekolah. Segala sesuatu harus dipersiapkan sebaik-baiknya. Mulai dari pendaftaran, uang yang harus disediakan, dan ujian masuk. Persiapan ini tidak jarang memakan waktu yang lama, bahkan bisa bertahun-tahun. Apalagi yang belajar di luar negeri, harus ditambah belajar bahasa pula. Kalau bahasanya Melayu sih masih mending. Nah kalau bahasanya Jepang yang hurufnya ribuan, atau bahasa Arab yang satu hal bisa memiliki sampai 50 kata, atau bahasa Yunani yang hurufnya seperti rumus matematika semua? Nah lho.</p>
<p>Saat &#8220;landing&#8221; dari sekolah adalah kelulusan. Seperti halnya &#8220;take off&#8221;, persiapan landing pun harus sempurna. Pastikan persyaratan mata kuliah terpenuhi, kerjakan skripsi/tesis, revisi berkali-kali, sampai pengurusan sidang.</p>
<p>Kadang kita terguncang saat <em>take-off</em> maupun <em>landing</em> kuliah itu. Atau tertekan, bahkan menjadi mual. Kedua hal tersebut memang menyeramkan. Namun di antara <em>take-off</em> dan <em>landing</em>, kita terbang melihat awan dan lautan. Begitu halnya sewaktu kita kuliah, kita bisa terbang dan melihat samudera pengetahuan yang teramat luas. Kadang di antara samudera pengetahuan itu ada satu tempat yang begitu cantik, yang membuat kita ingin mendarat di sana. Tempat itulah spesialisasi kita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/04/02/pertama-kali-naik-pesawat/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bakti Informatika ITB: IT untuk Si Miskin</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/12/21/bakti-informatika-itb-untuk-bangsa-it-untuk-si-miskin/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/12/21/bakti-informatika-itb-untuk-bangsa-it-untuk-si-miskin/id/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Dec 2007 09:48:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>

		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[Teknologi Informasi]]></category>

		<category><![CDATA[bakti informatika ITB IT miskin kontribusi pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/2007/12/21/bakti-informatika-itb-untuk-bangsa-it-untuk-si-miskin/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Anak-anak, yang paling penting dalam programming adalah jam terbang.&#8221;
Dr. Ir. Inggriani Liem, MM., Dosen senior IF ITB
&#8220;Aku tuh mulai programming dari kelas 3 SMP.&#8221;
Ali Akbar, mahasiswa IF ITB 2003 termuda dan lulus tercepat predikat cum laude
Bayangkan ada seorang anak kelas 3 SMP mengenal bahasa Basic. Setahun kemudian ia menyentuh C dan C++. Kelas 2 SMA [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="right">&#8220;Anak-anak, yang paling penting dalam programming adalah jam terbang.&#8221;<br />
<i>Dr. Ir. Inggriani Liem, MM., Dosen senior IF ITB</i></p>
<p align="right">&#8220;Aku tuh mulai programming dari kelas 3 SMP.&#8221;<br />
<i>Ali Akbar, mahasiswa IF ITB 2003 termuda dan lulus tercepat predikat cum laude</i></p>
<p>Bayangkan ada seorang anak kelas 3 SMP mengenal bahasa Basic. Setahun kemudian ia menyentuh C dan C++. Kelas 2 SMA ia mulai belajar ilmu software engineering. Terakhir, pada kelas 3 SMA setelah lumayan makan asam garam <i>programming</i>, ia memfokuskan skillnya pada <i>image processing</i>. Menurut anda apakah anak itu bisa mandiri selepas SMA? Apakah anda ingin memiliki anak seperti itu? Dan&#8230;</p>
<p>Apakah itu mungkin?</p>
<p>Mungkin saja apabila anak itu adalah seorang anak superjenius, berasal dari strata menengah ke atas, dan salah satu keluarganya adalah IT expert. Kira-kira itu yang terbayang dalam pikiran anda. Lalu bagaimana dengan anak-anak <i>biasa</i>, ekonominya <i>biasa</i>, dan tidak punya akses IT? Rasanya mustahil. Apalagi anak-anak putus sekolah seperti pengamen jalanan cilik.</p>
<p>Memang benar, anak-anak golongan terakhir mustahil melakukan itu. Namun pernahkah anda berpikir, mengapa mereka mustahil melakukan hal itu? Apa karena mereka tidak cerdas? Rasanya tidak. Contohnya, IF telah menunjukkan bahwa mereka mampu menempa anak SMA yang awalnya buta IT, sehingga 4 tahun kemudian memiliki <i>skill</i> yang mampu membuat mereka mampu mencari nafkah. Pernyataan Ali Akbar dan Bu Inge pun diamini oleh sebagian besar kalangan IF sendiri.</p>
<p>Apa yang menyebabkan orang miskin tetap miskin, orang bodoh tetap bodoh, dan negara kita yang  tertinggal tetap tertinggal, adalah karena <i>tidak memiliki kesempatan</i>. Seandainya mereka memiliki kesempatan yang sama seperti Ali Akbar, beberapa di antara mereka mungkin bisa melewati anda di umur yang sama. Seandainya mereka memiliki kesempatan, mereka mungkin dapat meninggalkan kemiskinan mereka. India mampu bangkit dari negeri kumuh dan miskin menjadi pengekspor ekspatriat terbesar di dunia karena IT.</p>
<p>Lalu siapa yang akan memberi kesempatan pada orang miskin untuk belajar IT?</p>
<p>Keterlaluan rasanya jika civitas Informatika ITB masih melirik ke kanan-kiri mencari siapa yang melakukannya. IF ITB-lah yang memiliki tanggung jawab terbesar! Mereka dibimbing dosen-dosen terbaik. Akses informasi tanpa batas. Fasilitas berlimpah. Dan itu ditanggung uang negara. Maka dari itu, tanggung jawab untuk memberikan IT kepada si miskin tidak terletak pada bahu jurusan Teknik Informatika universitas XX yang bisa lulus tanpa kuliah&#8230;!</p>
<p>Dedikasi IF-ITB pada pendidikan IT massal untuk rakyat miskin dapat mengubah wajah kota Bandung. Dan dedikasi universitas lain pada hal ini akan mencerahkan masa depan anak-anak Indonesia.</p>
<p><b>Manfaat Mendidik IT Massal</b></p>
<p>Manfaat dari mendidik IT secara massal adalah:</p>
<ol>
<li>Membantu mahasiswa IF ITB mencapai kebahagiaan hidup. Telah banyak tokoh sukses terkenal yang mewasiatkan bahwa kebahagiaan hidup tidak terletak pada keberlimpahan harta, jabatan yang tinggi, namun sederhana: Dicintai sesama, didoakan sesama, karena bermanfaat bagi sesama.</li>
<li>Mencetak tunas-tunas IT expert yang siap diakselerasi di jenjang yang lebih tinggi. Bahkan, akselerasi tunas-tunas ini sangat mungkin meninggalkan lulusan SPMB ketika bersama memasuki IF!</li>
<li>Langkah strategis mengurangi kemiskinan dan pengangguran di kota Bandung.</li>
<li>Sarana melatih kemampuan presentasi bagi mahasiswa IF ITB. Karena motivasi belajar anak-anak tersebut akan berbanding lurus dengan kesungguhan mahasiswa untuk mengajar mereka.</li>
</ol>
<p>Tentu saja masih ada keuntungan lain seperti aspek ekonomis. Namun tidak perlu saya bahas agar mahasiswa IF ITB tidak mengotori kemurnian niat untuk berkontribusi bagi masyarakat ini.</p>
<p><b>Rancangan Implementasi</b></p>
<p>Orang-orang yang bernuansa negatif akan berkata, &#8220;Ini mungkin, tapi sulit&#8221;. Sementara orang bernuansa positif akan berkata, &#8220;Ini sulit, tapi mungkin&#8221;. Usul ini mungkin direalisasikan. Ada berbagai cara agar niat ini dapat diimplementasikan secara efektif. Salah satu usul yang saya usulkan, program ini dimasukkan ke dalam kurikulum 2008 sebagai SKS opsional. Dalam SKS ini, setiap anak IF berkewajiban untuk mengajarkan ilmunya satu kali dalam seminggu. Sementara penilaian SKS ini diukur dari sejauh mana anak yang diajar mampu memecahkan persoalan-persoalan IT. Tentu saja, aspek yang ditonjolkan dari usul di atas bukan SKS-nya, tapi aspek social responsibility-nya. Bahkan kalau perlu SKS ini dijadikan <i>trademark</i> IF ITB, untuk membuktikan bahwa alumninya selain memiliki skill juga memiliki kepekaan hati, kemampuan presentasi yang baik, serta kemauan yang keras.</p>
<p>Tentu saja ada pertanyaan-pertanyaan lain yang harus dijawab ketika program ini didesain, seperti:</p>
<ol>
<li>Siapa yang akan diajar?</li>
<li>Apa yang akan diajarkan?</li>
<li>Bagaimana agar pendidikannya kontinu?</li>
<li>Bagaimana menilai kinerja pengajar?</li>
<li>Bagaimana menilai kinerja yang diajar?</li>
<li>Bagaimana menjaga motivasi pengajar?</li>
<li>Dimana tempatnya?</li>
<li>Siapa penyedia fasilitasnya?</li>
<li>Dll.</li>
</ol>
<p>Terakhir, tujuan usul ini <i>bukanlah</i> citra IF sendiri. Biarlah masyarakat sendiri yang menilai sejauh mana keseriusan dan kepedulian IF ITB terhadap masyarakat Bandung. Usul ini berangkat dari kesadaran, bahwa di tangan civitas IF-ITB-lah nasib bangsa ini berada. Kita lah yang memiliki kekuatan untuk mencetak Ali Akbar-Ali Akbar baru. Dan yang pasti, ketika seluruh civitas dan alumni IF ITB memiliki ketulusan dan ketahanan berjuang untuk melakukan hal ini, Tuhan akan membukakan jalan seluas-luasnya.</p>
<p>Ditunggu masukannya, sahabat dan rekan IF semua&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/12/21/bakti-informatika-itb-untuk-bangsa-it-untuk-si-miskin/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bobrokkah Jaringan Informatika ITB?</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/03/05/bobrokkah-jaringan-informatika-itb/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/03/05/bobrokkah-jaringan-informatika-itb/id/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Mar 2007 02:36:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>

		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/2007/03/05/bobrokkah-jaringan-informatika-itb/</guid>
		<description><![CDATA[Selama seminggu dari 26 Februari  hingga 4 Maret 2007 kemarin, civitas IF ITB mengalami masa-masa sulit. Pasalnya, jaringan internet di IF putus sampai 3 kali, dalam jangka waktu lebih dari 4 jam tiap kali putus. Hal ini perlu dikritisi, mengingat banyak kegiatan belajar di IF ITB yang sangat bergantung pada performa jaringan. Selain itu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Selama seminggu dari 26 Februari <span> </span>hingga 4 Maret 2007 kemarin, civitas IF ITB mengalami masa-masa sulit. Pasalnya, jaringan internet di IF putus sampai 3 kali, dalam jangka waktu lebih dari 4 jam tiap kali putus. Hal ini perlu dikritisi, mengingat banyak kegiatan belajar di IF ITB yang sangat bergantung pada performa jaringan. Selain itu, reliabilitas jaringan IF ITB menunjukkan kredibilitas IF sebagai departemen Informatika terbaik se-Indonesia.</p>
<p><span id="more-29"></span></p>
<p class="MsoNormal">Jaringan telah menjadi denyut nadi kehidupan civitas IF ITB. Ada banyak kegiatan yang sangat bergantung pada jaringan IF, seperti ujian praktikum, <em>mail</em>, mencari <em>paper</em>, komunikasi <em>on-line</em> dengan relasi di luar IF, dan sebagainya. Pengguna jaringan IF pun terdiri dari berbagai lapisan status, mulai dari Bapak Dekan yang mengurusi masalah strategis di IF sampai staf dapur yang mungkin berkoordinasi antar lantai dengan menggunakan <em>Yahoo! Messenger</em>. Belum lagi ada beberapa orang yang menggantungkan mata pencahariannya dengan jaringan IF.</p>
<p class="MsoNormal">Praktis, matinya jaringan akan sangat mengganggu berbagai kegiatan di IF, termasuk kegiatan belajar. Saya jadi teringat tahun 2006, saat kami asisten kuliah Pemrograman Berorientasi Objek gagal mengadakan ujian praktikum karena masalah jaringan di seluruh Laboratorium Dasar. Imbasnya, ujian yang sudah setengah berjalan terpaksa dibatalkan. Lalu tahun 2005, pernah juga pengumpulan Tugas Besar kuliah Struktur Data diundur selama 4 hari karena kerusakan jaringan. Ada pula seorang dosen yang mengeluhkan gagal melaksanakan ujian 3 (!) kali karena masalah jaringan. Belum lagi jika <em>mail server</em> mati, saya tidak bisa berkoordinasi dengan dosen saya untuk mengurus asistensi kuliah. Coba anda bayangkan, bagaimana jika ujian yang telah anda persiapkan gagal hanya gara-gara masalah jaringan?</p>
<p class="MsoNormal">Karena itulah, masalah jaringan harus dilihat sebagai masalah genting oleh para petinggi IF. Ketika jaringan mati, mereka seharusnya dapat menginstruksikan perbaikan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Budaya <em>collegianship</em> yang menghambat pemberian kritik harus diganti dengan budaya profesional. Lebih baik lagi jika penanganan masalah jaringan dilakukan secara <em>preventif</em>, bukan <em>kuratif</em> seperti sekarang. Bahkan seharusnya ada alokasi yang memadai untuk meningkatkan SDM dan hardware jaringan IF. Jika tidak, IF ITB akan menjadi<span>  </span>juru dakwah yang tak mampu menerapkannya ajarannya pada dirinya sendiri. Karena IF ITB merupakan salah satu pelopor bidang jaringan di universitas Indonesia.</p>
<p class="MsoNormal">Kita harus menyadari bahwa kebesaran nama IF ITB di blantika keinformatikaan nasional seharusnya diiringi oleh profesionalitas yang tinggi di bidang jaringan. Jangan sampai IF ITB tenggelam oleh <strong>Binus</strong>, <strong>UI</strong>, <strong>TU Delf</strong>, atau bahkan <strong>EL-ITB (!!!) </strong>di masalah jaringan. Semoga ini bisa membuka mata bagi civitas IF ITB bahwa matinya jaringan adalah sebuah penyakit di departemen kita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/03/05/bobrokkah-jaringan-informatika-itb/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Burung Koak ITB</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/02/16/sejarah-burung-koak-itb/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/02/16/sejarah-burung-koak-itb/id/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Feb 2007 03:31:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Iseng]]></category>

		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/2007/02/16/sejarah-burung-koak-itb/</guid>
		<description><![CDATA[Bagi sudah tau, paragraf ini boleh dilewat. Jadi begini ceritanya, sekarang jalan Ganesha depan ITB itu udah jadi sarangnya burung koak. Mereka dengan sukses membentuk formasi-V dan melakukan carpet bombing setiap hari antara jam 7:00-7:30. Jadilah setiap mobil, motor, kios, bahkan orang yang lewat memiliki probabilitas tinggi dicat putih dengan cat merk &#8220;Koak&#8217;s Guano&#8221;.


Dari mana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi sudah tau, <u>paragraf ini boleh dilewat</u>. Jadi begini ceritanya, sekarang jalan Ganesha depan ITB itu udah jadi sarangnya burung koak. Mereka dengan sukses membentuk formasi-V dan melakukan <em>carpet bombing </em>setiap hari antara jam 7:00-7:30. Jadilah setiap mobil, motor, kios, bahkan orang yang lewat memiliki probabilitas tinggi dicat putih dengan cat merk &#8220;Koak&#8217;s Guano&#8221;.<br />
<span id="more-21"></span></p>
<p><a href="http://ismailfaruqi.jepang.info/wp-content/uploads/2007/02/mobil-kena-tai-burung.jpg" title="Freaking Koak’s Guano"><img src="http://ismailfaruqi.files.wordpress.com/2007/02/mobil-kena-tai-burung.thumbnail.jpg" alt="Freaking Koak’s Guano" /></a></p>
<p>Dari mana burung-burung itu berasal? Nah, kemarin itu teman saya Lucky (TL03) bercerita tentang sejarah burung koak ITB. Dulu, Kebun Binatang Taman Hewan memiliki spesies burung koak. Namun karena perkembangannya cukup pesat, maka mereka memutuskan untuk melepaskan 11 ekor burung koak. Ternyata, para &#8220;assabiqunal awwalun&#8221; (meski 11) ini memiliki tingkat adaptasi yang tinggi, terlihat dengan bersarangnya mereka di pepohonan sekitar ITB.</p>
<p>Padahal burung koak itu aslinya burung laut. Percaya atau nggak, dari hasil penelitian mereka setiap hari bolak-balik cari ikan antara Bandung-Majalaya! Oh ya, terus mereka juga tidak (belum?) mengidap flu burung. Waduh, nggak bisa dibayangkan deh apa jadinya kalau mereka mengidap. Bisa-bisa di ITB ada pembantaian massal&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/02/16/sejarah-burung-koak-itb/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Eksploitasi Asisten Informatika</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/02/16/eksploitasi-asisten-informatika/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/02/16/eksploitasi-asisten-informatika/id/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Feb 2007 03:21:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>

		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/2007/02/16/eksploitasi-asisten-informatika/</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini saya buat sebagai tanda protes akan rendahnya gaji asisten kuliah Informatika (IF) dibandingkan dengan tetangganya Elektro (EL). Di IF, honor seorang asisten hanya Rp 150.000 / 4 bulan (*_*). Sedangkan Elektro, tarifnya Rp 1500,00 / orang / jam.
Wahai kawan-kawan asisten Informatika, kalian ingin tahu berapa defisit gaji kalian dapatkan bila kalian diupah dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini saya buat sebagai tanda protes akan rendahnya gaji asisten kuliah Informatika (IF) dibandingkan dengan tetangganya Elektro (EL). Di IF, honor seorang asisten hanya <strong>Rp 150.000</strong> / 4 bulan (*_*). Sedangkan Elektro, tarifnya Rp 1500,00 / orang / jam.</p>
<p>Wahai kawan-kawan asisten Informatika, kalian ingin tahu berapa defisit gaji kalian dapatkan bila kalian diupah dengan tarif departemen IF? Ini saya berikan studi kasus, dengan judul <em>Derita Seorang Asisten Pemrograman Berorientasi Objek (PBO):</em></p>
<p>Seorang asisten kuliah PBO berinisial MIF bertugas untuk melakukan asistensi sebanyak 14 kali dalam satu semester. Setiap asistensi, sekitar 40 orang hadir. MIF harus membantu mereka selama 1 jam per pertemuan. Maka upah yang MIF dapatkan dengan tarif departemen EL:</p>
<p>Tarif Departemen EL: 14 x 1 x 40 x Rp 1500 = Rp 840.000,00</p>
<p>Tarif Departemen IF (yang flat rate tersebut) = Rp 150.000,00</p>
<p>Perbedaan:  <strong>Rp 690.000,00</strong></p>
<p><strong>Enam ratus sembilan puluh ribu rupiah </strong>kawan-kawan!!! Itu belum ditambah tarif asistensi Tugas Besar dan lain-lain! Apakah kalian ingin tetap begini?! Tentu tidak!</p>
<p>Mari kita revolusi!</p>
<p>Demonstrasi!</p>
<p>Ganyang Malaysia!</p>
<p>Selamatkan Siti Nurhaliza!</p>
<p>Naikkan gaji asisten!!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/02/16/eksploitasi-asisten-informatika/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kapan Lulusnya</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/01/08/kapan-lulusnya/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/01/08/kapan-lulusnya/id/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Jan 2007 06:47:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/2007/01/08/kapan-lulusnya/</guid>
		<description><![CDATA[Sekarang aku sudah tingkat 4, tingkat dimana pengerjaan tugas akhir dimulai di ITB. Mulai tingkat ini, aku sering ditanya oleh teman-teman yang mungkin beramah-tamah, “Kapan lulusnya?” dan seringkali kujawab dengan setengah bergurau, “Juli 2007!”. Sering juga mendengar komentar “si X sebentar lagi sidang lho!”.  Namun setelah saya pikir-pikir lagi, ternyata ada yang janggal dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sekarang aku sudah tingkat 4, tingkat dimana pengerjaan tugas akhir dimulai di ITB. Mulai tingkat ini, aku sering ditanya oleh teman-teman yang mungkin beramah-tamah, “Kapan lulusnya?” dan seringkali kujawab dengan setengah bergurau, “Juli 2007!”. Sering juga mendengar komentar “si X sebentar lagi sidang lho!”. <span> </span>Namun setelah saya pikir-pikir lagi, ternyata ada yang janggal dengan masalah kapan lulus ini. <span id="more-18"></span> Tahukah anda, bahwa saat kita terbangun di pagi sehari setelah wisuda, titel “mahasiswa” kita telah terlepas? Bahkan kita sudah mendapatkan titel baru, yakni “pengangguran”. Ya kan? Kita berada di tengah kebimbangan untuk menentukan apakah kita akan melanjutkan sekolah atau bekerja? Entah perusahaan mana yang akan mempekerjakan kita dengan layak. Jangan dikira, di masa pengangguran ini akan muncul pertanyaan dari teman-teman yang berusaha beramah-tamah tersebut, “Kapan kerjanya? Kapan kerjanya?” Di sanalah kita baru menyadari bahwa wisuda bukan tujuan akhir. Bahkan setelah bekerja pun kita akan mendapatkan pertanyaan baru lagi, “Kapan nikahnya? Kapan nikahnya?” dan seterusnya. Mungkin pertanyaan terakhir yang kita dapatkan dari teman-teman kita tersebut adalah “Kapan matinya?”…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Oleh karena itu, tenanglah, karena tidak semua orang yang cepat lulus itu sukses. Ada yang cepat lulus tapi tidak kerja-kerja, dan ada pula yang cepat lulus tapi terjebak di S2. Masalahnya bukan pada cepat lulusnya, tapi mindset personal yang menyatakan bahwa tujuan akhir adalah wisuda S1. Teman-teman yang ingin beramah-tamah juga, janganlah menanyakan hal yang halus tapi menusuk begitu, kan pertanyaannya bisa diganti “Udah sejauh mana perkembangan tugas akhirnya?” Kan begitu…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Aku tidak hendak menyarankan untuk menunda kelulusan di sini. Apa yang hendak kuutarakan adalah, tetapkan tujuan yang lebih tinggi dari sekedar wisuda!</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/01/08/kapan-lulusnya/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Beban Kuliah</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/01/08/beban-kuliah/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/01/08/beban-kuliah/id/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Jan 2007 06:44:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/2007/01/08/beban-kuliah/</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, sekarang udah libur. Sumpah, satu semester nggak terasa dilalui, semester yang penuh dengan duka (apa coba!). Semester ini benar-benar full study oriented deh. Kalau ada kegiatan lain pasti bilangnya “sibuk, ada tugas”. Tapi aku nggak mau hal ini berlangsung terus. Jadi saya mencoba bertanya kembali kepada diri saya, “benarkah aku banyak tugas?” Pertanyaan ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Alhamdulillah, sekarang udah libur. Sumpah, satu semester nggak terasa dilalui, semester yang penuh dengan duka (apa coba!). Semester ini benar-benar full study oriented deh. Kalau ada kegiatan lain pasti bilangnya “sibuk, ada tugas”. Tapi aku nggak mau hal ini berlangsung terus. Jadi saya mencoba bertanya kembali kepada diri saya, “benarkah aku banyak tugas?” Pertanyaan ini harus dijawab dengan objektif, dengan data. So, mari kita lihat seperti apa datanya.</p>
<p><span id="more-17"></span></p>
<p class="MsoNormal">Semester ini, saya mengambil mata kuliah dengan beban tugas sebagai berikut:</p>
<ol>
<li><!--[if !supportLists]--><span><span><span>       </span></span></span><!--[endif]-->Sistem Informasi Enterprise: 4 tugas</li>
<li><!--[if !supportLists]--><span><span><span>       </span></span></span><!--[endif]-->Interpretasi dan Pengolahan Citra: 10 tugas</li>
<li><!--[if !supportLists]--><span><span><span>       </span></span></span><!--[endif]-->Analisis dan Perancangan Berorientasi Objek: 5 tugas</li>
<li><!--[if !supportLists]--><span><span><span>       </span></span></span><!--[endif]-->Pemrograman Sistem: 5 tugas</li>
<li><!--[if !supportLists]--><span><span><span>       </span></span></span><!--[endif]-->Pembelajaran Mesin: 5 tugas</li>
<li><!--[if !supportLists]--><span><span><span>       </span></span></span><!--[endif]-->Kerja Praktek: 1 tugas</li>
<li><!--[if !supportLists]--><span><span><span>       </span></span></span><!--[endif]-->Tugas Akhir: 0 tugas</li>
</ol>
<p class="MsoNormal">Sehingga bila dijumlahkan, total tugas saya pada semester ini adalah 30 tugas! Artinya, dengan 14 minggu kuliah, rata-rata aku harus demo / mengumpulkan tugas sebanyak 2 kali. Kalikan dengan satu tugas yang minimal memakan waktu 3 jam, maka saya harus menyediakan waktu minimal 90 jam untuk tugas. Aku harus mengatakan minimal, karena pada kenyataanya sebagian besar tugas memakan waktu bahkan sampai 10 jam. Belum lagi ditambahkan beban eksplorasi Tugas Akhir dan 2 buah proyek yang saya ambil.</p>
<p class="MsoNormal">Tapi entah kenapa, rasanya dengan beban yang relatif paling berat se-IF ini, aku masih merasa memiliki waktu luang yang cukup? Saya menyadari, ini masih belum maksimal untuk anak IF. Masih dimungkinkan untuk penambahan tugas yang lebih berat lagi. Tapi hal ini hanya dimungkinkan apabila kita memiliki manajemen diri yang bagus. Kalau kita tidak memilikinya, jumlah tugas yang seperti ini sudah merupakan maksimal.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/01/08/beban-kuliah/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

