<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Uqi`s Life Note &#187; Teknologi Informasi</title>
	<atom:link href="http://ismailfaruqi.jepang.info/category/teknologi-informasi/id/feed/id/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ismailfaruqi.jepang.info</link>
	<description></description>
	<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 01:47:54 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
	<language>id</language>
			<item>
		<title>Kecepatan Transfer Memori CUDA</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2009/03/09/kecepatan-transfer-memori-cuda/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2009/03/09/kecepatan-transfer-memori-cuda/id/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 01:44:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[GPGPU]]></category>

		<category><![CDATA[cepat]]></category>

		<category><![CDATA[cuda]]></category>

		<category><![CDATA[transfer memori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.jepang.info/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu tahap yang wajib dilakukan ketika membangun program CUDA adalah transfer memori. Ini penting diperhatikan karena transfer memori memakan sebagian besar waktu eksekusi program. Oleh karena itu, bagaimana mempercepat transfer memori adalah teknik yang wajib dikuasai dalam membangun program CUDA.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu tahap yang wajib dilakukan ketika membangun program CUDA adalah transfer memori. Untuk program yang berjalan di bawah 1 detik, kecepatan ini penting diperhatikan karena kemungkinan transfer memori memakan sebagian besar (&gt;70%) waktu eksekusi program. Meskipun demikian, transfer memori juga penting untuk data berukuran besar di atas 512 MB. Oleh karena itu, bagaimana mempercepat transfer memori adalah teknik yang wajib dikuasai dalam membangun program CUDA.Â  Berikut ini adalah 3 tips untuk mempercepat transfer memori dalam program CUDA.</p>
<h3>Gunakan Page-locked Memory</h3>
<p>Mentransfer page-locked memory dapat mempersingkat kecepatan transfer memori secara signifikan. Pada GPU GeForce 8600M GT, mentransfer 32MB data memakan waktu 300 ms (page-free memory) vs 26 ms (page-locked memory). Dengan kata lain, kecepatan transfer memori meningkat ~14x lipat.</p>
<p>Hal yang perlu diperhatikan adalah menggunakan page-locked memory dapat menurunkan performa sistem. Namun untuk data yang berukuran kecil pada sistem dengan memori besar, sepertinya tidak ada masalah. Bahkan untuk Tesla C1060 dengan memori 4GB, sepertinya tidak ada masalah apabila memori sebesar itu di-<em>page lock</em> pada sistem dengan RAM 16GB.</p>
<p>Untuk melakukan page-lock, gunakan fungsi <em>CudaMallocHost()</em> sebagai ganti <em>malloc()</em> dan <em>CudaFreeHost()</em> sebagai ganti <em>free()</em>.</p>
<h3>Gunakan GPU yang Lebih Cepat</h3>
<p>GPU yang lebih cepat memiliki waktu transfer memori yang lebih singkat pula. Sebagai contoh perbandingan GPU Laptop GeForce 8600M GT dengan GPU Desktop GeForce 8800 GTX dalam mentransfer data sebesar 32MB. Transfer memori host -&gt; device adalah 600 MB/s vs 1,3 GB/s. Transfer memori device -&gt; host adalah 400 MB/s vs 1,3 GB/s. Transfer memori device-&gt;device adalah 11 GB/s vs 70 GB/s. Oleh karena itu, apabila mungkin gunakan GPU terbaik yang anda miliki.</p>
<h3>Lakukan Transfer Memori Sekali</h3>
<p>Sebisa mungkin, lakukan transfer memori sekali saja karena transfer memori itu &#8220;boros waktu&#8221;. Contohnya, apabila melakukan copy sebuah list dari CPU ke GPU, lebih baik menuliskan elemen listnya dalam sebuah array, lalu melakukan copy satu kali, dibandingkan melakukan copy elemen list berkali-kali.</p>
<p>Demikian pojok CUDA kali ini, happy programming dan jangan lupa koreksinya! ^^</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2009/03/09/kecepatan-transfer-memori-cuda/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bakti Informatika ITB: IT untuk Si Miskin</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/12/21/bakti-informatika-itb-untuk-bangsa-it-untuk-si-miskin/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/12/21/bakti-informatika-itb-untuk-bangsa-it-untuk-si-miskin/id/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Dec 2007 09:48:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>

		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[Teknologi Informasi]]></category>

		<category><![CDATA[bakti informatika ITB IT miskin kontribusi pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/2007/12/21/bakti-informatika-itb-untuk-bangsa-it-untuk-si-miskin/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Anak-anak, yang paling penting dalam programming adalah jam terbang.&#8221;
Dr. Ir. Inggriani Liem, MM., Dosen senior IF ITB
&#8220;Aku tuh mulai programming dari kelas 3 SMP.&#8221;
Ali Akbar, mahasiswa IF ITB 2003 termuda dan lulus tercepat predikat cum laude
Bayangkan ada seorang anak kelas 3 SMP mengenal bahasa Basic. Setahun kemudian ia menyentuh C dan C++. Kelas 2 SMA [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="right">&#8220;Anak-anak, yang paling penting dalam programming adalah jam terbang.&#8221;<br />
<i>Dr. Ir. Inggriani Liem, MM., Dosen senior IF ITB</i></p>
<p align="right">&#8220;Aku tuh mulai programming dari kelas 3 SMP.&#8221;<br />
<i>Ali Akbar, mahasiswa IF ITB 2003 termuda dan lulus tercepat predikat cum laude</i></p>
<p>Bayangkan ada seorang anak kelas 3 SMP mengenal bahasa Basic. Setahun kemudian ia menyentuh C dan C++. Kelas 2 SMA ia mulai belajar ilmu software engineering. Terakhir, pada kelas 3 SMA setelah lumayan makan asam garam <i>programming</i>, ia memfokuskan skillnya pada <i>image processing</i>. Menurut anda apakah anak itu bisa mandiri selepas SMA? Apakah anda ingin memiliki anak seperti itu? Dan&#8230;</p>
<p>Apakah itu mungkin?</p>
<p>Mungkin saja apabila anak itu adalah seorang anak superjenius, berasal dari strata menengah ke atas, dan salah satu keluarganya adalah IT expert. Kira-kira itu yang terbayang dalam pikiran anda. Lalu bagaimana dengan anak-anak <i>biasa</i>, ekonominya <i>biasa</i>, dan tidak punya akses IT? Rasanya mustahil. Apalagi anak-anak putus sekolah seperti pengamen jalanan cilik.</p>
<p>Memang benar, anak-anak golongan terakhir mustahil melakukan itu. Namun pernahkah anda berpikir, mengapa mereka mustahil melakukan hal itu? Apa karena mereka tidak cerdas? Rasanya tidak. Contohnya, IF telah menunjukkan bahwa mereka mampu menempa anak SMA yang awalnya buta IT, sehingga 4 tahun kemudian memiliki <i>skill</i> yang mampu membuat mereka mampu mencari nafkah. Pernyataan Ali Akbar dan Bu Inge pun diamini oleh sebagian besar kalangan IF sendiri.</p>
<p>Apa yang menyebabkan orang miskin tetap miskin, orang bodoh tetap bodoh, dan negara kita yang  tertinggal tetap tertinggal, adalah karena <i>tidak memiliki kesempatan</i>. Seandainya mereka memiliki kesempatan yang sama seperti Ali Akbar, beberapa di antara mereka mungkin bisa melewati anda di umur yang sama. Seandainya mereka memiliki kesempatan, mereka mungkin dapat meninggalkan kemiskinan mereka. India mampu bangkit dari negeri kumuh dan miskin menjadi pengekspor ekspatriat terbesar di dunia karena IT.</p>
<p>Lalu siapa yang akan memberi kesempatan pada orang miskin untuk belajar IT?</p>
<p>Keterlaluan rasanya jika civitas Informatika ITB masih melirik ke kanan-kiri mencari siapa yang melakukannya. IF ITB-lah yang memiliki tanggung jawab terbesar! Mereka dibimbing dosen-dosen terbaik. Akses informasi tanpa batas. Fasilitas berlimpah. Dan itu ditanggung uang negara. Maka dari itu, tanggung jawab untuk memberikan IT kepada si miskin tidak terletak pada bahu jurusan Teknik Informatika universitas XX yang bisa lulus tanpa kuliah&#8230;!</p>
<p>Dedikasi IF-ITB pada pendidikan IT massal untuk rakyat miskin dapat mengubah wajah kota Bandung. Dan dedikasi universitas lain pada hal ini akan mencerahkan masa depan anak-anak Indonesia.</p>
<p><b>Manfaat Mendidik IT Massal</b></p>
<p>Manfaat dari mendidik IT secara massal adalah:</p>
<ol>
<li>Membantu mahasiswa IF ITB mencapai kebahagiaan hidup. Telah banyak tokoh sukses terkenal yang mewasiatkan bahwa kebahagiaan hidup tidak terletak pada keberlimpahan harta, jabatan yang tinggi, namun sederhana: Dicintai sesama, didoakan sesama, karena bermanfaat bagi sesama.</li>
<li>Mencetak tunas-tunas IT expert yang siap diakselerasi di jenjang yang lebih tinggi. Bahkan, akselerasi tunas-tunas ini sangat mungkin meninggalkan lulusan SPMB ketika bersama memasuki IF!</li>
<li>Langkah strategis mengurangi kemiskinan dan pengangguran di kota Bandung.</li>
<li>Sarana melatih kemampuan presentasi bagi mahasiswa IF ITB. Karena motivasi belajar anak-anak tersebut akan berbanding lurus dengan kesungguhan mahasiswa untuk mengajar mereka.</li>
</ol>
<p>Tentu saja masih ada keuntungan lain seperti aspek ekonomis. Namun tidak perlu saya bahas agar mahasiswa IF ITB tidak mengotori kemurnian niat untuk berkontribusi bagi masyarakat ini.</p>
<p><b>Rancangan Implementasi</b></p>
<p>Orang-orang yang bernuansa negatif akan berkata, &#8220;Ini mungkin, tapi sulit&#8221;. Sementara orang bernuansa positif akan berkata, &#8220;Ini sulit, tapi mungkin&#8221;. Usul ini mungkin direalisasikan. Ada berbagai cara agar niat ini dapat diimplementasikan secara efektif. Salah satu usul yang saya usulkan, program ini dimasukkan ke dalam kurikulum 2008 sebagai SKS opsional. Dalam SKS ini, setiap anak IF berkewajiban untuk mengajarkan ilmunya satu kali dalam seminggu. Sementara penilaian SKS ini diukur dari sejauh mana anak yang diajar mampu memecahkan persoalan-persoalan IT. Tentu saja, aspek yang ditonjolkan dari usul di atas bukan SKS-nya, tapi aspek social responsibility-nya. Bahkan kalau perlu SKS ini dijadikan <i>trademark</i> IF ITB, untuk membuktikan bahwa alumninya selain memiliki skill juga memiliki kepekaan hati, kemampuan presentasi yang baik, serta kemauan yang keras.</p>
<p>Tentu saja ada pertanyaan-pertanyaan lain yang harus dijawab ketika program ini didesain, seperti:</p>
<ol>
<li>Siapa yang akan diajar?</li>
<li>Apa yang akan diajarkan?</li>
<li>Bagaimana agar pendidikannya kontinu?</li>
<li>Bagaimana menilai kinerja pengajar?</li>
<li>Bagaimana menilai kinerja yang diajar?</li>
<li>Bagaimana menjaga motivasi pengajar?</li>
<li>Dimana tempatnya?</li>
<li>Siapa penyedia fasilitasnya?</li>
<li>Dll.</li>
</ol>
<p>Terakhir, tujuan usul ini <i>bukanlah</i> citra IF sendiri. Biarlah masyarakat sendiri yang menilai sejauh mana keseriusan dan kepedulian IF ITB terhadap masyarakat Bandung. Usul ini berangkat dari kesadaran, bahwa di tangan civitas IF-ITB-lah nasib bangsa ini berada. Kita lah yang memiliki kekuatan untuk mencetak Ali Akbar-Ali Akbar baru. Dan yang pasti, ketika seluruh civitas dan alumni IF ITB memiliki ketulusan dan ketahanan berjuang untuk melakukan hal ini, Tuhan akan membukakan jalan seluas-luasnya.</p>
<p>Ditunggu masukannya, sahabat dan rekan IF semua&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/12/21/bakti-informatika-itb-untuk-bangsa-it-untuk-si-miskin/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadikan Teknologi Informasi dan Komunikasi sebagai Industri Strategis Penunjang Pertahanan</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/07/23/menjadikan-teknologi-informasi-dan-komunikasi-sebagai-industri-strategis-penunjang-pertahanan/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/07/23/menjadikan-teknologi-informasi-dan-komunikasi-sebagai-industri-strategis-penunjang-pertahanan/id/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jul 2007 04:34:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Teknologi Informasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/2007/07/23/menjadikan-teknologi-informasi-dan-komunikasi-sebagai-industri-strategis-penunjang-pertahanan/</guid>
		<description><![CDATA[Kesepakatan Presiden SBY dan B.J. Habibie baru-baru ini untuk merevitalisasi industri strategis Indonesia membawa harapan cerah bagi masa depan bangsa Indonesia. Pertemuan ini seharusnya dapat menjadi kesempatan besar untuk memasukkan sebuah bidang penting ke dalam industri strategis, yakni teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Bidang ini telah menjadi penyangga kehidupan umat manusia di zaman modern. Sadar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kesepakatan Presiden SBY dan B.J. Habibie baru-baru ini untuk merevitalisasi industri strategis Indonesia membawa harapan cerah bagi masa depan bangsa Indonesia. Pertemuan ini seharusnya dapat menjadi kesempatan besar untuk memasukkan sebuah bidang penting ke dalam industri strategis, yakni teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Bidang ini telah menjadi penyangga kehidupan umat manusia di zaman modern. Sadar atau tidak sadar, kehidupan ini telah menjadi semakin praktis berkat teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Bahkan TIK adalah jantung yang mensuplai energi bagi jalannya industri seperti perbankan, telekomunikasi, dan manufaktur. Melihat fenomena tersebut, tidak mengherankan jika banyak negara menjadikan TIK sebagai industri unggulan dalam rencana pembangunan mereka. Bahkan negara-negara yang bangkit di awal abad 21 seperti India dan China memiliki portfolio industri TIK yang impresif. Negara-negara tersebut sadar, bahwa TIK dapat melesatkan pertumbuhan ekonomi mereka. TIK adalah industri masa depan, sehingga penguasaan TIK merupakan langkah strategis untuk menjadi negara yang berpengaruh di masa depan.</p>
<p><span id="more-92"></span>Salah satu bidang yang sangat bergantung pada penguasaan TIK adalah pertahanan. Dengan TIK, peralatan militer hari ini menjadi jauh lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan saat Perang Dunia II. Contoh peran intensif TIK dalam militer dapat dilihat pada <em>next generation weaponry</em> yang sedang dibangun negara-negara maju saat ini. Pada <em>3<sup>rd</sup> Conference Examines Role of ICT in Military Transformation 2006</em>, NATO mengumumkan rencananya untuk menambahkan kapabilitas jaringan (<em>Network Enabled Capability</em>) pada angkatan bersenjata negara-negara anggotanya. Diharapkan dengan kapabilitas ini, seluruh sensor, pengambil keputusan, sistem persenjataan, termasuk militer multinasional, pihak pemerintah serta non pemerintah dapat terhubung secara penuh dalam sebuah lingkungan perencanaan, penaksiran, dan pelaksanaan yang terintegrasi.</p>
<p>Memang bidang pertahanan membutuhkan seluruh <em>state-of-the-art</em> dari TIK. Bahkan uniknya, banyak <em>world-class discoveries</em> dalam TIK seperti internet, dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan militer sebelum disebar pada khalayak. Adalah sebuah fakta, bahwa keunggulan komparatif angkatan bersenjata sebuah negara berbanding lurus dengan kemodernan alat utama sistem pertahanan (alutsista)-nya. Sementara kemodernan alutsista berbanding lurus dengan penguasaan TIK. Oleh karena itu, mengakselerasi pertumbuhan industri TIK sangat penting untuk meningkatkan keunggulan komparatif angkatan bersenjata negara ini. Dan salah satu cara untuk mengakselerasinya adalah dengan menjadikannya sebagai industri strategis negara.</p>
<p>Saat ini, posisi Indonesia sendiri dalam bidang TIK memang tertinggal dari negara-negara Uni Eropa, Jepang, apalagi Amerika, China, dan India. Untungnya, TIK memiliki keunikan tersendiri dimana sebagian besar industri ini bersifat <em>brain-based</em>. Artinya, walau hanya dengan modal yang sedikit, seseorang sudah bisa melakukan proses pertambahan nilai. Sifat inilah yang memungkinkan TIK dapat ditingkatkan dengan biaya yang lebih kecil dibanding dengan industri lain.</p>
<h1>Permasalahan Pertahanan Indonesia</h1>
<p>Permasalahan yang selama ini dianggap menghambat pembangunan pertahanan Indonesia adalah kecilnya dana yang disediakan pemerintah. Memang, statistik menunjukkan anggaran pertahanan Indonesia jauh di bawah negara lain. Sebagai contoh, pada tahun 2005 Amerika yang sering digunakan untuk menginjak dan mengintimidasi negara lain memiliki pengeluaran militer hampir 43 kali lipat milik Indonesia (www,globalissues.com). Atau jangankan dibandingkan Amerika, dengan sesama negara Asia Tenggara saja, perbandingan anggaran pertahanan / PDB Indonesia pada tahun 2005 menempati posisi kedua terbawah setelah Filipina (J. Danang Widoyoko, <em>Menyoal Anggaran Pertahanan</em>).</p>
<p>Tapi benarkah permasalahan militer ada pada rendahnya anggaran? Apakah dengan menambah jumlah anggaran, persoalan militer akan selesai? Hal ini penting dijawab sebelum mengalokasikan APBN untuk pertahanan. Memang secara pragmatis, dengan bertambahnya anggaran pertahanan maka jumlah alutsista akan semakin banyak. Namun jika ditilik dari penguasaan teknologi bangsa ini sekarang, bertambahnya anggaran militer Indonesia malah akan semakin menambah ketergantungan Indonesia pada negara pengekspor senjata. Habibie pernah mendeskripsikan dengan contoh pembelian pesawat Boeing yang berharga US$ 100 juta untuk kepentingan militer. Dalam 20 tahun ke depan, pesawat ini akan membutuhkan biaya perawatan yang besarnya 2-3 kali lipat biaya pembeliannya. Jadi, pembelian alutsista dengan teknologi maju dari negara lain bagai buah simalakama: entah akan semakin menguras sumber daya di kemudian hari untuk perawatan, atau alutsista tersebut menjadi tidak dapat dipakai karena embargo atau kekurangan dana. Dan satu hal yang tidak boleh dilupakan, uang yang dikeluarkan negara ini justru akan digunakan negara-negara maju untuk semakin memperkuat militer mereka.</p>
<p>Maka kita lihat bahwa kemandirian teknologi-lah yang sebenarnya menjadi masalah utama pertahanan Indonesia. Dalam konteks TIK, seharusnya Indonesia dapat menjadi bangsa yang mandiri dalam bidang TIK. Akan tetapi, penguasaan teknologi memiliki sejarah erat dengan umur industrinya. Artinya, bila sebuah industri berumur 200 tahun, maka negara tersebut akan memiliki keunggulan yang jelas dibanding negara yang baru 2 tahun menguasainya. TIK sendiri adalah ilmu yang baru berusia 40 tahun. Oleh karena itu, apabila akuisisi TIK  dilakukan secepat mungkin, Indonesia tidak akan terlalu tertinggal dengan bangsa lain. Bahkan Indonesia masih bisa mengejar ketertinggalannya dan menjadi pelopor, seperti saat negara ini memutuskan untuk menjadi negara ketiga di dunia yang memiliki satelit dengan Palapa.</p>
<h1>Langkah Menjadikan TIK sebagai Industri Strategis</h1>
<p>Untuk meraih keunggulan komparatif itu, TIK harus dimasukkan sebagai salah satu industri strategis. Sebuah industri layak dijadikan industri strategis karena komoditinya memiliki 3 sifat, yakni <em>export oriented</em>, <em>import-substitutable</em>, dan <em>capital raising</em>. Artinya, komoditi tersebut harus bersifat mudah diekspor, dapat menggantikan barang import yang lebih mahal, serta dapat menaikkan nilai dari pengguna komoditi tersebut. Tantangan saat ini adalah bagaimana caranya agar industri TIK  di Indonesia memiliki ketiga sifat tersebut. Tiga buah langkah dapat dilakukan, yakni akuisisi teknologi maju, meningkatkan kecintaan terhadap produk lokal, serta <em>technology sharing</em> dengan bangsa lain.</p>
<p>Langkah pertama adalah akuisisi teknologi maju. Yang dimaksud dengan teknologi maju adalah teknologi yang dimiliki oleh pihak yang sangat terbatas, entah karena memang penguasaannya yang sulit dan membutuhkan SDM tingkat tinggi atau terhambat oleh masalah paten dan lisensi. Apabila industri TIK Indonesia dapat memproduksi teknologi maju, negara lain harus mengekspornya dari negeri kita.</p>
<p>Langkah kedua adalah meningkatkan kecintaan terhadap produk dalam negeri. Ini penting, karena sasaran langkah ini memang militer Indonesia. Sayang, konsumen TIK di Indonesia sudah terlanjur mencintai produk asing. Maka sudah saatnya kecintaan terhadap produk TIK dalam negeri dipupuk. Kuncinya adalah kepercayaan dan kerjasama dari pihak produsen dan konsumen. Produsen harus membuktikan bahwa dirinya sebagai bangsa Indonesia mampu membuat produk TIK yang berkualitas dan teruji, dukungan yang baik, serta mudah dipakai. Sementara itu, konsumen harus memberikan kesempatan kepada produsen lokal, meski harganya lebih mahal daripada produk murah buatan Cina itu.</p>
<p>Langkah ketiga, kita harus giat dalam melakukan <em>technology sharing</em>. Patut disadari, bahwa Indonesia memiilki jumlah doktor per kepala keluarga yang sangat rendah. Artinya, jumlah para ilmuwan dan peneliti Indonesia tidak sebanding melawan jumlah bangsa lain. Padahal, lebih banyak kepala sebanding dengan jumlah inovasi yang dapat dihasilkan. Oleh karenanya, kerjasama strategis dengan bangsa lain dalam bidang TIK patut dijalin, sehingga perkembangan industrinya dapat terakselerasi.</p>
<p>Terakhir, pemimpin bangsa ini harus mewaspadai pragmatisme. Penguasaan TIK sampai taraf teknologi maju bukanlah persoalan yang dapat diselesaikan hanya dalam satu dekade, akan tetapi mungkin memakan sampai 20-30 tahun. Jika dilihat secara pragmatis, katakanlah satu sampai lima tahun, mungkin saja TIK akan menjadi industri yang tidak membawa laba, baik laba ekonomi maupun teknologi. Padahal walaupun terlihat rugi, keunggulan teknologi yang akan diraih di masa depan bersifat abadi, dan akan menutupi kerugian ekonomi. Keunggulan teknologi 20 tahun pasti akan menutupi kerugian ekonomi selama lima tahun. Oleh karenanya, langkah ini harus dikomando oleh pemimpin yang bervisi jauh ke depan. Karena di tangannya, TIK sebagai industri strategis akan membawa manfaat bagi bangsa ini.</p>
<p align="right"><strong>Muhammad Ismail Faruqi</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/07/23/menjadikan-teknologi-informasi-dan-komunikasi-sebagai-industri-strategis-penunjang-pertahanan/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>CPU vs GPU</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/05/26/cpu-vs-gpu/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/05/26/cpu-vs-gpu/id/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 May 2007 13:09:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[GPGPU]]></category>

		<category><![CDATA[Iseng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/2007/05/26/cpu-vs-gpu/</guid>
		<description><![CDATA[Akhir-akhir ini saya aktif mempelajari GPGPU (General Purpose Computation on Graphics Processing Unit). Dari artinya sudah jelas: Bidang ini mempelajari bagaimana memindahkan komputasi yang sarat dengan perhitungan dari CPU ke GPU. GPU sendiri adalah istilah baru untuk VGA card, dinamai begitu karena ia melakukan komputasi secara terpisah dari CPU. Nah, saya mau bagi-bagi hasil eksplorasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akhir-akhir ini saya aktif mempelajari GPGPU (<em>General Purpose Computation on Graphics Processing Unit</em>). Dari artinya sudah jelas: Bidang ini mempelajari bagaimana memindahkan komputasi yang sarat dengan perhitungan dari CPU ke GPU. GPU sendiri adalah istilah baru untuk VGA card, dinamai begitu karena ia melakukan komputasi secara terpisah dari CPU. Nah, saya mau bagi-bagi hasil eksplorasi saya ke teman-teman semua (iseng mode, <strong>ON!</strong>).</p>
<p><span id="more-46"></span><strong>Background</strong><br />
GPU mengalami peningkatan performa yang luar biasa. Floating Point Operations per Second (FLOPS)-nya tumbuh 1,5x lebih cepat dibanding hukum Moore. Hari ini, sebuah 8800GTX memiliki peak performance sebesar 300 GFLOPS, 6x lebih besar dibandingkan prosesor Core 2 Duo dengan harga yang sama. Tergiur dengan besarnya performa yang ditawarkan dibanding harga yang harus dikeluarkan (FLOPS / $), para peneliti mulai mencari cara untuk mengakselerasi komputasi dengan memindahkan eksekusi program dari CPU ke GPU.</p>
<p align="center"><a href="http://ismailfaruqi.jepang.info/wp-content/uploads/2007/05/9077.jpg" title="8800 GTX"><img src="http://ismailfaruqi.files.wordpress.com/2007/05/9077.thumbnail.jpg" alt="8800 GTX" /></a><br />
<strong>Gambar 1</strong>: Sebuah 8800 GTX. <em>Need a beefy power supply to run</em>.</p>
<p><strong>Persamaan CPU dan GPU</strong><br />
Kalau sekarang ya sama-sama <em>multi-core</em>, sehingga bisa dipakai untuk pemrograman paralel.</p>
<p align="center"> <a href="http://ismailfaruqi.jepang.info/wp-content/uploads/2007/05/presler.jpg" title="Core 2 Duo"><img src="http://ismailfaruqi.files.wordpress.com/2007/05/presler.thumbnail.jpg" alt="Core 2 Duo" /></a><br />
<strong>Gambar 2</strong>: Sebuah  Core 2 Duo. Kelihatan ada dua prosesor kan?</p>
<p align="left"><strong>Perbedaan CPU dan GPU</strong></p>
<ol>
<li>Jumlah <em>core</em>-nya. CPU itu (yang banyak beredar) baru <em>dual core </em>atau <em>quad core, </em>sedangkan GPU sekarang udah 48 <em>core </em>(ATI X1950XTX) atau 128 <em>core </em>(nVidia 8800 GTX)</li>
<li>CPU itu setiap core-nya bisa ngejalanin <u>program yang berbeda</u>. Sedangkan GPU, walau punya banyak <em>core</em>, hanya dapat menjalankan <u>program yang sama</u>.</li>
<li>Paradigma pemrograman paralel pada CPU dan GPU berbeda. CPU menggunakan <em>instruction-based parallel programming</em>, sedangkan GPU menggunakan <em>data-based parallel programming</em>.</li>
</ol>
<p align="center"><a href="http://ismailfaruqi.jepang.info/wp-content/uploads/2007/05/000000f000396059.jpg" title="G80’s Multiprocessor"><img src="http://ismailfaruqi.jepang.info/wp-content/uploads/2007/05/000000f000396059.jpg" alt="G80’s Multiprocessor" /></a></p>
<p align="center"><strong>Gambar 3</strong>: Arsitektur 8800GTX. Yang warna ijo itu prosesornya. Banyak kan?</p>
<p><a href="http://ismailfaruqi.jepang.info/wp-content/uploads/2007/05/000000f000396059.jpg" title="G80’s Multiprocessor"></a><strong>Conclusion</strong></p>
<ol>
<li> Saya melihat ada persamaan antara processing unit dan jenis kelamin (what??). CPU itu lebih bersifat &#8220;wanita&#8221;, karena ia bisa mengerjakan jenis pekerjaan yang berbeda dalam satu waktu. Sementara GPU lebih bersifat &#8220;pria&#8221;, karena ia hanya dapat mengerjakan satu jenis pekerjaan dalam satu waktu (meskipun jauh lebih cepat dari CPU).</li>
<li>Walaupun kapasitas GPU untuk mengerjakan sesuatu sebagai &#8220;pria&#8221; jauh lebih tinggi daripada CPU, tetap saja CPU dibutuhkan untuk mengontrol GPU. Ini membenarkan ungkapan &#8220;wanita dijajah pria&#8230;&#8221;</li>
</ol>
<p><strong>Further Work</strong><br />
Hmm, apa ya?</p>
<ol>
<li>Melanjutkan eksplorasi lebih jauh.</li>
<li>Mengirimkan saran kepada ahli bahasa Arab, Jerman, Prancis dll, bahwa jenis kelamin CPU adalah &#8220;wanita&#8221; dan jenis kelamin GPU adalah &#8220;pria&#8221;. Bahasa-bahasa tersebut kan semua kata bendanya punya jenis kelamin, iya tidak?</li>
<li>Mengkaji lagi definisi &#8220;pria&#8221; dan &#8220;wanita&#8221;. Populernya konfigurasi SLI dan Crossfire (2 GPU dipasangkan dengan 1 CPU dalam satu motherboard yang sama untuk meningkatkan performa) berbahaya, karena bisa ditafsirkan &#8220;2 pria dan 1 wanita dalam rumah yang sama untuk meningkatkan performa&#8221;, hiii&#8230;
<p align="center"><a href="http://ismailfaruqi.jepang.info/wp-content/uploads/2007/05/quad-sli.jpg" title="SLI"><img src="http://ismailfaruqi.files.wordpress.com/2007/05/quad-sli.thumbnail.jpg" alt="SLI" /><br />
</a><strong>Gambar 4</strong>: Inilah konfigurasi SLI yang bermasalah itu. Lihat bahwa ada 2 GPU, dan 1 CPU dalam 1 mainboard.</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://ismailfaruqi.jepang.info/wp-content/uploads/2007/05/gigabytega8nsliqualroyal-050920-06.jpg" title="Quad SLI"><img src="http://ismailfaruqi.files.wordpress.com/2007/05/gigabytega8nsliqualroyal-050920-06.thumbnail.jpg" alt="Quad SLI" /></a><br />
<strong>Gambar 5</strong>: OMG, <u><strong>Quad-SLI</strong></u>! Definisi pria-wanita untuk GPU dan CPU benar2 harus dikaji lagi.</li>
</ol>
<p>Nggak worthed banget ya hasil eksplorasinya? Maklum lagi bersimbah error dari pagi ampe sore, udah meracau pun nggak tau lagi mesti gimana&#8230; <img src='http://ismailfaruqi.jepang.info/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/05/26/cpu-vs-gpu/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Merevisi Kebijakan TIK Indonesia</title>
		<link>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/02/16/merevisi-kebijakan-tik-indonesia/id/</link>
		<comments>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/02/16/merevisi-kebijakan-tik-indonesia/id/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Feb 2007 03:34:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Teknologi Informasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailfaruqi.wordpress.com/2007/02/16/merevisi-kebijakan-tik-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA[Dengan karakteristiknya yang menghilangkan batas-batas regional, saat ini banyak negara yang tiba-tiba muncul di perekonomian dunia sebagai kekuatan baru dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sebagai pemicunya. Contoh nyata di kawasan Asia adalah Cina, India, dan Korea. Seluruh negara tersebut mampu meningkatkan pendapatan sektor TIK sebesar lebih dari 100 persen setiap 5 tahun selama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Dengan karakteristiknya yang menghilangkan batas-batas regional, saat ini banyak negara yang tiba-tiba muncul di perekonomian dunia sebagai kekuatan baru dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sebagai pemicunya. Contoh nyata di kawasan Asia adalah Cina, India, dan Korea. Seluruh negara tersebut mampu meningkatkan pendapatan sektor TIK sebesar lebih dari 100 persen setiap 5 tahun selama 10 tahun terakhir (IDC 2005). Bahkan ekspor TIK China pada tahun 2004 melebihi ekspor TIK Amerika Serikat, sehingga mungkin tidak berlebihan bila abad ini disebut dengan ‘Abad China’. Bagaimana dengan Indonesia? Seperti biasa, bangsa ini ‘ketinggalan’ dalam memprediksi masa depan dan baru saja mulai memberikan perhatian khusus dalam bidang TIK beberapa tahun belakangan.</p>
<p><span id="more-22"></span></p>
<p class="MsoNormal"> TIK sangat potensial dijadikan sektor unggulan di Indonesia, karena Indonesia merupakan negara yang memiliki beribu-ribu pulau yang menyulitkan diseminasi informasi dengan cepat. Padahal, pada saat ini informasi merupakan salah satu intangible asset yang memainkan peranan penting dalam seluruh sendi kehidupan. Di sini, TIK memainkan peranannya, yakni menghilangkan penghalang geografis (geographical barrier) dan mendukung pemerataan pembangunan di setiap daerah. Oleh karena itu, apabila Indonesia tidak memiliki perhatian khusus terhadap TIK, tentu saja Indonesia akan tertinggal dibandingkan negara-negara lain.</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">Ada dua pendekatan dalam meningkatkan bidang TIK. Pertama, menjadikan TIK sebagai sektor produksi seperti Costa Rica. Negara ini menjadi tempat produksi sepertiga dari <em>chip</em> Intel di seluruh dunia. Sejak saat itu, ekspor negara tersebut melonjak sebesar 20%, suatu nilai yang tidak pernah tercapai sebelumnya oleh komoditas utama mereka, kopi. Kedua, menjadikan TIK sebagai pemicu pembangunan, seperti Malaysia. Malaysia membangun <em>Multimedia Super Corridor</em> (MSC) dengan harapan menarik investor nasional dan internasional dan membuat <em>spillover effect</em> pada<span>  </span>sektor ekonomi yang lain. Salah satu hasilnya, Malaysia dapat meningkatkan pasar pengguna telekomunikasi sebesar 25% dalam waktu 5 tahun. Dengan salah satu dari dua pendekatan itulah visi dan misi TIK Indonesia dirancang. Fokus dengan salah satu pendekatan memungkinkan pembangunan rencana strategis yang lebih terarah.</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">TIK memiliki faktor-faktor pendukung yang saling komplementer. Artinya, terhambatnya kemajuan di satu sektor dapat memberikan efek negatif berantai pada kemajuan sektor lainnya. Selain itu, kemajuan setiap faktor menuntut kemajuan faktor yang lain pula. Faktor-faktor pendukung TIK adalah infrastruktur, SDM, kebijakan, finansial, serta konten dan aplikasi. Maksudnya, agar TIK dapat berkembang dengan pesat, pertama dibutuhkan infrastruktur yang memungkinkan akses informasi di manapun dengan kecepatan yang mencukupi. Kedua, faktor SDM menuntut ketersediaan <em>human brain</em> yang menguasai teknologi tinggi. Ketiga, faktor kebijakan menuntut adanya kebijakan berskala makro dan mikro yang berpihak pada pengembangan TIK jangka panjang. Keempat, faktor finansial membutuhkan adanya sikap positif dari bank dan lembaga keuangan lain untuk menyokong industri TIK. Kelima, faktor konten dan aplikasi menuntut adanya informasi yang disampai pada orang, tempat, dan waktu yang tepat serta ketersediaan aplikasi untuk menyampaikan konten tersebut dengan nyaman pada penggunanya.</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">Kesalahan Indonesia adalah melakukan pembangunan pada satu sektor secara parsial, dan berharap sektor lain akan maju dengan sendirinya. Hal inilah yang menyebabkan perkembangan market TIK Indonesia tertatih-tatih, baik dari segi <em>supply</em> maupun <em>demand</em>. Contohnya, dari segi infrastruktur Indonesia masih belum menyediakan akses terhadap informasi di mana saja yang terjangkau. Akses informasi di mana saja baru dimungkinkan dengan telepon seluler yang memiliki tarif yang mahal. Dari segi SDM, juga masih belum dapat meningkatkan kualitas SDM Indonesia dan tingkat penerimaan terhadap teknologi. Adapun SDM TIK kadang-kadang bekerja di sektor lain, sehingga mengurangi tingkat pemenuhan SDM TIK. Selain itu, apresiasi negara yang menempatkan para ilmuwan dan insinyur sebagai orang berpendapatan rendah telah melahirkan tragedi <em>brain drain </em>yang memilukan dan masih berlanjut hingga hari ini. Dari faktor finansial, saat ini bank enggan memberikan kredit bagi vendor software lokal, karena hingga saat ini Indonesia belum membuat pemetaan pasar TIK berskala nasional dengan <em>granularity</em> yang halus. Hal ini menyebabkan bank tidak dapat menaksir resiko yang dihadapi di sektor TIK. Terakhir, dari faktor kebijakan, Indonesia juga masih belum dapat memberikan kebijakan yang mendukung baik TIK maupun faktor-faktornya. Mahalnya pajak komponen, kompleksnya birokrasi, dan keberpihakan pada kepentingan pragmatis merupakan cermin buruknya kebijakan negeri ini untuk TIK. Di China, kompleksnya birokrasi adalah untuk proteksi bisnis dan pemicu. Sedangkan di Indonesia, kompleksnya birokrasi hanya untuk melanggengkan tradisi ‘kalau bisa sulit kenapa dipermudah’.</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">Dengan keadaan tersebut, pemerintah khususnya Depkominfo seharusnya merevisi ulang visi dan misi pengembangan TIK, yakni dengan menentukan pendekatan apa yang ingin diterapkan pada sektor TIK di Indonesia, kemudian membuat rencana strategis yang mempertimbangkan kelima faktor di atas. Minimal dengan adanya rencana yang matang dan berdasarkan studi komprehensif, implementasi di lapangan dapat dilakukan secara efisien.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailfaruqi.jepang.info/2007/02/16/merevisi-kebijakan-tik-indonesia/id/feed/id/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

